Home Tempat Fenomena Dieng Bersalju Mengenal Embun Upas di Dataran Tinggi Jawa Tengah
Tempat

Fenomena Dieng Bersalju Mengenal Embun Upas di Dataran Tinggi Jawa Tengah

Share

Oleh : Nur Padilah Ramadani

Fenomena unik di Indonesia terdapat di Dataran Tinggi Dieng yang berada di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan suhu udara paling rendah di Indonesia. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat setelah kawasan Dataran Tinggi Dieng diselimuti lapisan putih yang menyerupai salju. Peristiwa yang terjadi pada musim kemarau ini bukanlah turunnya salju seperti di negara beriklim subtropis, melainkan fenomena alam berupa embun beku atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas.

Kawasan Dieng berada di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara dengan ketinggian rata-rata sekitar 2.000 mdpl. Suhu udara di kawasan ini berkisar 15–20°C pada siang hari dan sekitar 10°C pada malam hari. Bahkan, pada musim kemarau suhu dapat mencapai 0°C pada pagi hari sehingga memunculkan embun beku atau embun upas (Hidayah et al., 2022). Pada periode tertentu, terutama saat puncak musim kemarau, suhu udara di Dieng dapat mengalami penurunan hingga mendekati titik beku. Kondisi tersebut menyebabkan uap air di permukaan tanah maupun tumbuhan berubah menjadi kristal-kristal es tipis yang terlihat seperti lapisan salju.

Masyarakat Dieng telah mengenal fenomena embun upas sejak lama. Bagi warga setempat, munculnya lapisan es menjadi tanda bahwa suhu udara mengalami penurunan yang cukup drastis. Fenomena ini juga menjadi perhatian para petani karena dapat memberikan dampak terhadap tanaman pertanian.

Tanaman yang berada di lahan terbuka dapat mengalami kerusakan akibat suhu yang terlalu rendah. Salah satu tanaman yang sering terdampak adalah kentang, yang menjadi salah satu komoditas utama pertanian masyarakat Dieng. Embun beku dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tanaman sehingga berpotensi menurunkan hasil panen. Kondisi tersebut dapat merugikan perekonomian masyarakat Dieng. Oleh karena itu, para petani perlu menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan perubahan suhu yang lebih ekstrem karena perubahan suhu dapat memengaruhi musim tanam dan masa pertumbuhan tanaman.

Namun, fenomena embun upas juga menambah keindahan alam Dieng sehingga menjadi daya tarik wisata. Suhu yang dingin menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Ketika lapisan es muncul, sejumlah wisatawan mengabadikan fenomena tersebut melalui foto dan video yang kemudian dibagikan di berbagai platform digital. Kehadiran wisatawan selama fenomena berlangsung turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, seperti sektor penginapan, transportasi, kuliner, dan usaha lokal.

Namun, peningkatan kunjungan wisata saat fenomena berlangsung juga perlu diimbangi dengan pengelolaan kawasan yang baik. Wisatawan perlu menjaga kebersihan lingkungan serta mematuhi aturan yang berlaku agar aktivitas wisata tidak mengganggu keseimbangan alam di kawasan pegunungan.

Selain berdampak pada sektor pertanian dan pariwisata, perubahan suhu yang ekstrem juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Terutama bagi kelompok yang rentan terhadap perubahan suhu, seperti anak-anak dan lanjut usia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti penyakit akibat paparan udara dingin maupun gangguan pernapasan.

Fenomena embun upas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman fenomena alam yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan atmosfer. Melalui pemahaman mengenai embun upas, masyarakat dapat melihat fenomena ini secara lebih ilmiah sekaligus mengenali karakteristik iklim di wilayah pegunungan Indonesia. Fenomena embun upas juga menjadi bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Dieng. Warga yang tinggal di kawasan tersebut telah mengenali tanda-tanda munculnya suhu dingin ekstrem melalui perubahan kondisi lingkungan. Pengetahuan tersebut membantu masyarakat dalam menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Fenomena ini menjadi bukti bahwa peristiwa alam memiliki keterkaitan antara ilmu pengetahuan, kehidupan masyarakat, dan lingkungan. Kejadian ini juga memberikan kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai cuaca, iklim, serta bagaimana manusia beradaptasi dengan kondisi alam di sekitarnya.

Redaktur : Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.