
Oleh: Frianka Raya Sitanggang
Suara USU, Medan. Musim kemarau mulai melanda berbagai wilayah Indonesia. Hujan semakin jarang turun, udara terasa lebih panas, dan tanah mulai mengering. Banyak orang mulai merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Suasana menjadi lebih kering dan berdebu, dengan potensi kebakaran yang meningkat karena kondisi alam yang panas dan mudah terbakar. Setiap tahun, musim kemarau membawa tantangan tersendiri bagi masyarakat dan lingkungan.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Curah hujan menurun drastis, suhu meningkat, dan kelembapan tanah menyusut. Kondisi ini memengaruhi kawasan pegunungan di sekitar danau. Saat kemarau berlangsung lama, dedaunan kering, ilalang, dan semak belukar menjadi sangat mudah terbakar. Ditambah hembusan angin kencang, api bisa dengan cepat menyebar ke berbagai titik. Hal inilah yang membuat kawasan pegunungan di sekitar Toba rentan mengalami kebakaran.
Dilansir dari Metro Daily, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Danau Toba telah menghanguskan sekitar 1.708 hektare lahan hanya dalam kurun waktu 2 Juni hingga 24 Juli 2025. Kabupaten Samosir menjadi wilayah terdampak paling parah, dengan 1.052 hektare lahan yang terbakar. Kebakaran hutan menghasilkan asap yang mencemari udara, mengganggu kesehatan, dan merusak lingkungan. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin keseimbangan alam di sekitar Danau Toba akan terganggu dan sulit dipulihkan.
Situasi semakin memprihatinkan karena masih ada sebagian masyarakat yang sengaja membakar lahan. Padahal, musim kemarau sendiri sudah cukup berisiko. Di tengah kondisi yang rawan seperti ini, masih ada pihak-pihak yang memilih jalan pintas dengan membakar hutan atau semak untuk membuka kebun, memperluas ladang, atau kepentingan pribadi lainnya. Tindakan ini tidak hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga mencerminkan kurangnya kepedulian terhadap keselamatan bersama. Api yang dinyalakan bisa menyebar cepat, apalagi jika disertai angin kencang. Dampaknya bisa meluas dan membahayakan kehidupan masyarakat sekitar.
Meski kebakaran terjadi di banyak tempat, sebagian orang masih menganggapnya hal biasa. Mereka tetap membakar lahan tanpa memikirkan dampaknya. Seolah-olah alam adalah milik pribadi yang bisa dieksploitasi semena-mena. Padahal, kebakaran tak hanya merusak hutan, tapi juga mengotori udara, mencemari danau, dan mengganggu ekosistem. Semua ini bukan semata akibat cuaca panas, tetapi juga karena keserakahan manusia yang mementingkan keuntungan sesaat. Demi membuka lahan secara cepat dan murah, mereka rela membiarkan alam terbakar. Jika semua orang bersikap seperti ini, bukan tidak mungkin kita sendiri akan menjadi korban dari ulah kita.
Fenomena lain yang terjadi baru-baru ini adalah matinya ikan budidaya di Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan Desa Tanjung Bunga, Samosir. Air danau terlihat keruh, dan ratusan ton ikan ditemukan mati mengambang. Menurut suaratani.com, peristiwa ini disebabkan oleh naiknya sedimen lumpur dari dasar danau akibat angin kencang dan ombak besar. Hal ini membuat kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) menurun drastis, sehingga ikan kesulitan bernapas dan akhirnya mati. Sebanyak 352 ton ikan milik 37 kepala keluarga dilaporkan mati dalam kejadian ini.
Jika peristiwa seperti ini bisa terjadi akibat faktor alam, kerusakan bisa menjadi lebih parah jika ditambah ulah manusia. Pegunungan dan hutan di sekitar Danau Toba berperan penting sebagai pelindung ekosistem danau. Saat hutan gundul karena pembakaran, risiko erosi dan longsor pun meningkat, terutama saat hujan tiba. Tanpa vegetasi yang menahan tanah, lereng bukit lebih mudah longsor. Semua ini bisa terjadi lebih cepat jika pembukaan lahan secara destruktif terus dibiarkan, terlebih di tengah musim kemarau yang memperburuk kondisi lingkungan.
Kini saatnya masyarakat lebih peduli terhadap Danau Toba dan lingkungannya. Alam tak bisa terus-menerus menanggung akibat dari keserakahan kita. Tindakan seperti membakar lahan, membuang sampah sembarangan, atau membiarkan hutan rusak pasti akan berdampak pada kehidupan kita sendiri. Menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan tak akan pulih jika terus dirusak. Perubahan iklim, kebakaran hutan, dan kerusakan danau adalah peringatan bahwa kita harus lebih sadar dan peduli. Jangan tunggu keadaan memburuk. Saat inilah waktu yang tepat untuk bertindak, demi generasi sekarang dan yang akan datang. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita sendiri.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment