Oleh: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Dalam rentang dua hingga tiga dekade terakhir, pola bermain anak mengalami transformasi yang cukup mencolok akibat pergeseran zaman. Pada masa lampau, sore hari biasa diisi anak-anak yang bermain di halaman rumah atau gang kampung, memainkan petak umpet, bekel, congklak, egrang, ataupun ular naga bersama kawan sebaya. Pemandangan semacam itu kini semakin sulit dijumpai. Sebagian besar anak zaman sekarang justru lebih lekat dengan gawai, menghabiskan waktu bermain game di ponsel atau tablet, menonton video, atau menjelajahi dunia virtual lewat karakter avatar. Fenomena ini tidak sekadar mencerminkan perubahan selera, tetapi juga menggambarkan dampak kemajuan teknologi, percepatan urbanisasi, serta perubahan gaya hidup keluarga modern. Pertanyaannya, apakah perubahan ini membawa dampak baik atau sebaliknya?
Pada hakikatnya, permainan warisan masa lalu mampu mengasah berbagai kemampuan sekaligus. Berlari dan meloncat ketika bermain petak umpet atau gobak sodor melatih motorik kasar serta daya tahan tubuh. Bekel dan congklak lebih menekankan kecermatan serta kelenturan motorik halus. Tak hanya itu, seluruh permainan ini mengharuskan anak berinteraksi langsung, menyepakati aturan bersama, hingga menuntaskan perselisihan tanpa perantara apa pun. Proses ini berfungsi layaknya ruang latihan kecil untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, dan memahami sudut pandang orang lain.
Wajah permainan masa kini tampil jauh berbeda. Bermain game di ponsel dan menghabiskan waktu di media sosial kini telah menjadi rutinitas hiburan yang paling akrab bagi anak-anak. Mainan edukatif berbentuk aplikasi pun kian diminati karena dipercaya mengenalkan huruf, angka, maupun logika sembari bermain. Memang harus diakui, pergeseran ini membawa sejumlah keuntungan. Anak terlatih mengambil keputusan cepat saat menghadapi masalah dalam permainan, koordinasi mata-tangan anak terasah dalam konteks digital, dan anak mengenal literasi teknologi sejak dini. Khususnya bagi anak yang bermukim di lingkungan padat tanpa lahan bermain cukup, atau yang mengalami keterbatasan fisik, permainan digital bisa menjadi pilihan hiburan dan pembelajaran yang relatif lebih aman.
Kendati demikian, tidak semua konsekuensinya menguntungkan. Berkurangnya frekuensi bermain di ruang terbuka turut menyumbang penurunan aktivitas fisik anak yang membuka peluang munculnya obesitas serta melemahnya kemampuan motorik kasar. Minimnya interaksi sosial langsung juga membuat sebagian anak kesulitan menangkap ekspresi wajah orang lain, bernegosiasi secara langsung, serta menyelesaikan konflik tanpa perantara digital. Beberapa permainan digital pun dirancang dengan mekanisme hadiah yang seolah tak pernah berhenti, sehingga perlahan memicu ketergantungan dan menggerus kemampuan anak menghadapi rasa kecewa di kehidupan nyata.
Bila tidak dikendalikan, pengaruh ini berpotensi terbawa hingga anak dewasa. Generasi yang terlampau bergantung pada hiburan pasif berisiko mengalami penurunan kemampuan bekerja sama, kreativitas berbasis aktivitas fisik, sertaa kualitas kebiasaan hidup sehat. Padahal ketiganya menjadi bekali penting bagi produktivitas dan kesejahteraan hidup di masa dewasa. Berbeda halnya dengan anak yang memperoleh keseimbangan antara permainan tradisional dan modern; mereka cenderung tumbuh dengan kemampuan adaptasi teknologi yang baik tanpa mengorbankan kedewasaan sosial-emosionalnya.
Tidak semua jenis permainan masa kini layak diberikan kepada anak. Orang tua sebaiknya mewaspadai permainan yang memuat kekerasan atau nilai yang tidak sesuai dengan usia anak. Selain itu, waspadai pula permainan dengan mekanisme adiktif seperti hadiah tanpa batas dan mikrotransaksi, permainan yanag minim interaksi sosial, serta aplikasi yang meminta data pribadi anak tanpa jaminan keamanan yang memadai. Tanda-tanda ini semestinya menjadi sinyal peringatan sebelum sebuah permainan dibiarkan menjadi bagian rutinitas anak.
Sebagai upaya nyata, orang tua dan pendidik bisa menetapkan batasan waktu gawai yang masuk akal dan tetap diawasi, membiasakan anak kembali bermain di luar rumah atau memainkan permainan tradisional secara berkala, memilih aplikasi berlabel usia dengan tujuan edukasi jelas, serta sesekali turut bermain bersama anak agar kedekatan emosional terjalin. Sekolah dan komunitas sekitar pun dapat berkontribusi dengan menghadirkan ruang aman bagi anak untuk beraktivitas fisik dan bersosialisasi setiap hari.
Arus perubahan zaman memang tidak mungkin dihentikan, dan teknologi akan tetap menjadi bagian dari cara anak bermain di masa mendatang. Tantangan sesungguhnya bukan menolak perubahan itu, melainkan memastikan permainan tetap menjadi sarana tumbuh kembang yang seimbang, memadukan manfaat teknologi dengan kekuatan sosial, fisik, dan nilai yang menjadi bekal mereka kelak. Dengan pendampingan tepat dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, setiap pergeseran dalam dunia permainan anak dapat diarahkan menjadi peluang belajar, bukan ancaman bagi tumbuh kembang mereka.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment