Home Tulisan Partisipasi Komunitas Selama Magang di Dinas Sosial Kota Medan
Tulisan

Partisipasi Komunitas Selama Magang di Dinas Sosial Kota Medan

Share

Oleh: Salsabilah Syifa Siregar

Suara USU, Medan. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, partisipasi komunitas menjadi aspek yang sangat penting. Salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan partisipasi ini adalah Participatory Learning Action (PLA). Metode ini tidak hanya melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, tetapi juga memberdayakan mereka untuk berkontribusi dalam solusi atas masalah yang dihadapi. Artikel ini akan membahas mengenai penerapan PLA selama penulis magang di Dinas Sosial Kota Medan dan bagaimana metode ini dapat meningkatkan kualitas interaksi antara mahasiswa dan masyarakat.

Selama program magang di Dinas Sosial Kota Medan, saya Salsabilah Syigfa Siregar dengan NIM 210902019 yang merupakan mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara (USU) berkesempatan untuk menerapkan ilmu yang didapatkan di kampus secara langsung. Program magang ini bertujuan untuk meningkatkan pengalaman praktis mahasiswa sebagai pekerja sosial. Dalam praktiknya, mahasiswa melakukan assessment terhadap Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), termasuk pengemis dan gelandangan, menggunakan metode PLA untuk mengumpulkan informasi dan merancang intervensi yang sesuai.

Melalui pendekatan PLA, mahasiswa diajarkan untuk:

1.     Mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh PPKS.

2.     Melibatkan PPKS dalam diskusi untuk mendapatkan pandangan mereka tentang solusi yang mungkin.

3.     Menggunakan teknik seperti Social Mapping dan Venn Diagrams untuk memvisualisasikan data dan memfasilitasi dialog.

Partisipasi aktif dari komunitas dalam program-program sosial memiliki banyak manfaat, antara lain:

1.     Pemberdayaan: Masyarakat merasa lebih berdaya ketika mereka terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

2.     Kualitas Intervensi: Dengan melibatkan masyarakat, intervensi yang dilakukan menjadi lebih relevan dan tepat sasaran, karena didasarkan pada kebutuhan nyata mereka.

3.     Peningkatan Keterampilan: Mahasiswa magang tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan analisis yang penting dalam pekerjaan sosial.

Meskipun banyak manfaatnya, penerapan PLA juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

1.     Kurangnya Pemahaman: Tidak semua anggota komunitas memahami pentingnya partisipasi aktif, sehingga perlu ada upaya edukasi untuk meningkatkan kesadaran.

2.     Keterbatasan Sumber Daya: Seringkali, keterbatasan waktu dan sumber daya dapat menghambat pelaksanaan metode PLA secara optimal.

3.     Komitmen dari Stakeholder: Keberhasilan PLA sangat bergantung pada komitmen dari semua pihak yang terlibat, termasuk pemerintah dan organisasi non-pemerintah.

Participatory Learning Action (PLA) merupakan metode yang sangat efektif untuk meningkatkan partisipasi komunitas dalam program-program sosial. Selama magang di Dinas Sosial Kota Medan, mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi juga menerapkannya secara langsung dengan melibatkan masyarakat. Dengan demikian, PLA dapat menjadi alat yang kuat dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup mereka. Untuk mencapai hasil maksimal, perlu ada dukungan berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan serta upaya edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya peran mereka dalam proses sosial ini.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Perencanaan Paertiaipatoris Intervensi Komunitas dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.