Home Life Style Konformitas Mahasiswa di Meja Kafe
Life Style

Konformitas Mahasiswa di Meja Kafe

Share
Sumber foto: Freepik

Oleh : Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Di tengah kehidupan kampus yang sibuk, kafe kini menjadi tempat kedua bagi ribuan mahasiswa. Kafe tidak hanya tempat untuk minum kopi, tetapi juga tempat berkumpul, bekerja sementara, bahkan menjadi tempat perdebatan yang ramai diperbicangkan. Fenomena ini menimbulkan satu kata kunci yang penting: konformitas. Seberapa besar mahasiswa membutuhkan meja kafe ini untuk mendukung aktivitas mereka, atau hanya ikut-ikutan demi disetujui oleh orang sekitar dan menata citra diri mereka?

Budaya ngopi sudah mengalami perubahan besar, dari sekadar konsumsi menjadi bagian dari gaya hidup modern, terutama di kalangan akademisi muda. Kafe yang dulu hanya untuk bersantai dan bertemu secara santai, kini menjadi simbol produktivitas dengan tren yang sedang digemari. Mahasiswa berlarian membawa laptop, buku, dan earphone favorit untuk menyelesaikan tugas, berdiskusi kelompok, atau belajar mandiri. Pandangan ini seolah menunjukkan bahwa belajar di kafe adalah cara satu-satunya untuk menjadi mahasiswa yang “serius” dan “gaul”.

Di balik cahaya laptop yang menyala dan tumpukan buku, tersembunyi dorongan kuat untuk konformitas sosial. Dalam psikologi sosial, konformitas adalah kecenderungan seseorang untuk mengubah keyakinan atau perilaku agar sesuai dengan norma kelompok atau masyarakat yang mendominasi. Bagi mahasiswa, memilih kafe tertentu, menunjukkan merek minuman yang sedang viral, atau menghabiskan waktu berjam-jam di sana sering kali bukan hanya soal nyaman, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang popular, cerdas, atau sekadar terkenal. 

Meja kafe kini menjadi media untuk menunjukkan identitas pribadi. Konformitas ini memiliki implikasi nyata yang terasa langsung di dompet mahasiswa. Sejumlah penelitian di Indonesia telah menyoroti hubungan erat antara konformitas dan perilaku konsumtif di lingkungan kafe. Sebagai contoh, sebuah studi tentang perilaku konsumtif mahasiswa di coffeeshop Semarang menunjukkan bahwa perilaku pembelian yang boros atau impulsif dipengaruhi oleh konformitas sebesar 57,6%. Angka ini mengindikasikan bahwa sebagian besar keputusan konsumsi—mulai dari pilihan kafe yang mahal, frekuensi kunjungan yang tinggi, hingga pilihan menu yang instagramable—dipicu oleh keinginan untuk menyesuaikan diri dengan standar kelompok.

Dampak finansialnya jelas terlihat dalam data pengeluaran. Survei menunjukkan bahwa pengeluaran untuk lifestyle mahasiswa, termasuk nongkrong di kafe, menduduki peringkat yang tinggi. Di Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai “kota pelajar”, rata-rata pengeluaran mahasiswa untuk nongkrong di kafe mencapai sekitar Rp 153.241,00 per bulan, menempati urutan kedua dalam preferensi gaya hidup. Ironisnya, di kota dengan biaya hidup relatif rendah, beberapa mahasiswa bisa menghabiskan hingga Rp 800.000 per bulan hanya untuk ngopi jika mereka rutin mengunjungi kafe premium. Nominal ini dapat melebihi biaya makan harian mereka atau bahkan mendekati alokasi dana untuk sewa kos.

Maka, kembali ke pertanyaan utama: apa yang sebenarnya jadi alasan utama dari konformitas ini? Mengapa mahasiswa merasa harus selalu sidang di meja kafe agar dianggap “sah” atau produktif?

Alasan pertama adalah kebutuhan psikologis akan pengakuan dan rasa memiliki. Mahasiswa sedang mengalami masa pencarian identitas, dan kafe menjadi tempat untuk diterima oleh lingkungan sebaya. Kelihatan mengikuti tren membuat mereka merasa diakui, sehingga tidak takut ketinggalan atau merasa khawatir melewatkan sesuatu (FOMO). Mereka memanfaatkan kafe sebagai tempat menampilkan imej yang diinginkan, dan mendapatkan validasi dari teman-teman.

Alasan kedua adalah klaim bahwa kafe adalah tempat ideal untuk belajar. Banyak orang menganggap bahwa kafe memiliki fasilitas seperti internet cepat, suasana nyaman, dan suara yang menenangkan, sehingga lebih baik dibanding kamar kos yang sempit atau bising. Namun, klaim ini perlu dipertanyakan. Seberapa sering sesi belajar di kafe benar-benar menghasilkan sesuatu yang bermakna, dibanding dengan hanya menggulir media sosial atau bercerita gosip? Konformitas justru bisa membuat perilaku yang boros, tidak produktif. Mahasiswa merasa wajib terus memesan minuman untuk “layak” duduk di meja, sehingga fokus mereka justru beralih ke menjaga citra dan pengeluaran yang terus meningkat.

Alasan ketiga adalah jebakan gaya hidup yang terkesan mewah tapi tidak bermakna. Pengeluaran untuk minum kopi di kafe eksklusif bisa menguras dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan akademik lebih mendesak, seperti buku, riset, atau pelatihan. Data keluaran yang tinggi menunjukkan pergeseran prioritas: kenyamanan dan citra diri menjadi lebih penting, bahkan melebihi kebutuhan dasar dan pendidikan. Ini adalah urgensi negatif—keinginan untuk terlihat kaya, eksis, dan sejajar dengan teman sebaya, meski harus mengorbankan stabilitas keuangan pribadi.

Konformitas itu sendiri bukan selalu negatif. Bisa jadi bermanfaat jika dorongan untuk bergabung dengan kelompok mengarah pada perilaku positif, seperti ikut komunitas belajar yang berprestasi atau organisasi sosial.

Mahasiswa perlu melakukan refleksi: apakah keputusan mereka untuk duduk di meja kafe didorong oleh kebutuhan sebenarnya atau hanya tekanan lingkungan? Sudahkah mereka menghitung biaya per jam untuk duduk di kafe? Jika pengeluaran untuk kopi lebih besar daripada biaya makan, itu tanda bahaya keuangan yang harus diperhatikan. Konformitas mahasiswa di meja kafe adalah cerminan dari tantangan sosial-ekonomi Generasi Z. Urgensi ini akan bermakna jika tempat itu benar-benar mendukung pertumbuhan intelektual dan pribadi, bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kehadiran.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.