Penulis : Ezra Adelia Sinaga
Berada di posisi serbasalah kini menjadi makanan sehari-hari bagi generasi muda. Ketika seseorang mencoba bersikap tegas dalam lingkungan sosial, label sombong sering kali melekat tanpa alasan yang jelas. Sebaliknya, saat berusaha tampil ramah, sikap tersebut justru dinilai terlalu polos sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Tekanan psikologis akibat standar ganda di masyarakat inilah yang mendasari lahirnya lagu Either Way milik grup idola asal Korea Selatan, IVE.
Dirilis pada 2023 di bawah mini album I’VE MINE, Either Way menjadi semacam pernyataan sikap dari IVE. Grup yang dikenal lewat musik pop dansa yang energik namun anggun ini justru tampil dalam balutan synth-pop yang lambat, sepi, dan minimalis. Tidak ada dentuman beat yang ramai, yang ada hanyalah melodi sunyi yang memaksa pendengar untuk benar-benar mendengarkan liriknya.
Melalui melodi yang cenderung sunyi tersebut, fokus pendengar diarahkan sepenuhnya untuk memahami isi lirik pembuka yang ditulis secara lugas:
누가 내 말투가 재수 없대, 잘난 척만 한대 또 누구는 내가 너무 착하대, 바보같을정도래
Nuga nae maltuga jaesueopdae, jallan cheongman handae, tto nuguneun naega neomu chakadae, babogateul jeongdorae — Seseorang bilang caraku bicara menyebalkan, katanya aku hanya pamer Yang lain bilang aku terlalu baik, sampai terlihat benci atau bodoh.
Dua kalimat, dua penilaian yang berlawanan. Keduanya menyerang dari arah yang berbeda, tapi sama-sama menyakitkan. Penilaian publik sering kali kontradiktif saat mendefinisikan karakter seseorang. Banyak anak muda terjebak dalam kecemasan mendalam hanya karena berusaha menyelaraskan diri dengan isi kepala orang lain. Karakter asli sengaja diredam demi mengejar pengakua lingkungan sekitar. Lagu ini tidak hadir sebagai ruang untuk meratapi keputusasaan tersebut.
Di sinilah Either Way menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar lirik K-pop biasa. Penilaian publik kerap bersifat kontradiktif dan bagi banyak anak muda, kontradiksi itulah yang justru paling melelahkan. Bukan karena mereka tidak tahu siapa diri mereka, tapi karena mereka terus-menerus mencoba menyesuaikan diri dengan ekspektasi yang berubah-ubah dan tidak pernah cukup. Akibatnya, karakter asli perlahan diredam. Bukan karena pilihan, tapi karena kelelahan.
Pesan yang ingin disampaikan justru berupa validasi emosional, bahwa disalahpahami oleh dunia luar merupakan bagian dari proses pendewasaan yang lumrah terjadi.
사랑과 미움, 모두 다 가지면 되는 거야 하나만 고를 필요 없는 거야 Either way, we’re good
Salang-gwa mium, modu da gajimyeon doeneun geoya hanaman goleul pil-yo eobsneun geoya Either way, we’re good — Cinta dan benci, kau bisa memiliki keduanya, tak perlu memilih salah satu Bagaimanapun, kita baik-baik saja.
Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari dua respons yang saling bertolak belakang: penerimaan dan penolakan. Melalui bait di atas, IVE menekankan pentingnya konsep penerimaan diri secara utuh tanpa syarat. Kita tidak memiliki utang penjelasan apa pun untuk meluruskan setiap rumor, gosip, atau asumsi keliru yang beredar di luar sana. Kalimat either way, we’re good merupakan penegasan bahwa opini publik tidak memiliki hak untuk mengatur standar kebahagiaan personal.
Pesan yang sederhana tapi tidak remeh, kita tidak punya utang penjelasan kepada siapa pun. Tidak untuk setiap rumor, tidak untuk setiap asumsi, tidak untuk setiap cerita yang dibangun orang lain tentang kita.
Tekanan semacam ini sangat terasa di lingkungan kampus. Persaingan akademik yang ketat, sulitnya untuk beradaptasi pertemanan baru, dan ekspektasi keluarga yang tidak pernah berhenti. Semuanya datang secara bersamaan. Standar ideal yang dipasang oleh lingkungan sekitar kerap mengikis rasa percaya diri mahasiswa karena merasa tidak pernah cukup baik. Melalui lagu ini, mahasiswa diingatkan kembali bahwa harga diri yang berharga tidak sepatutnya diukur menggunakan sudut pandang orang lain yang sempit.
Eksplorasi isu kesehatan mental dan kecemasan sosial membuat Either Way masih mempertahankan relevansinya bagi anak muda yang sedang mencari jati diri. Karya ini berhasil bertransformasi menjadi ruang aman yang sangat suportif bagi para pendengarnya. Kesadaran penting yang ditinggalkan oleh lagu ini adalah tidak apa-apa jika tidak disukai oleh semua orang. Kendali penuh atas jalan hidup ini seutuhnya berada di tangan diri sendiri, bukan pada potongan cerita orang lain.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment