
Reporter: Alya Nayla Sahirah Sinulingga, Rizqi Putra Permono
Suara USU, Medan. Program Studi Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan rangkaian kuliah tamu (guest lecture) bertajuk Modern Indonesian Political History yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai dari tanggal 16-,18 Oktober 2025. Kegiatan tersebut diadakan secara daring melalui zoom meeting dan menghadirkan pembicara internasional untuk mengulas perjalanan panjang sejarah politik Indonesia, mulai dari masa pergerakan nasional hingga peran Indonesia dalam kancah global.
Kegiatan ini menghadirkan Nikita Kuklin, Associate Professor di MGIMO Department of Asian and African Studies sekaligus pakar di ASEAN Centre MGIMO University. Ia membawakan topik berjudul Indonesian Activists and the League Against Imperialism, Indonesian Political Thinking, dan Non-Aligned Movement dengan fokus utama pada dinamika perjuangan anti-imperialisme dan proses pembentukan identitas nasional Indonesia di tengah keberagaman budaya, etnis, dan agama.
Sesi kuliah tamu dibuka dengan sambutan dari Ketua Program Studi Magister Ilmu Sejarah USU, Prof. Pujiati, M.Soc.Sc., Ph.D., diikuti sambutan dari Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Dr. Drs. Budi Agustono, M.S. yang menyebut bahwa serial kuliah tamu ini penting untuk memperkaya perspektif mahasiswa terhadap sejarah politik Indonesia yang kerap terhubung dengan dinamika global.
Dalam pemaparannya, Kuklin menjelaskan bahwa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme bukan semata-mata tentang politik atau kekuasaan, tetapi juga tentang membangun kesadaran kebangsaan yang mampu menyatukan ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, dan beragam tradisi keagamaan ke dalam satu identitas yang kokoh. Ia menelusuri proses historis tersebut mulai dari berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai upaya awal membangkitkan kesadaran kultural modern di kalangan masyarakat Jawa, kemudian munculnya Sarekat Islam pada 1912 yang berhasil mengubah identitas keagamaan menjadi kekuatan politik lintas etnis, hingga peran Kongres Pemuda 1928 dalam merumuskan dasar identitas nasional yang inklusif melalui Sumpah Pemuda.
Lebih jauh, Kuklin juga menyoroti peran besar Soekarno dalam menyatukan keragaman nusantara melalui perumusan Pancasila. Menurutnya, Soekarno berhasil mengubah potensi perpecahan menjadi sebuah kekuatan nasional yang menekankan nilai pluralisme, kemanusiaan, dan persatuan. “Soekarno’s genius was his ability to turn diversity into strength. He understood that Indonesian identity could not be built on exclusion, but on embracing all the archipelago’s differences,” jelasnya.
Kuklin kemudian mengaitkan terbentuknya identitas nasional dengan peran Indonesia dalam dunia internasional, terutama melalui Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Ia menggambarkan konferensi tersebut sebagai puncak dari proses panjang pembentukan identitas Indonesia, ketika nilai-nilai kebangsaan yang terbentuk dari perlawanan kolonial menjadi inspirasi bagi negara-negara lain yang baru merdeka. “The Bandung Conference marked the moment when Indonesia’s identity, forged through decades of anti-colonial struggle, became a guiding light for newly independent nations,” ungkapnya.
Kegiatan kuliah tamu ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif. Salah seorang peserta menanyakan pandangan Kuklin mengenai sistem internasional Barat dan relevansi prinsip multipolaritas dalam dunia modern. Menanggapi hal tersebut, Kuklin menekankan pentingnya tatanan global yang adil dan menghormati piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai nilai yang menurutnya, sejalan dengan sikap politik luar negeri Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Rangkaian kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya Program Magister Ilmu Sejarah FIB USU untuk memperkuat jejaring akademik internasional dan menghadirkan perspektif baru dalam studi sejarah Indonesia untuk melacak peran aktivis kemerdekaan dalam dunia internasional.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment