
Oleh: Muhassanah Nasution, Rifa Sifana, Vivi Shinta Felicia Silaban, Nurul Fauziah Rahmadhany Solin
Suara USU, Medan. Narkoba masih menjadi masalah krusial di Indonesia saat ini, terutama di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 24024 angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 3,3 juta pengguna Narkoba di Indonesia, dan sekitar 1,3 juta di antaranya ada di Sumatera Utara. Salah satu solusi penanganan bagi penyalahguaan narkoba adalah dengan rehabilitasi.
Rehabilitasi merupakan upaya yang komprehensif untuk mengatasi penyalahgunaan narkoba, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. Dengan rehabilitasi yang tepat, penyalahguna narkoba memiliki harapan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Salah satu panti rehabilitasi yang ada di Sumater Utara yaitu Pusat Rehabilitasi Narkoba IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor) Bukit Doa Rumahku.
Dengan konsep kekeluargaan dan keagamaan yang dibangun, Pusat Rehabilitasi Narkoba IPWL Bukit Doa Rumahku menjadi panti rehabilitasi yang memberikan rasa aman, nyaman dan penuh harapan untuk pulih bagi mereka korban penyalahgunaan narkoba. Pusat Rehabilitasi IPWL Bukit Doa Rumahku bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada klien penyalahgunaan narkoba agar berhenti dari ketergantungan dan memperbaiki kualitas hidupnya dengan memberikan dukungan mental, emosional serta pelatihan keterampilan diri untuk dapat hidup mandiri tanpa bergantung pada narkoba.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Herman J. K. S. Th, selaku program meneger, ia mengungkapkan bahwa, selama menjalani rehabilitasi di IPWL Bukit Doa, klien mengikuti berbagai program-program untuk membantunya Kembali pulih, diantanya yaitu terdapar program keagamaan dengan berbagai kegiatan-kegiatan ibadah untuk meningkatkan keimanan klien. “Paling dasar sekali itu adalah religi disini, kita bawa mereka kepada pertaubatan,” ujar Herman.
Selain itu, IPWL Bukit Doa juga menyediakn program dan pelayanan terapi konseling, medis, Pendidikan dan olahraga. Program-program ini juga pastinya didukung dengan berbgai fasilitas yang memadai, seperti ruang terapi konseling dengan konselor, ruang medis engan dokter dan perawat, aula untuk kegiatan seminar dan berkumpul, serta fasilitas olahraga berupa lapangan futsal, badminton, dan lainnya.
Terdapat beberapa tahapan pelayanan yang dilalukan oleh IPWL Bukit Doa dalam penanganan klien diantaranya; tahap assesment sebagai tahap pertama berupa usaha pendekatan antara pekerja sosial dengan klien untuk meneliti dan mencari akar masalah kehidupan klien yang membuatnya terjerumus kepada penyelahgunaan narkoba agar dapat mengetahui treatmen plan yang tepat kepada klien.
Selanjutnya, tahap entry, di mana klien dipersiapkan untuk memasuki program rehabilitasi serta membantu klien menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan program rehabilitasi. Setelah tahap inilah klien kemudian masuk pada tahap pelaksanaan program. Klien akan menjalankan kehidupan dengan melaksanakan program-program dan pelayanan yang telah disediakan oleh panti, tahap ini juga disertai dengan mentoring oleh pekerja sosial untuk mengetahui perkembangan dan hambatan klien.
Setelah ketiga tahap tersebut dilewati dan klien sudah sampai pada perkembangan yang membuatnya dapat kembali kepada keluarga dan lingkungan masyarakat. Klien akan masuk pada tahap terakhir yaitu tahap terminasi atau kepulangan klien kepada keluarganya.
Setelah melakukan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa program-program yang ada di IPWL Bukit Doa Rumahku berjalan dengan lancer, terencana serta terstruktur dengan baik dan dapat membantu klien merubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat, produktif, dan bermakna. Dengan demikian rehabilitasi tidak hanya mempertimbangkan ketergantungan fisik, tetapi juga akan membekali individu dengan keterampilan dan dukungan untuk menjalani hidup bebas dari narkoba.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Metode-Metode Pekerja Sosial dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment