
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Siapa sangka bahwa filosofi sederhana dari bahasa Hakka dengan kata “choi” yang berarti sayur dan “pan” yang berarti kue, melahirkan salah satu kudapan yang paling menyentuh hati dari Kota Singkawang. Perpaduan antara kulit tipis berbahan tepung dan isian sayuran ini mencerminkan betapa kesederhanaan dapat menjadi sumber kenikmatan yang mendalam. Dalam satu gigitan choi pan, kita tidak hanya mencicipi rasa, tetapi juga menelusuri jejak budaya yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Choi pan merupakan kuliner yang dibawa oleh masyarakat Tionghoa, khususnya suku Teochew, yang menetap di Kalimantan Barat sejak abad ke-7. Kudapan ini awalnya dikenal dengan nama “ziao tje” dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Kota Singkawang, yang kerap dijuluki sebagai Kota Seribu Klenteng. Tak hanya dikenal sebagai sajian rumahan, choi pan bahkan sempat tampil di film Aruna dan Lidahnya pada tahun 2018, memperkuat posisinya sebagai kuliner khas yang mampu menjangkau berbagai generasi dan lapisan masyarakat.
Hal yang menjadikan choi pan begitu memikat adalah tekstur kulitnya yang lembut, kenyal, namun tidak mudah robek. Kulit ini dibuat dari campuran tepung beras dan tepung tapioka yang diolah dengan takaran seimbang, menghasilkan lapisan tipis yang transparan dan lentur. Saat dikukus, uap panasnya mengepul lembut, menambah kesan hangat dan segar. Penyajiannya pun khas. Setelah matang, choi pan disiram dengan minyak bawang putih goreng yang harum menggoda. Ketika disantap bersama sambal cuka dengan rasa pedas dan asam, setiap elemen rasa berpadu menciptakan harmoni yang membekas di lidah.
Isian yang paling populer adalah campuran bengkoang cincang dan ebi kering. Kombinasi ini menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih dengan tekstur yang renyah dan memuaskan. Tak hanya itu, masyarakat Singkawang juga mengenal isian lain seperti kucai dengan aroma khas, talas yang padat, dan rebung yang menyegarkan. Aneka variasi tersebut membuktikan bahwa choi pan tidaklah terikat pada satu formula kaku, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai kreativitas dapur lokal masing-masing.
Soal tampilan, choi pan biasanya berbentuk lonjong atau oval, menyerupai pastel kecil yang transparan. Warnanya bening dengan kilau lembap, memperlihatkan isian di dalamnya. Tampilan sederhana ini justru menambah daya tarik visual karena menyiratkan kesegaran dan keotentikan bahan-bahan alami yang digunakan. Sementara itu, varian dari Bangka Belitung tampil sedikit berbeda, berbentuk segitiga dengan isian pepaya muda tanpa bawang goreng. Variasi ini menunjukkan bahwa di balik kesamaan nama, choi pan memiliki kekayaan interpretasi di berbagai daerah.
Dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp20.000 hingga Rp40.000 per porsi isi lima, choi pan menjadi pilihan camilan yang ramah kantong bagi berbagai kalangan. Kudapan ini sangat cocok dinikmati oleh mahasiswa yang membutuhkan makanan ringan namun mengenyangkan, juga oleh keluarga sebagai sajian sore hari yang hangat. Bagi wisatawan, choi pan adalah pintu masuk yang lezat untuk mengenal lebih dekat kearifan lokal masyarakat Tionghoa di Singkawang.
Tidak hanya dapat ditemukan di pasar tradisional seperti Pasar Beringin atau gerai makanan di sekitar Jalan Niaga, choi pan juga kerap dijajakan di kedai rumahan yang mempertahankan resep turun-temurun. Suasana tempat makannya pun beragam, dari kedai sederhana dengan kursi plastik dan kukusan besar di depan pintu, hingga sudut-sudut pasar yang penuh aktivitas. Suasana ini memperkaya pengalaman mencicipi choi pan secara langsung dari tempat asalnya, menyatu dalam keramaian khas kota kecil yang bersahaja namun penuh cerita.
Lebih dari sekadar makanan, choi pan adalah simbol dari nilai-nilai luhur yang masih hidup dalam masyarakat seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan ketulusan. Di setiap proses pembuatannya, dari menguleni adonan, menumis isian, hingga menyusun dalam kukusan, terdapat sentuhan tangan yang sabar dan cinta yang tak terlihat. Choi pan menjadi contoh bahwa makanan tradisional tidak hanya bertahan karena rasa, tetapi karena makna yang dikandungnya. Dalam satu porsi choi pan, kita menemukan rasa, cerita, dan kebersamaan yang diwariskan antargenerasi.
Bagi Sobat SU yang ingin mencoba kuliner ini, choi pan sangat direkomendasikan sebagai pilihan camilan yang ringan, bergizi, dan penuh kehangatan. Cocok dinikmati bersama teman atau keluarga, terutama bagi kalian yang penasaran dengan kekayaan rasa dan sejarah panjang kuliner Tionghoa di Indonesia. Jangan lupa mencicipinya langsung saat berkunjung ke Singkawang dan rasakan sendiri bagaimana kelezatan sederhana ini mampu menciptakan kenangan yang hangat dan membekas.
Redaktur: Yulia Tarigan
Leave a comment