
Oleh: Karina Olivia Pricila Harahap
Suara USU, Medan. Praktik kerja lapangan (PKL) merupakan kegiatan yang biasanya langsung terjun ke lapangan oleh mahasiswa Kesejahteraan Sosial melakukan PKL di LSM seperti KOPA Medan untuk mendampingi anak-anak jalanan dan menerapkan metode pekerjaan sosial secara langsung. Tujuan dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini adalah untuk menerapkan teori dan metode pekerjaan sosial secara langsung di lapangan, khususnya pada anak jalanan yang mengalami hambatan belajar.
Karina Olivia Pricila Harahap (220902088), seorang mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP USU Â yang melakukan kegiatan PKL kurang lebih selama 3 bulan selama 3 pertemuan pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lokasi tempat PKL: Jl. Syah Bandar No.23, A U R, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara dengan supervisor sekolah Gusti Pirandy S.Sos., M.Kesos, supervisor lembaga Syafri Tanjung dan dosen pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.
Saya melakukan kegiatan  praktikum di Lembaga Komunitas Peduli Anak (KOPA), sebuah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan anak di Medan, berhasil menciptakan perubahan nyata bagi anak-anak jalanan. Salah satu kisah inspiratif datang dari BR, seorang anak perempuan kelas 4 SD yang sejak usia 6 tahun telah berjualan tisu di jalanan demi membantu keluarganya.
Selama PKL, saya mendampingi BR, seorang anak perempuan yang sejak usia enam tahun sudah berjualan tisu di jalanan. Dengan latar belakang ekonomi keluarga yang sulit, BR menghadapi tantangan dalam belajar dan perkembangan sosialnya. Untuk membantu BR, saya menerapkan metode case work yang dirumuskan oleh Skidmore, Thackeray, dan Farley. Metode ini terdiri dari empat tahapan : tahap penelitian, asesmen, intervensi dan terminasi.
Selain metode case work, kegiatan ini juga menggunakan tools ecomap untuk menekankan relasi sosial BR dengan keluarga, teman sebaya, komunitas dan lingkungan sekitarnya. Ecomap membantu dalam memahami siapa saja pihak-pihak yang memberikan dukungan maupun tekanan dalam kehidupan tersebut. Kegiatan ini juga menerapkan teori Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) dari Vygotsky yang menyatakan bahwa anak dapat berkembang optimal melalui interaksi sosial dan bantuan orang dewasa.
Teori tersebut relevan karena BR menunjukkan minat belajar yang tinggi namun belum mandiri dalam membaca dan menghitung. Oleh karena itu, pendampingan dilakukan melalui aktivitas yang menyenangkan seperti belajar dengan alat bantu lidi-lidi dan permainan edukatif. Â Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kemandirian. Dengan kombinasi metode, teori dan alat bantu yang tepat, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan hasil yang positif dalam perkembangan klien.
Tahap Penelitian
Pada tahap awal interaksi, BR tampak pemalu namun menunjukkan sikap terbuka ketika diajak bermain dan bercerita. Kegiatan awal dilakukan dengan perkenalan, bermain dan menggambar untuk membangun kedekatan. Dari kegiatan ini, saya dapat melihat bahwa BR memiliki potensi dalam bidang keterampilan dan seni.
Tahap Pengkajian Â
Hasil asesmen menunjukkan bahwa BR memiliki hubungan cukup dekat dengan orang tuanya meskipun sering terjadi konflik ekonomi dalam rumah tangga. Ia juga memiliki relasi yang positif dengan teman-temannya, baik di sekolah maupun di jalan saat berjualan. BR menyukai pelajaran matematika karena gurunya menyenangkan, meskipun ia belum lancar dalam menghitung. BR memiliki cita-cita menjadi seorang dokter karena ingin membantu orang banyak. Ia juga menyukai kegiatan menari dan pernah tampil di acara sekolah. Keinginan dan minat BR menunjukkan bahwa ia memiliki semangat dan harapan masa depan, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Tahap Intervensi
Intervensi dilakukan secara bertahap dan konsisten, dengan pendekatan yang menyenangkan dan berbasis kegiatan. Di mulai dengan mengajak BR untuk belajar membaca dan berhitung menggunakan metode konkret, seperti mencoret lidi-lidi untuk mempermudah proses perkalian. Kegiatan belajar selalu di selingi dengan aktivitas menyenangkan seperti membuat kerajinan tangan, menggambar dan bermain games. Tujuannya agar BR tidak merasa bosan dan tetap antusias mengikuti kegiatan.
Tahap Terminasi
Setelah semua tahapan intervensi dilakukan, BR menunjukkan perkembangan yang positif, di mana awalnya ia kesulitan dalam membaca dan menghitung, namun secara bertahap mulai menunjukkan kelancaran. Ia juga menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan selama sesi belajar. Dengan tercapainya tujuan intervensi, maka resmi menghentikan proses pendampingan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gusti Pirandy, S.Sos., M.Kesos selaku supervisor sekolah, Bapak Syafri Tanjung selaku supervisor lembaga, dan Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos selaku dosen pengampu, atas dukungan dan bimbingan selama kegiatan PKL berlangsung.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, lembaga, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana intervensi sosial yang terarah dan penuh empati dapat membuka harapan baru bagi anak-anak yang terpinggirkan.
Artikel ini merupakan bagian dari publikasi pemenuhan tugas mata kuliah Praktikum Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment