Home Tulisan Ilmu Melimpah, Moral Terkikis 
Tulisan

Ilmu Melimpah, Moral Terkikis 

Share

Oleh: Hilda Aulia 

Kita hidup di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun anehnya, korupsi justru sering dilakukan oleh mereka yang dikenal sebagai orang saleh, bahkan hafal Al-Qur’an. Tokoh agama, pemuka masyarakat, pejabat yang gemar mengutip ayat suci di panggung dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tersandung kasus hukum karena mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya. Hal Ini bukan sekadar perbincangan yang menyedihkan. Akan tetapi hal ini sudah menjadi tanda bahwa bangsa kita sedang menghadapi krisis yang jauh lebih dalam dari sekedar kurangnya pengetahuan agama.

Setelah bertahun-tahun kita diajarkan bahwa semua masalah bangsa berakar dari kebodohan. Maka jawabannya selalu sama: perbanyak pendidikan, gelar pelatihan, lakukan penyuluhan. Tapi bagaimana kita bisa menjelaskan seorang koruptor yang lancar membaca Al-Qur’an? Atau seorang pejabat yang hafal hadis tentang amanah, namun justru mengkhianati rakyat yang mempercayainya? Jawabannya sederhana, walau terasa menyakitkan: yang sedang kita alami bukan krisis ilmu, melainkan krisis akhlak.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Para ulama klasik selalu mengingatkan: ilmu tanpa adab itu berbahaya, tapi adab tanpa ilmu pun menjadi kelemahan. Imam Al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental “Ihya Ulumuddin,” menegaskan bahwa puncak dari ilmu agama bukan sekadar kemampuan menghafal atau menguasai teks melainkan perubahan nyata dalam diri, menuju akhlak yang benar-benar mulia.

Akan tetapi sayangnya, sistem pendidikan kita hari ini seperti berjalan di dua rel yang tidak pernah bertemu. Kurikulum agama lebih sibuk mengukur seberapa banyak yang bisa dihafal, bukan seberapa dalam nilai itu meresap ke dalam diri. Seorang siswa dianggap berhasil kalau bisa menyebutkan rukun Islam dan rukun iman beserta dalil-dalilnya. Tapi bagaimana sikapnya kepada teman yang lebih lemah? Bagaimana perilakunya saat tidak ada yang mengawasi? Hal-hal seperti itulah yang hampir tidak pernah masuk dalam penilaian.

Yang kemudian lahir adalah generasi yang fasih bicara soal agama, tapi tidak benar-benar hidup dengan nilai-nilainya. Mereka tahu korupsi itu haram tapi ketika peluang datang dan kemungkinan ketahuan terasa kecil, pengetahuan itu tidak cukup kuat untuk menahan godaan. Ilmu sudah sampai di kepala, akan tetapi tidak pernah turun ke hati.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia bukan untuk memperbanyak hafalan, bukan untuk memperindah ritual. Akhlak. Itu inti dari misinya. Dan ini bukan hanya kebetulan. Sejak awal, Islam memang menempatkan akhlak bukan sebagai pelengkap ajaran, melainkan sebagai intinya.

Akhlak yang dimaksud di sini bukan hanya sekadar sopan santun dalam keseharian. Akhlak dalam Islam jauh lebih luas dari itu yaitu dapat mencakup kejujuran dalam berbisnis, amanah saat memegang jabatan, keadilan dalam setiap keputusan, dan keberanian untuk menolak kemungkaran meski datang dari orang yang berkuasa. Ini adalah akhlak yang berdimensi sosial dan politik, bukan hanya urusan pribadi.

Ketika seorang pejabat yang rajin shalat berjamaah dan berkali-kali menunaikan umrah, namun tetap terjerat korupsi hal itu bukan salah agamanya. Akan tetapi itu adalah tanda bahwa ritual yang dijalaninya belum berhasil membentuk akhlaknya. Padahal Alquran sudah tegas dalam Surah Al-Ankabut ayat 45: shalat seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Kalau shalat tidak mampu mencegah korupsi, berarti ada yang keliru, bukan pada ajarannya yang salah, akan tetapi pada cara kita memahami dan menghayatinya.

Tentu saja, kita tidak bisa meletakkan semua beban ini di pundak individu semata. Sistem yang rakus punya kekuatan untuk mengikis akhlak siapapun, termasuk mereka yang awalnya berniat baik. Ketika suap menjadi satu-satunya jalan untuk mendapat jabatan, ketika orang jujur malah tersingkir dari lingkaran kekuasaan, dan jika praktik koruptif sudah dianggap lumrah dalam budaya birokrasi, maka mereka yang tidak punya pondasi akhlak yang kuat dan akan sangat mudah terseret.

Maka dari itu, membangun akhlak tidak bisa dilepaskan dari upaya memperbaiki sistem. Pendidikan akhlak yang kuat akan melahirkan individu yang punya integritas cukup untuk menolak aturan main yang tidak benar. Dan sebaliknya, sistem yang sehat akan membuka jalan bagi orang-orang berakhlak untuk tumbuh dan berkontribusi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang mereka pegang.

Membangun akhlak bangsa bukan tanggung jawab sekolah seorang diri. Keluarga adalah sekolah pertama dan yang paling utama. Orang tua yang mengajarkan kejujuran bukan lewat ceramah, tapi lewat teladan nyata sehari-hari, memberikan bekal yang nilainya jauh melampaui pelajaran di kelas. Anak-anak yang tumbuh di keluarga yang jujur, adil, dan saling menghormati, kelak akan membawa nilai-nilai itu ke dalam kehidupan publik saat mereka dewasa.

Lembaga Pendidikan juga termasuk seperti pesantren dan madrasah juga perlu jujur mengevaluasi diri. Apakah selama ini kita benar-benar mengajarkan akhlak sebagai cara hidup, atau hanya sebagai bahan hafalan untuk ujian? Apakah lingkungan belajar yang kita ciptakan sudah menjadi tempat dimana kejujuran, tanggung jawab, dan empati benar-benar dipraktekkan setiap hari, bukan sekadar tertulis dalam kurikulum?

Para pemimpin agama pun tidak bisa lepas tangan. Ceramah dan khutbah yang hanya berkutat pada ancaman neraka dan janji surga, tanpa menyentuh persoalan nyata seperti korupsi, ketidakadilan, atau penyalahgunaan kekuasaan, tidak akan cukup untuk menggerakkan perubahan. Dibutuhkan keberanian para ulama untuk berbicara blak-blakan tentang dosa-dosa sosial yang sering kali jauh lebih merusak dibanding dosa-dosa personal.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak juga kekurangan hafiz Al-Qur’an. Tidak kekurangan juga orang yang paham betul teori kejujuran dan amanah. Akan tetapi yang di susah di temukan adalah mereka yang benar-benar menjalani nilai-nilai itu, seperti di ruang rapat, di balik meja jabatan, di saat tidak ada seorangpun yang melihat.

Krisis ini tidak akan selesai hanya dengan menambah jam pelajaran agama atau memperbanyak program hafalan. Penyelesaiannya membutuhkan perubahan cara pandang yang lebih mendasar: bahwa tujuan pendidikan agama bukan melahirkan orang yang banyak tahu tentang Tuhan, tapi orang yang benar-benar takut kepada-Nya, dan rasa takut itu tidak hanya tampak dalam ritual, akan tetapi tercermin dalam setiap pilihan dan tindakan nyata dalam hidup.

Karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dihafal. Ia diturunkan untuk dijalani. Orang yang sejati “menghafal” Al-Qur’an dalam makna yang sesungguhnya adalah orang yang menjadikan setiap ayatnya sebagai panduan nyata dalam bertindak. Bukan sekadar deretan huruf yang indah di lisan, tapi hampa di dalam hati.

Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Studi Islam yang diampu oleh Dr. Abdul Mukti S.Ag. MA, sekaligus sebagai upaya penulis dalam mengkaji dan merefleksikan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya terkait persoalan “Ilmu Melimpah, Moral Terkikis” di mana tingginya pengetahuan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas akhlak dan integritasnya dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. 

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.