Home Kabar Kampus Merasakan Kerinduan Seorang Perantau Lewat Lagu “Kampung nan jauah di Mato”
Kabar Kampus

Merasakan Kerinduan Seorang Perantau Lewat Lagu “Kampung nan jauah di Mato”

Share

Penulis: Muhammad Fathur Ammar

Suara USU, Medan. Lagu Kampuang Nan Jauah di Mato merupakan ciptaan seorang musisi asli tanah Minangkabau yaitu Oslan Husein pada tahun 1931. Lagu ini sangat terkenal bagi warga Sumatra Barat terutama yang pergi merantau ke daerah lain. Lagu ini menceritakan tentang seorang perantau yang merindukan kampung halamannya. Lirik dan nadanya yang tidak rumit membuat lagu kampuang nan jauah di mato mudah diingat dan sering dinyanyikan.

Memang sudah budaya Minangkabau seorang laki-laki yang belum menikah atau bujang untuk pergi merantau ke daerah lain. Hal tersebut tertuang dalam pepatah Minangkabau marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun yang artinya merantaulah kamu karena di rumah belum ada berguna. Merantau disini bisa berupa pergi mencari pekerjaan atau juga bisa pergi belajar dan menuntut ilmu di daerah luar Sumatra Barat.

Kampuang nan jauh di mato

Gunuang sansai bakuliliang

Takana jo kawan-kawan nan lamo

Sangkek den basuliang-suliang

Panduduknya nan elok

Nan suko bagotong-royong

Sakik sanang samo-samo diraso

Dari penggalan lirik di atas kita bisa seolah-olah sedang mendengarkan cerita seorang perantau Minang tentang keadaan di kampung halamannya . Si perantau merindukan teman-teman lamanya  yang dulu sering bermain bersama tapi sekarang terpisah dan sibuk melakukan pekerjaan masing-masing. Merindukan keakraban dengan sesama warga di kampung halamannya yang mungkin sulit didapatkan di kota besar tempat tinggalnya sekarang .

Sebagai seorang mahasiswa yang pergi merantaupun pasti juga merindukan kampung halamannya. Disela sela kesibukan belajar di kampus mungkin sesekali terbesit kerinduan terhadap keluarga yang ada di kampung halaman. Walaupun lagu ini lagu lama tapi akan selalu sesuai dengan perasaan rindu perantau baik itu dari Minang atau dari daerah lain. Karena perasaan rindu dan kangen dengan kampung halaman akan selalu ada.

Takana jo kampuang

Induak ayah adiak sadonyo

Raso maimbau-imbau den pulang

Den takana jo kampuang

Diakhir lagu ini pun kepiawaian seorang Oslan Husein untuk menceritakan kerinduan terhadap keluarga terutama keluarga di kampung. Seorang perantau yang merasa dipanggil oleh kampung halamannya untuk pulang. Hal mungkin ini akan relate dengan mahasiswa yang sebentar lagi akan libur akhir tahun dan akhirnya bisa melapas kerinduan dengan keluarga di rumah. Gimana menurut sobat Suara USU? Ada yang kangen kampung halamannya?

Redaktur: Taty Kristina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.