Oleh: Muhammad Hafizh Ramadhan
Suara USU, Medan. Pengelolaan air hujan adalah metode yang sistematis dan efisien untuk menampung, menyimpan, dan memanfaatkan airhujan sebagai sumber air bersih. Metode ini melibatkan pengumpulan air hujan dari permukaan seperti atap, yang kemudian dialirkan ke fasilitas penyimpanan seperti tangki atau reservoir. Dengan pengolahan yang tepat, air hujan yang dikumpulkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari kebutuhan rumah tangga seperti menyiram tanaman dan mencuci, hingga irigasi pertanian dan keperluan industri.
Namun pengelolaan air yang dilakukan oleh pemerintah kota medan dibantu pihak usu dirasa tidak dirancang dengan cukup baik karena masih terdapat banjir di jl dr Mansyur (tambahkan data). Padahal sudah menghabiskan anggarandana APBD daerah yang banyak sebesar 20M. Padahal salah satu manfaat utama pengelolaan air hujan adalah mengurangi ketergantungan pada sumber air tanah dan air permukaan, yang sering kali terbatas dan rentan terhadap pencemaran. Dengan memanfaatkan air hujan, beban terhadap sumber air alami dapat dikurangi, membantu menjagakeseimbangan ekosistem dan mengurangi risiko penurunan muka air tanah. Jika untuk mengurangi kebanjiran saja kolamretensi tidak dapat dilaksana dengan baik bagaimana untuk melanjutkan pengelolaan air yang lebih lanjut.

Penyusun narasi berisikan satu tim yang beranggota mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatra Utara. Fajar Hijratullah (220302046) Rifandi Pangihutan Sitorus (220302054) Muhammad Hafizh Ramadhan (220302068) Chris Edo Jhonatan Silalahi (220302076) Handika Dame Wijaya Marpaung (220302080). Liputan ini dilakukan berdasarkan keresahan dari tim sendiri terhadap kurang maksimalnya pengelolaan kolam retensi padahal pengelolaan air hujan juga berperan penting dalam pengendalian banjir perkotaan. Dengan menampung air hujan, aliran ke sistem drainase perkotaan dapat dikurangi, mengurangi risiko banjir saat hujan lebat. Ini tidak hanya mengurangi kerusakan infrastruktur dan properti, tetapi juga membantu mengurangi biaya pemeliharaan dan perbaikan sistem drainase.
Terhitung dana yang dihabiskan untuk Pembangunan kolam berbiaya Rp 20 miliar ini sendiri sudah dinyatakan 100 persen yang dapat diketahui dari postingan yang diunggah oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution pada mediasosialnya pada 4 agustus 2024. Kolam retensi USU ini nantinya dapat menampung air sebesar 10.000 meter kubik dengan ketinggian drainase mencapai 1,3 meter. Catchment area dari kolam retensi USU mulai dari seputaran jalan Dr. Mansyur, Jamin Ginting hingga Pajak Sore. Sedangkan service area sekitar 170 hektar daripada kolam retensi ini.Faktanya banjir masih kerap terjadi berulang kali saat hujan turun dalam waktu yang lama. Dengan dana sebesar itu apakah terjadi penyalahan anggaran yang kurang tepat atau salah perhitungan pengerjaan yang mengakibatkan kolam retensi tidak berkeja dengan baik, iini menjadi tanda tanya besar seharusnya dari warga kota Medan. Akibat dari ini semua pergerakkan khususnya di jalan Dr. Mansyur mengalami hambatan dan kesulitan untuk melintas, banyak kendaraan yang mogok karena meintasi jalan ini. Unutk mahasiswa ini sangat menggau karena juga dapat mengganggu jalannya proses kuliah dan berakibat fatal jika ini terus berlanjut dan tidak diselesaikan.
Artikel ini adalah publikasi tugas Pekerja Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment