
Oleh: Rizki Ismail
Suara USU, Medan. Selama kurang lebih tiga bulan penuh, terhitung sejak tanggal 28 Februari hingga 31 Mei 2025, Rizki Ismail (210902078), mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, telah melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan Medan Plus pada Divisi HIV/AIDS. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan praktik intervensi sosial dan memberikan pendampingan kepada salah satu Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang hidup dengan HIV/AIDS. Pendampingan dilakukan secara langsung dengan pendekatan profesional pekerjaan sosial melalui metode case work.
Penerima manfaat klien yang didampingi dalam kegiatan ini diberi nama samaran FS, seorang laki-laki berusia 28 tahun. Seluruh proses pendampingan dilakukan dengan persetujuan dan pengawasan pihak berwenang dari Yayasan Medan Plus, serta menjunjung tinggi prinsip kerahasiaan data pribadi klien sebagaimana kode etik profesi pekerjaan sosial.
Pendekatan intervensi yang digunakan mengacu pada model Skidmore, Thackeray, dan Farley (1994), dengan menggunakan tahapan penelitian, asesmen, intervensi, dan terminasi. Seluruh proses dilandaskan pada prinsip biopsikososial-spiritual (BPSS) untuk memahami permasalahan klien secara menyeluruh, baik dari aspek kesehatan, psikologi, hubungan sosial, maupun keyakinan spiritual yang dimilikinya.
Pada tahap penelitian (Study Phase), dilakukan penggalian informasi mengenai kondisi hidup dan sistem dukungan yang tersedia bagi FS. Ditemukan bahwa klien menghadapi tekanan mental akibat stigma, serta memilih untuk tidak memberitahukan status kesehatannya kepada keluarga. Tahap asesmen mengungkap bahwa FS memiliki dua teman dekat yang suportif, namun minim dukungan keluarga dan mengalami gejala depresi ringan. Aspek spiritualitas juga mengalami penurunan karena rasa malu dan penghakiman dari lingkungan.
Memasuki tahap intervensi, kegiatan diarahkan pada pemberdayaan psikososial klien. Dilakukan konseling individual, edukasi mengenai pengobatan ARV, pelatihan teknik coping, dan fasilitasi partisipasi klien dalam komunitas sebaya. Salah satu hasil positif yang dicapai adalah keberanian FS untuk terlibat dalam kelompok dukungan ODHA, membentuk rutinitas harian yang lebih sehat, serta mulai menjalani kembali kegiatan keagamaan secara pribadi.
Tahap terminasi dilakukan dengan refleksi bersama terhadap proses pendampingan yang telah dijalani. Klien mengungkapkan bahwa proses ini telah memberikan ruang aman untuk berbagi, menguatkan semangat hidup, serta membantu menyusun rencana masa depan secara lebih realistis. Praktik intervensi ini menunjukkan bahwa relasi empatik, informasi yang benar, dan dukungan sosial yang tepat mampu memulihkan martabat dan keberdayaan ODHA.
Melalui kegiatan ini, terbukti bahwa metode case work dalam pekerjaan sosial tidak hanya menjadi alat bantu profesional, tetapi juga jembatan pemulihan bagi individu yang terpinggirkan. Kegiatan intervensi sosial ini memberikan pembelajaran mendalam bahwa perubahan sosial dimulai dari keberanian untuk hadir dan mendengar.
Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos selaku Supervisor Sekolah dan Dosen Pengampu Praktikum, Bapak Rusdi, S.Pd selaku Supervisor Lembaga, serta Kak Leli selaku Manajer Divisi HIV/AIDS Yayasan Medan Plus yang telah memberikan dukungan, arahan, dan kepercayaan penuh selama pelaksanaan kegiatan selama satu semester.
Artikel ini adalah publikasi tugas Praktikum 1 (Individu dan Kelompok) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment