Oleh: Nurul Muslimah/Devi Audea/Fitri Handayani Manalu
Suara USU, Medan. Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di berbagai wilayah, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap curah hujan tinggi, buruknya sistem drainase dan permukaan tanah lebih rendah dibandingkan sumber permukaan air. Banjir terjadi ketika air dari hujan, sungai, atau sumber lainnya meluap dan menggenangi permukiman, infrastruktur, dan lahan pertanian. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim global, yang menyebabkan peningkatan curah hujan ekstrem di beberapa wilayah..
Di Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang, banjir merupakan masalah yang terjadi secara berkala, dengan frekuensi yang cukup tinggi. Banjir di kawasan ini biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari genangan air yang dangkal hingga banjir besar yang melumpuhkan aktivitas warga. Penyebab utama banjir di Kelurahan Beringin adalah awan hujan yang datang dari pegunungan sekitar, yang menyebabkan curah hujan tinggi di wilayah tersebut. Tidak semua wilayah Kelurahan Beringin mengalami banjir, hanya wilayah yang permukaan tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan tanah disekitarnyalah yang terdampak banjir.
Banjir di Kelurahan Beringin menimbulkan berbagai dampak yang merugikan, baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Secara sosial, masyarakat terdampak mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari karena rumah mereka terendam air. Kerugian material yang ditimbulkan meliputi rusaknya rumah, kendaraan, barang-barang elektronik, dan infrastruktur umum seperti jalan. Dalam jangka panjang, banjir ini juga membawa dampak psikologis bagi warga yang trauma, serta menurunkan kualitas lingkungan akibat pencemaran air dan rusaknya ekosistem sekitar.
Intervensi pemerintah sangat penting dalam menangani bencana banjir dan memastikan masyarakat dapat pulih dengan cepat pasca kejadian. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan bantuan darurat saat banjir, seperti penyediaan tempat pengungsian, distribusi makanan dan air bersih, serta layanan kesehatan bagi korban banjir. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab dalam rehabilitasi pasca-banjir, termasuk perbaikan infrastruktur yang rusak, pembersihan wilayah terdampak, serta penyediaan bantuan material bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Upaya Pemerintah dalam Penanganan Pasca Banjir di Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang
Pemerintah bersama masyarakat terus berupaya memulihkan kondisi pasca banjir di Kelurahan Beringin, Medan Selayang. Banjir yang melanda daerah ini beberapa waktu lalu berdampak signifikan terhadap kehidupan warga, yang merusak infrastruktur, serta mengancam kesehatan masyarakat. Untuk itu,ada beberapa langkah-langkah penanganan pasca banjir yaitu
1. Evakuasi dan Penyaluran Bantuan
Begitu banjir melanda, pemerintah segera melakukan evakuasi warga yang terdampak dengan bantuan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), TNI, serta tim relawan. Warga yang berada di daerah dengan risiko tinggi banjir dievakuasi ke tempat aman seperti daratan tinggi dan dibuatlah posko-posko untuk pengungsian Sebagai langkah preventif, pemerintah kelurahan Beringin menghidupkan sistem peringatan dini dengan membunyikan lonceng sebagai tanda darurat, sehingga warga dapat segera mengambil tindakan untuk melindungi diri dan keluarga mereka saat bencana terjadi.
Adanya Bantuan logistik yang langsung disalurkan kepada warga yang terdampak Seperti kebutuhan pokok makanan, air bersih, dan obat-obatan dibagikan untuk memastikan warga tetap bisa bertahan selama masa krisis.
2. Pembersihan dan Rehabilitasi Infrastruktur
Setelah banjir surut, pemerintah segera bergerak membersihkan daerah yang terdampak. Proses pembersihan ini melibatkan partisipasi warga dan petugas kebersihan, termasuk pengerahan alat berat untuk mengangkat puing-puing dan lumpur yang tertinggal.
Rehabilitasi Rumah dan Fasilitas Umum
Dalam rehabilitas Rumah dan fasilitas umum, pemerintah bersama masyarakat menggelar program pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak akibat banjir. Proses rehabilitasi ini dilakukan secara gotong royong antara warga dan pemerintah kelurahan. Warga terlibat langsung dalam membangun rumah mereka, sementara pemerintah menyediakan bantuan material serta dukungan teknis.
3. Partisipasi Masyarakat
Pemerintah memastikan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga berperan aktif dalam proses pemulihan. Gotong royong antara warga dan pemerintah yang dimana setiap hari sabtu warga kelurahan Seberingin selalu ikut andil gotong royong di kelurahan lain.untuk mengurangi sampah-sampah yang bertumpuk yang mengakibatkan banjir serta dapat menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
4. Program Jangka Panjang
Untuk mencegah bencana banjir di masa depan, pemerintah telah meluncurkan program penggalian dan perbaikan saluran drainase (paret) di wilayah rawan banjir di Kelurahan Beringin. Program ini bertujuan untuk memperbaiki sistem drainase yang tersumbat dan tidak berfungsi optimal selama musim hujan. Diharapkan, dengan perbaikan ini, risiko banjir di masa depan dapat ditekan dan masyarakat dapat hidup dengan lebih tenang.
5. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan pemerintah kelurahan untuk mengatasi bencana banjir berupa pemantauan banjir melalui sistem alarm peringatan banjir yang difasilitasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain penyediaan fasilitas alarm peringatan, kelurahan Beringinn juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai dan sudah dilakukan penggalian drainase (parit) guna mencegah mampet pada saluran air atau sungai.
Bencana banjir yang terjadi di kelurahan Beringin kerap terjadi ketika terjadi hujan. Namun, intensitas curah hujan menentukan seberapa tinggi banjir yang dialami oleh kelurahan Beringin. Semakin besar curah hujan yang terjadi, maka semakin tinggi pula tinggi banjir yang melanda. Untuk menangani banjir tersebut, pemerintah daerah melakukan beberpa upaya, yakni penyediaan fasilitas alarm peringatan dini pendeteksi banjir. Fasilitas alarm peringatan tersebut disediakan oleh Badan Pusat Penanggulangan Bencana Daerah. Selain penyediaan alat mitigasi, pemerintah daerah juga menggelontorkan sejumlah bantuan pasca bencana kepada warga yang terdampak. Bantuan tersebut berupa bantuan uang tunai, kasur, dan bahan sembako. Upaya lain juga sudah pernah dilakukan di kelurahan Beringin, yakni upaya penggalian drainase (parit) guna mencegah terjadinya mampet dan sungai untuk meluap ke permukaan. Guna meningkatkan ketahanan masyarakat yang terdampak banjir di kelurahan Beringin, harapannya masyarakat lebih siap siaga ketika terjadi banjir, dengan diberikan pelatihan dan simulasi mengenai apa yang harus dilakukan ketika akan terjadi banjir, saat terjadi banjir, dan setelah terjadi banjir. Pengelolaan sumber daya air juga bisa untuk lebih ditingkatkan guna mengurangi resiko banjir. Pembangunan berkelanjutan juga kedepannya bisa diupayakan, dengan perencanaan tata ruang kelurahan atau daerah dengan mempertimbangkan resiko bencana yang memungkinkan.
Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Manajemen Penanggulangan Bencana dengan Dosen Pengampu Ibu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP., dan Ibu Dra. Berlianti, M.SP.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment