Oleh: Saffanah Qanitah HS/Rimma Putri Masta Napitupulu/Crystin Manullang (210902069)
Suara USU, Medan. Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP USU berkesempatan untuk berkunjung ke Kampung Aur, Kec. Medan Maimun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana yang diampu oleh Ibu Dra. Berlianti M.SP. dan Ibu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP. Kelompok kami yang beranggotakan Saffanah Qanitah HS (210902049), Rimma Putri Masta Napitupulu (210902053), dan Crystin Manullang (210902069) ini melakukan observasi guna mengetahui gambaran lengkap mengenai bencana banjir yang kerap melanda Kampung Aur, agar masyarakat lebih memahami konteks permasalahan yang ada. Selain itu, analisis juga akan dilakukan terhadap pelaksanaan manajemen bencana banjir, mulai dari upaya pencegahan hingga proses rekonstruksi pasca bencana. Penelitian ini juga mengungkap berbagai tantangan yang muncul dalam setiap tahap penanganan, serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Tak kalah penting, penelitian ini akan menyoroti peran pekerja sosial dalam membantu penanggulangan bencana banjir di kawasan tersebut.
Kampung Aur, yang terletak di Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, menjadi salah satu wilayah paling rawan banjir akibat posisinya di sepanjang aliran Sungai Deli. Permukiman padat di tepi sungai tanpa perencanaan tata ruang yang baik, serta minimnya infrastruktur pengelolaan air, memperburuk kondisi saat curah hujan meningkat. Banjir di Kampung Aur telah menjadi masalah rutin selama 30 tahun, dengan ketinggian air mencapai 3,5 meter pada puncaknya, terutama saat musim hujan. Dampak banjir tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga mempengaruhi kesehatan warga akibat air yang tercemar sampah. Masyarakat, yang mayoritas berasal dari ekonomi menengah ke bawah, sering kali bergotong royong dalam menghadapi banjir, menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat di tengah tantangan berat.

Manajemen Bencana adalah ilmu yang mempelajari bencana, risiko yang ditimbulkannya, serta cara menghindari dan menanggulanginya. Kegiatan manajemen bencana meliputi pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan, dengan tujuan melindungi masyarakat dan harta bendanya dari ancaman bencana. Di Kampung Aur, Pak Syafri Tanjung, Ketua Komunitas Peduli Anak (KOPA), juga berperan aktif sebagai anggota relawan penanggulangan bencana dan Wakil Ketua Kelurahan Tanggap Bencana (KETANA). Sebagai agen perubahan, ia selalu terlibat dalam setiap upaya manajemen bencana di kawasan tersebut.
Manajemen bencana banjir di Kampung Aur mencakup berbagai tahap, dimulai dari pencegahan dan mitigasi. Upaya ini melibatkan pembentukan komunitas relawan yang aktif memantau potensi bencana melalui grup WhatsApp, serta bekerja sama dengan BMKG untuk memprediksi curah hujan dan risiko banjir. Masyarakat juga dilatih untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menebang pohon, serta diarahkan membuat loteng di rumah masing-masing sebagai tempat evakuasi darurat.
Pada tahap kesiapsiagaan, pos-pos siaga bencana diaktifkan, lokasi pengungsian disiapkan, dan tim relawan memobilisasi sumber daya seperti perahu karet dan logistik untuk evakuasi. Mereka juga menyusun rencana kontinjensi yang terorganisir untuk mengantisipasi bencana. Sistem komunikasi cepat disiapkan untuk memastikan informasi terkait bencana bisa langsung diterima oleh masyarakat.
Peringatan dini dilakukan melalui informasi dari BMKG yang disampaikan melalui masjid, memberikan waktu kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri. Evakuasi dan penyelamatan menjadi prioritas saat banjir tiba, dengan fokus pada anak-anak dan lansia. Masyarakat dikoordinir untuk mengungsi ke posko-posko aman menggunakan perahu karet dan alat transportasi darurat.
Selanjutnya, dalam fase bantuan darurat, bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan pakaian segera disalurkan oleh berbagai organisasi. KOPA berperan aktif dalam mendistribusikan bantuan dengan melibatkan para kader yang dikoordinir untuk memastikan distribusi merata.
Pemulihan setelah banjir fokus pada rehabilitasi infrastruktur dan pemulihan psikologis warga. Kegiatan pembersihan dan perbaikan drainase dilakukan secara gotong royong, serta pelayanan medis disediakan untuk mengatasi penyakit yang muncul setelah banjir. Program edukasi dan inisiatif bank sampah juga diluncurkan untuk mencegah masalah lingkungan yang memicu banjir di masa depan.
Rekonstruksi jangka panjang melibatkan penataan ulang permukiman yang lebih aman dari risiko banjir, serta perbaikan infrastruktur publik seperti jalan dan jembatan. Upaya penguatan tanggul sungai juga dilakukan untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Proses ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang cukup besar, tetapi diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang bagi masyarakat Kampung Aur.
KOPA (Komunitas Peduli Anak) menghadapi sejumlah tantangan dalam memanajemen bencana banjir di Kampung Aur. Salah satu masalah utama yang disoroti oleh Pak Syafri adalah maraknya penebangan pohon secara massal di hulu sungai serta berbagai proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Selain itu, KOPA juga menyayangkan program Pemko Medan yang membersihkan tanaman hijau dan pepohonan sepanjang Sungai Deli. Langkah ini justru meningkatkan risiko banjir akibat abrasi yang terjadi, membuat pemukiman di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli semakin rawan tergenang banjir dan dipenuhi lapisan tanah tebal. Tantangan lainnya adalah kurangnya upaya dari Pemko Medan untuk melakukan pengerukan Sungai Deli. Padahal, masyarakat berharap pengerukan ini dapat meningkatkan kedalaman sungai sehingga risiko banjir bisa dikurangi. Di sisi lain, masih banyak pemukiman di pinggir sungai yang rentan terkena erosi, sementara masyarakat, termasuk KOPA, hanya bisa berupaya secara mandiri dengan meninggikan lantai rumah dan membangun loteng untuk menghadapi banjir yang semakin sering terjadi.
Faktor cuaca yang tidak menentu turut memperburuk kondisi, di mana intensitas hujan yang tidak bisa diprediksi memperparah frekuensi banjir. Saat bencana datang, bantuan dari pemerintah, khususnya kelurahan, terbatas pada penyediaan makanan bagi para pengungsi, sehingga KOPA dan masyarakat harus bergantung pada donasi spontan untuk bantuan tunai dan barang kebutuhan. Selain itu, KOPA juga menghadapi kurangnya dukungan pemerintah terhadap program Bank Sampah yang mereka inisiasi. Meski program ini telah berhasil mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke sungai dan membantu pencegahan banjir, tidak ada pengawasan atau pembinaan dari pemerintah setempat, seperti pihak kecamatan, yang berperan penting dalam keberlanjutan program tersebut.
Pekerja sosial diperlukan dalam penanganan ini karena memegang peran vital dalam penanggulangan bencana, termasuk banjir di wilayah seperti Kampung Aur. Sebagai fasilitator, pendukung, dan penghubung, pekerja sosial bertugas menjembatani masyarakat dengan berbagai sumber daya yang diperlukan. Salah satu tugas utama mereka adalah mengidentifikasi kebutuhan warga terdampak, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Mereka langsung turun ke lapangan untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis warga yang terdampak banjir. Setelah melakukan identifikasi, pekerja sosial berperan penting dalam mengoordinasikan bantuan antara masyarakat dan instansi pemerintah atau LSM. Mereka memastikan distribusi bantuan seperti makanan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat berjalan dengan tepat sasaran. Selain itu, pekerja sosial juga terlibat dalam edukasi masyarakat mengenai pencegahan dan mitigasi bencana, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik. Dalam aspek pemulihan psikososial, peran pekerja sosial sangat krusial, terutama untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat bencana. Melalui program konseling dan rekreasi, pekerja sosial membantu masyarakat pulih secara mental dan emosional. Mereka juga melatih relawan lokal agar dapat memberikan dukungan serupa kepada warga lainnya, memperkuat solidaritas dalam komunitas. Selain peran praktis, pekerja sosial juga terlibat dalam advokasi kebijakan yang lebih baik untuk penanggulangan bencana. Dengan mengumpulkan data dari lapangan, mereka memberikan masukan kepada pemerintah daerah mengenai pengelolaan risiko bencana, tata ruang, dan pembangunan infrastruktur yang lebih aman. Dengan pendekatan holistik ini, pekerja sosial membantu memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana banjir di masa depan, berperan dalam pemulihan sekaligus membangun kesiapan yang lebih baik.
Pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur drainase dan pengelolaan air di Kampung Aur guna mengurangi risiko banjir di masa depan. Selain itu, program penyuluhan tentang pencegahan banjir dan kesiapsiagaan harus diperluas agar masyarakat lebih memahami langkah-langkah yang perlu diambil sebelum, selama, dan setelah banjir. Peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, dan komunitas lokal juga sangat diperlukan untuk memastikan respons yang cepat dan efektif terhadap bencana. Pengembangan sistem peringatan dini yang lebih baik melalui teknologi informasi dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi potensi banjir. Program pemulihan psikologis bagi anak-anak dan warga terdampak harus menjadi prioritas untuk membantu mereka mengatasi trauma akibat bencana. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program mitigasi bencana sangat penting agar mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Diharapkan dengan peningkatan manajemen penanggulangan bencana di Kampung Aur, masyarakat akan lebih siap menghadapi ancaman banjir di masa depan.
Artikel ini ditunjukan untuk memenuhi mata kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana dengan Dosen Pengampu Dra. Berlianti M.SP., dan Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment