
Oleh: Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Cita-Citaku Setinggi Tanah, film karya Eugene Panji yang dirilis pada 2012, menjadi salah satu karya sinema Indonesia yang berhasil menyentuh hati penontonnya melalui kesederhanaan dan kejujuran narasi. Tanpa kemegahan produksi atau drama yang berlebihan, film ini menyuguhkan potret hangat kehidupan anak-anak di pedesaan, sekaligus menyampaikan pesan moral yang kuat mengenai makna syukur, harapan, dan cita-cita sederhana.
Film ini berfokus pada sosok Yuma, seorang anak sekolah dasar yang tinggal di kaki Gunung Merapi. Ia memiliki impian yang tampak sepele namun sarat makna: makan di restoran Padang. Premis tersebut justru menjadi kekuatan utama film ini. Tidak mengusung ambisi besar, Cita-Citaku Setinggi Tanah memilih mengangkat hal-hal “kecil” yang sering kali luput dari perhatian, dan menjadikannya sesuatu yang agung serta menyentuh.
Alur cerita yang mengalir dengan tenang tidak membuat film ini membosankan. Sebaliknya, narasi dibangun dari pengalaman sehari-hari anak-anak yang polos, lucu, dan terkadang menyentil. Eugene Panji berhasil menjaga agar emosi tersampaikan dengan jujur tanpa perlu mengandalkan adegan dramatis yang berlebihan. Justru melalui momen-momen kecil seperti tatapan, dialog singkat, atau tindakan sederhana emosi para tokohnya terasa begitu tulus dan nyata.
Dari segi visual, film ini juga berhasil menampilkan keindahan pedesaan dengan sinematografi yang sederhana namun memikat. Latar di kaki Gunung Merapi divisualisasikan melalui sawah hijau yang luas, kabut pagi yang perlahan turun, hingga rumah kayu yang sederhana namun hangat. Pengambilan gambar yang tidak tergesa memberi ruang bagi penonton untuk menikmati suasana dan meresapi kisah para tokohnya.
Pencahayaan alami menjadi nilai tambah tersendiri. Tanpa penggunaan efek warna atau pencahayaan buatan yang mencolok, film ini terasa membumi dan autentik. Gaya visual tersebut mendukung tema besar film: tentang kesederhanaan hidup yang sering kali luput dari perhatian.
Menariknya, para pemeran anak-anak dalam film ini bukanlah aktor profesional. Namun, justru hal itulah yang membuat akting mereka terasa alami dan jujur. Yuma dan kawan-kawan tampil tanpa beban, seolah benar-benar sedang bermain di depan kamera. Tidak ada dialog yang terdengar dipaksakan, tidak pula ekspresi yang dibuat-buat. Interaksi mereka mengingatkan penonton pada masa kecil, ketika impian masih sangat sederhana, namun terasa sangat berarti.
Para pemeran dewasa pun bermain dengan porsi yang pas. Mereka tidak mendominasi layar, melainkan berfungsi sebagai pendukung cerita dan penguat suasana. Dengan demikian, fokus utama tetap tertuju pada anak-anak sebagai pusat cerita.
Tanpa terkesan menggurui, Cita-Citaku Setinggi Tanah menyampaikan banyak pesan moral yang relevan. Salah satunya, bahwa impian tidak selalu harus tinggi secara materi atau prestise. Cita-cita sederhana pun bisa mencerminkan harapan dan realitas hidup yang jujur. Lewat pesan ini, film menyampaikan kritik sosial yang halus namun tajam terhadap kesenjangan sosial dan sistem yang kerap mengabaikan impian anak-anak dari kalangan kurang mampu.
Selain itu, film ini juga mengajarkan pentingnya rasa syukur. Dalam satu adegan yang menyentuh (tidak diungkap secara spesifik agar tidak menjadi spoiler), Yuma menunjukkan bahwa impian bukan soal sejauh apa kita ingin pergi, melainkan seberapa dalam kita bisa merasakan kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana.
Secara keseluruhan, Cita-Citaku Setinggi Tanah bukan film berbiaya besar, bukan pula film yang dibintangi oleh aktor ternama. Namun, justru dalam kesederhanaannya, film ini mampu menyampaikan pesan yang kuat dan menyentuh. Sebuah karya yang patut ditonton oleh siapa pun yang ingin mengingat kembali arti penting dari impian kecil yang tulus impian yang layak diperjuangkan, sebesar apa pun maknanya dalam hidup seseorang.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment