Home Tulisan Penerapan Perencanaan Partisipatoris oleh Pekerja Sosial dalam Program Magang Merdeka Bersertifikat
Tulisan

Penerapan Perencanaan Partisipatoris oleh Pekerja Sosial dalam Program Magang Merdeka Bersertifikat

Share

Oleh: Saskia Amanda Hasibuan

Suara USU, Medan. Program Magang Merdeka Bersertifikat (MSIB) merupakan bagian dari inisiatif Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang memberikan mahasiswa kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata di dunia industri maupun lembaga pemerintah. Salah satu peserta program ini adalah Saskia Amanda Hasibuan, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Selama 4,5 bulan, Saskia magang di Dinas Sosial Kota Medan, khususnya di bidang Rehabilitasi Sosial sebagai pekerja sosial.

Sebagai pekerja sosial, Saskia berfokus pada upaya membantu individu, keluarga, dan komunitas menghadapi masalah sosial yang dihadapi. Salah satu metode yang digunakan dalam praktiknya adalah perencanaan partisipatoris, sebuah pendekatan strategis yang melibatkan berbagai pihak, termasuk penerima layanan, dalam proses pengambilan keputusan.

Pendekatan Perencanaan Partisipatoris dalam Praktik Pekerja Sosial

Perencanaan partisipatoris bertujuan melibatkan individu atau kelompok dalam proses identifikasi masalah, perencanaan intervensi, hingga implementasi solusi. Pendekatan ini dianggap efektif untuk menciptakan keberlanjutan dan pemberdayaan karena mengutamakan keterlibatan aktif pihak terkait.

Salah satu kasus yang ditangani selama magang adalah seorang pemuda yang terpaksa menjadi pengemis akibat konflik keluarga berkepanjangan. Berikut langkah perencanaan partisipatoris diantaranya:

1.     Participatory Rural Appraisal (PRA):

Melalui PRA, Pekerja Sosial mengumpulkan informasi langsung dari pemuda tersebut, keluarganya, dan komunitas sekitarnya. Diskusi kelompok kecil dilakukan untuk memahami akar permasalahan, seperti konflik keluarga yang berkepanjangan dan kurangnya dukungan emosional dari orang tua.

2.     Participatory Learning and Action (PLA):

Selanjutnya, pekerja sosial memfasilitasi proses belajar bersama, di mana pemuda tersebut diberi ruang untuk mengungkapkan kebutuhan dan aspirasinya. Salah satu keinginan pemuda adalah mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman serta pelatihan keterampilan agar bisa hidup mandiri.

3.     Pendekatan Pekerja Sosial:

·      Intervensi langsung (direct): pekerja sosial memberikan konseling kepada pemuda untuk membangun kepercayaan diri dan menjembatani komunikasi dengan keluarganya. Ia juga membantu pemuda tersebut mendapatkan layanan dari Unit Pelayanan Terpadu di Binjai.

·      Intervensi tidak langsung (indirect): pekerja sosial mengadvokasi kepentingan pemuda kepada pemerintah lokal untuk mendapatkan akses pelatihan keterampilan dan dukungan sosial lainnya.

Kiat-Kiat Pekerja Sosial dalam Perencanaan Partisipatoris

Keberhasilan pendekatan partisipatoris sangat bergantung pada kemampuan pekerja sosial untuk:

a.     Membangun Kepercayaan: Memperkuat hubungan dengan klien melalui empati dan komunikasi yang baik.

b.     Edukasi dan Kesadaran: Memberikan pemahaman kepada klien dan keluarganya tentang pentingnya keterlibatan mereka dalam proses pemecahan masalah.

c.     Kolaborasi dengan Komunitas: Melibatkan tokoh masyarakat dan organisasi lokal dalam mendukung keberhasilan intervensi.

d.     Monitoring Partisipatif: Mengajak klien untuk berkontribusi dalam evaluasi dan pengawasan solusi yang telah diterapkan.

Dalam kasus pemuda tersebut, langkah yang disepakati bersama adalah menempatkannya di Unit Pelayanan Terpadu sebagai solusi sementara. Di sisi lain, pelatihan keterampilan direncanakan sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian pemuda. Pendekatan ini berhasil membuka komunikasi antara pemuda dan pihak keluarganya, meskipun masih diperlukan upaya lanjutan.

Penerapan perencanaan partisipatoris oleh pekerja sosial tidak hanya memberikan solusi praktis tetapi juga memberdayakan individu dan komunitas dalam menghadapi masalah sosial. Dalam kasus ini, pendekatan tersebut menjadi kunci dalam menciptakan intervensi yang relevan, berkelanjutan, dan berdampak positif. Kolaborasi antara pemerintah, pekerja sosial, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menangani kasus-kasus serupa secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Artikel ini adalah publikasi tugas Perencanaan Paertiaipatoris Intervensi Komunitas dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.