Home Musik Alunan Temu, Rindu yang Bersemayam di Balik Layar
Musik

Alunan Temu, Rindu yang Bersemayam di Balik Layar

Share

Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi

Suara USU, Medan. Lagu Alunan Temu merupakan karya kolaborasi Bilal Indrajaya, Isyana Sarasvati, dan Hindia yang dirilis pada tahun 2022 dalam rangka kampanye Ramadan bertajuk #KembaliSilaturahmi. Lagu ini hadir menjelang berakhirnya masa pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang harus menjalani hari-hari dengan keterbatasan dalam bertemu secara langsung dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Dalam situasi tersebut, silaturahmi yang biasanya dilakukan dengan hangat berubah menjadi interaksi melalui layar.


Dalam lagu ini, kondisi tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk yang penuh emosi, tentang rindu, jarak, dan harapan untuk bisa kembali bertemu setelah lama terpisah. Lagu ini tidak hanya menjadi pengingat masa pandemi, tetapi juga menggambarkan perasaan yang tetap relevan hingga saat ini, bahkan setelah keadaan kembali normal.


Salah satu hal yang membuat lagu ini terasa dekat dengan pengalaman banyak orang adalah cara beberapa bagian liriknya merekam perjalanan emosi dari sepi hingga kembali bertemu. Lagu ini dibuka dengan suasana keterasingan, seperti pada lirik “Tiada siapa pun tuk berbincang, sendiri terasa jarak terbentang,” yang menggambarkan rasa sepi dan jarak yang terasa begitu dingin.

Namun, seiring irama lirik berjalan, muncul harapan untuk tetap terhubung, seperti pada lirik “Kini kutemukan alasan pulang,” yang menunjukkan adanya dorongan untuk kembali kepada orang-orang yang dirindukan. Rasa rindu tersebut kemudian semakin terasa pada bagian “Senyum di layar yang kutatap kini, kan kusapa dalam hitungan hari,” yang merefleksikan bagaimana layar menjadi perantara utama dalam menjaga hubungan ketika pertemuan langsung tidak memungkinkan. Di sini, teknologi hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kerinduan dengan orang terdekat.


Puncak emosional lagu ini terlihat pada reff yang dibuka dengan larik ”Urai Semua derai air mata” gambaran tangis yang akhirnya pecah setelah lama tertahan. Dari titik ini, lagu bergerak melalui baik yang menggambarkan suasana malam yang tenang, tentang saling melepaskan kesalahan dan saling memaafkan, seolah menjadi jeda untuk meredakan emosi sebelum benar-benar lega. Reff kemudian diulang dengan larik penutup yang membawa ketenangan ”..tercurahkan semua cinta,” menandai momen pertemuan kembali sebagai ruang pelepasan emosi setelah jarak panjang. Dari rangkaian lirik tersebut, terlihat jelas perjalanan perasaan yang dibangun dalam lagu ini, dari kesepian, rindu, penantian, hingga akhirnya kembali bertemu.


Seiring berakhirnya masa pandemi, makna yang dibawa dalam lagu ini tidak berhenti sampai disitu. Rasa rindu untuk bertemu dan berkumpul tetap hadir dalam bentuk yang berbeda. Jarak kini tidak lagi semata disebabkan oleh pembatasan sosial, melainkan juga oleh pilihan hidup seperti pendidikan dan pekerjaan. Dalam konteks ini, lagu Alunan Temu tetap terasa relevan karena menggambarkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang, termasuk mahasiswa yang merantau jauh dari kampung halaman.


Kehidupan mahasiswa sering kali identik dengan perpisahan sementara dari rumah. Demi menempuh pendidikan dan mengejar cita-cita, banyak mahasiswa harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang tidak singkat. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, tugas, organisasi, hingga keterbatasan waktu dan biaya untuk pulang, tidak jarang momen-momen penting bersama keluarga harus dilewatkan begitu saja.


Akibatnya, komunikasi dengan keluarga lebih sering terjadi melalui layar. Panggilan video dan pesan singkat menjadi penghubung utama untuk menjaga kedekatan, meskipun tidak selalu mampu menggantikan kehadiran secara langsung. Dalam situasi seperti ini, lirik dalam lagu Alunan Temu terasa semakin dekat dengan realitas, karena menggambarkan pertemuan yang digantikan oleh ruang digital.


Di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa meskipun teknologi memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, teknologi tidak sepenuhnya mampu menggantikan makna kebersamaan secara langsung. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan ketika bertemu secara tatap muka, yaitu kehangatan, sentuhan fisik, dan momen sederhana yang tidak tergantikan.

Pada akhirnya, lagu Alunan Temu tidak hanya hadir sebagai lagu yang lahir dari masa pandemi, tetapi juga sebagai refleksi setelahnya. Lagu ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan meraih mimpi, selalu ada jarak yang harus dijalani sementara, serta pertemuan yang selalu dinanti untuk kembali pulang.

Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.