Reporter : Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Grup musik Lomba Sihir menghadirkan lagu berjudul “Tak Ada Waktu Tepat untuk Berita Buruk”, karya yang sejak awal menarik perhatian karena mengangkat tema besar seputar kabar buruk, kegelisahan, dan perasaan manusia ketika harus menerima kenyataan pahit di waktu yang tak pernah terasa tepat. Lagu ini dirilis pada 6 September 2024 dan menjadi salah satu materi dalam album kedua Lomba Sihir, “Obrolan Jam 3 Pagi”.
Secara naratif, lagu ini menggambarkan pengalaman seseorang yang menjalani pagi seperti biasa, membalas pesan, mencari kafein, sebelum perlahan berhadapan dengan kabar yang mengganggu ketenangan hari itu. Suasana lagu dibuka dengan gambaran rutinitas sederhana sebelum masuk ke rasa berat yang perlahan menekan batin pendengarnya. Salah satu gagasan yang menonjol dari liriknya adalah bahwa tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk berita buruk berupa sebuah frasa yang menjadi inti emosional sekaligus judul lagu ini.
Jika didengarkan lebih jauh, liriknya tidak hanya berbicara tentang berita buruk dalam arti harfiah, tetapi juga tentang momen ketika seseorang dipaksa menerima sesuatu yang belum siap ia hadapi. Rasa kehilangan, penolakan, dan pasrah hadir dalam baris-baris yang menggambarkan bagaimana manusia sering tidak punya pilihan selain menelan kenyataan pahit seperti tergambar dalam bagian
Takkan ada
Waktu yang tеpat
Untuk berita buruk beri tahu dirimu
Tak ada yang bisa kau lakukan
Bagian ini menjadi pengingat bahwa ada keadaan yang berada di luar kendali manusia. Tidak semua hal dapat dicegah atau diubah. Pada akhirnya, yang dapat dilakukan hanyalah menerima kenyataan dan mencari cara untuk terus melangkah. Pada akhirnya, yang dapat dilakukan hanyalah menerima kenyataan dan mencari cara untuk terus melangkah. Makna tersebut semakin dipertegas melalui bait berikutnya.
Setelah masalah terakhir
Ku kira ku akan siap hadapi cobaan
Namun ku tetap terjungkir
Mau tak mau harus ku telan.
Bait ini menggambarkan kerapuhan manusia dalam menghadapi hidup. Seseorang mungkin merasa bahwa berbagai pengalaman pahit telah membuatnya lebih kuat dan lebih siap menghadapi cobaan berikutnya. Namun, ketika masalah baru benar-benar datang, ia tetap dapat merasa jatuh, rapuh, dan kewalahan. Pengalaman ternyata tidak selalu membuat seseorang kebal terhadap rasa sakit. Setiap cobaan memiliki bentuk dan luka yang berbeda sehingga tetap mampu mengguncang siapa pun yang mengalaminya. Perasaan tersebut kemudian berlanjut pada lirik berikutnya :
Tidak ada ancang tak sempat pikir matang
Rencana tak terancang jantung berdebar.
Melalui bagian ini juga, Lomba Sihir menunjukkan bahwa kehidupan sering kali tidak memberi aba-aba. Berita buruk hadir secara tiba-tiba, tanpa kesempatan untuk mempersiapkan diri. Kepanikan, kecemasan, dan ketidakpastian tergambar jelas, merepresentasikan respons alami manusia ketika dihadapkan pada situasi di luar prediksi.
Pada akhirnya, “Tak Ada Waktu Tepat untuk Berita Buruk” bukan sekadar lagu tentang menerima kabar buruk, melainkan refleksi tentang kerentanan manusia dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Lomba Sihir mengingatkan bahwa seberapa banyak pun seseorang telah melewati cobaan, bukan berarti ia akan selalu siap menghadapi luka berikutnya. Merasa jatuh, kewalahan, bahkan tidak siap adalah respons yang wajar ketika kenyataan datang tanpa peringatan. Namun, di tengah keterbatasan untuk mengendalikan keadaan, manusia tetap memiliki pilihan untuk menerima apa yang terjadi, bangkit secara perlahan, dan melanjutkan hidup meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang.
Secara keseluruhan, “Tak Ada Waktu Tepat untuk Berita Buruk” menjadi potret jujur tentang bagaimana manusia menghadapi kenyataan yang datang tanpa aba-aba. Melalui lirik yang sederhana tetapi sarat makna, dipadukan dengan aransemen yang memberi ruang bagi emosi pendengarnya, Lomba Sihir berhasil menghadirkan karya yang terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Alih-alih menawarkan solusi instan, lagu ini mengajak pendengar menerima bahwa hidup tidak selalu memberi waktu untuk bersiap. Justru dari pengakuan atas kerapuhan itulah, seseorang dapat menemukan keberanian untuk tetap melangkah menghadapi hari-hari berikutnya.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment