Home Tulisan Teknologi Digital: Tantangan Baru bagi Lansia dalam Mengakses Layanan Kesehatan
Tulisan

Teknologi Digital: Tantangan Baru bagi Lansia dalam Mengakses Layanan Kesehatan

Share

Oleh: Rizki Ismail, Bayu Rizky Ananda, dan Rezki Raplisal Siregar

Suara USU, Medan. Di era digital yang semakin maju, akses terhadap layanan kesehatan dan jaminan sosial seharusnya menjadi lebih mudah. Namun, bagi sebagian masyarakat, terutama lansia di daerah terbelakang, kemajuan teknologi justru menjadi hambatan baru. Kasus Ibu M (63) di Glugur Darat, Kecamatan Medan Timur, menjadi cermin nyata dari permasalahan ini.
Ibu M, yang juga merupakan seorang penderita TBC, menghadapi kesulitan dalam mengakses
layanan kesehatan dan jaminan sosial yang seharusnya menjadi haknya. Tanpa smartphone dan hanya ditemani oleh suaminya yang juga sudah lanjut usia, Ibu M merasa terisolasi dari sistem pelayanan kesehatan yang kini banyak beralih ke platform digital.

“Saya tidak punya HP canggih, nak. Kalau mau berobat atau urus jaminan kesehatan, saya
bingung harus bagaimana,” ungkap Ibu M saat ditemui di kediamannya yang sederhana. Kasus Ibu M bukanlah yang pertama. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Medan, setidaknya 30% lansia di kota ini mengalami kesulitan serupa dalam mengakses layanan kesehatan digital. Permasalahan ini semakin diperparah selama pandemi COVID-19, dimana banyak layanan beralih ke sistem online untuk mengurangi kontak fisik. Permasalahan teknologi yang dihadapi oleh lansia dalam mengakses layanan kesehatan di Kota Medan sangat nyata. Lansia seperti Ibu M menghadapi tantangan yang berlipat, baik dari segi keterbatasan perangkat teknologi maupun kemampuan dalam mengoperasikannya. Banyak diantara mereka yang tidak memiliki smartphone, yang saat ini menjadi kebutuhan mendasar dalam mengakses berbagai layanan, termasuk layanan Kesehatan.
Selain tidak memiliki perangkat, keterampilan menggunakan teknologi juga menjadi hambatan
besar. Sebagian besar lansia tidak terbiasa dengan penggunaan aplikasi atau teknologi modern, seperti aplikasi untuk mendaftar pengobatan atau konsultasi kesehatan secara daring. Akibatnya, mereka harus bergantung pada orang lain, seperti anggota keluarga, ataupun tetangga untuk mendapatkan akses ke layanan tersebut. Namun, bagi mereka yang hidup sendiri atau bersama pasangan yang juga sudah lanjut usia, keterbatasan ini semakin
memperparah keadaan Dedi, seorang Patient Support bagi orang dengan pengidap TBC di RS Haji Medan, menjelaskan, “Transisi ke layanan digital memang efisien, tapi kita tidak boleh melupakan mereka yang belum melek teknologi. Lansia seperti Ibu M adalah kelompok yang paling rentan tertinggal.”

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus berupaya meningkatkan
aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat, termasuk lansia. Dalam upaya ini, BPJS Kesehatan telah meluncurkan beberapa program yang bertujuan mengatasi keterbatasan lansia dalam mengakses teknologi dan pelayanan kesehatan. Salah satu langkah utama yang diambil adalah pemberian bantuan iuran bagi lansia yang kurang mampu. Program ini dirancang untuk meringankan beban ekonomi para lansia, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa khawatir tentang biaya. “Kami sadar bahwa banyak lansia mengalami kesulitan finansial yang
menghalangi mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” kata seorang
perwakilan BPJS Kesehatan. “Dengan bantuan iuran, kami berharap dapat membantu mereka
merasakan manfaat dari sistem jaminan kesehatan yang ada.”

Selain itu, BPJS Kesehatan juga melakukan pelatihan penggunaan teknologi bagi lansia. Ini
termasuk pengenalan alat bantu seperti aplikasi kesehatan dan perangkat digital lainnya yang
dapat membantu mereka dalam mengakses layanan kesehatan secara lebih mandiri. “Pelatihan ini sangat penting karena banyak lansia yang masih belum familiar dengan teknologi modern,” tambah perwakilan tersebut. “Dengan pelatihan ini, diharapkan para lansia dapat merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam menggunakan teknologi.”Kasus Ibu M dan ribuan lansia lainnya di Medan menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, kita tidak boleh melupakan mereka yang tertinggal. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang paling rentan.

Artikel ini ditujukan untuk memenuhi mata kuliah Asuransi dan Sistem Jaminan Sosial dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP., dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.