Reporter: Khairani dan Diva Zia
Suara USU, Medan. Pada (26/11), Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) menggelar talkshow bertajuk “From Fear to Freedom: The Journey to A Resilient Campus”. Acara yang berlangsung di Gelanggang Mahasiswa USU ini menjadi bagian dari peringatan 16 Hari Aktivisme Melawan Kekerasan Berbasis Gender (HAKTP), sebuah kampanye global yang diadakan setiap tahun pada 25 November hingga 10 Desember.
Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga kampus mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif serta menyoroti upaya perlindungan dari kekerasan fisik dan seksual, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi. Melalui kegiatan ini, USU juga mensosialisasikan Peraturan Rektor No. 19 Tahun 2024 yang mengatur tentang mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan di kampus, sekaligus memperkenalkan peran Unit PPK sebagai garda depan dalam memberikan perlindungan bagi korban.
Sekretaris Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Muhammad Fidel Ganis Siregar M.Ked(OG), Sp.O.G, Subsp.F.E.R, dalam sambutannya, menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi isu serius di dunia pendidikan yang harus segera diatasi. “Kampus tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga ruang aman bagi seluruh penghuninya. Dengan adanya Unit PPK, kami berkomitmen untuk terus mendukung para penyintas, melindungi hak-hak mereka, dan menciptakan lingkungan yang tangguh serta ramah bagi semua,” ujar Prof. Fidel.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam acara ini, mulai dari mahasiswa, organisasi non-pemerintah, hingga komunitas lokal yang bersama-sama menunjukkan solidaritas dalam mendukung kampanye anti kekerasan berbasis gender.
Talkshow ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang termasuk pakar pemberdayaan perempuan, perwakilan organisasi non-pemerintah, dan Unit PPK USU, di antaranya yaitu Ketua Unit PPK USU, perwakilan dari DP3AKB Provsu dan perwakilan dari Digitally, tante. Salah satu sesi utama adalah pemaparan mengenai kebijakan USU yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan serta laporan mengenai kondisi kekerasan berbasis gender di kampus.
Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan seni oleh mahasiswa dari Departemen Kesejahteraan Sosial, sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh Girl Up Medan, dan penampilan tari dari komunitas pengungsi di Medan. Selain itu, peserta diajak untuk berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi dalam mendorong lingkungan kampus yang lebih inklusif dan bebas kekerasan.
Ketua panitia, Dr. Hairani Siregar, S.Sos, M.SP, menyampaikan bahwa acara ini diharapkan mampu meningkatkan empati dan pemahaman warga kampus terhadap isu kekerasan berbasis gender. “Melalui diskusi ini, kami ingin membangun rasa percaya terhadap kebijakan dan sistem yang ada, sehingga setiap korban merasa aman dan didukung untuk berbicara,” jelasnya.
Acara ini juga menjadi ajang untuk mempererat kerja sama antara berbagai elemen, baik internal kampus maupun eksternal, guna menciptakan langkah strategis yang berkelanjutan dalam pencegahan kekerasan. Dengan kolaborasi yang kuat, USU berharap dapat menjadi pelopor kampus tangguh dan inklusif yang benar-benar mendukung kesejahteraan seluruh warganya.
Diharapkan melalui kegiatan ini, kesadaran kolektif mengenai pentingnya perlindungan terhadap hak asasi manusia, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan, dapat terus meningkat, tidak hanya di kampus USU, tetapi juga di Sumatera Utara secara umum.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean