Home Tulisan Analisis Sistem Sumber Sosial dalam Penanganan Kasus Remaja Putus Sekolah Akibat Kemiskinan di Kota Medan
Tulisan

Analisis Sistem Sumber Sosial dalam Penanganan Kasus Remaja Putus Sekolah Akibat Kemiskinan di Kota Medan

Share

Oleh: Ikhsanul Haslansyah Putra

Suara USU, Medan. Permasalahan remaja putus sekolah merupakan salah satu bentuk masalah sosial yang mendesak untuk ditangani di Kota Medan, terutama pada wilayah padat penduduk dan rentan secara ekonomi. Salah satu contoh kasus adalah F (16 tahun), remaja dari kawasan Medan Deli, yang terpaksa berhenti sekolah sejak duduk di kelas dua SMP karena kondisi ekonomi keluarga yang memburuk. Ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai buruh bangunan, sementara ibunya bekerja sebagai buruh cuci harian yang penghasilannya tidak menentu. Tekanan ekonomi membuat F harus ikut bekerja membantu keuangan keluarga, dan akhirnya terjebak dalam lingkaran putus sekolah. Meskipun F masih memiliki keinginan kuat untuk kembali belajar, minimnya informasi, dukungan sosial, serta akses terhadap sumber bantuan membuat keinginannya sulit terwujud.

Dalam praktik pekerjaan sosial, identifikasi sistem sumber di sekitar klien menjadi langkah penting dalam proses asesmen kasus dan intervensi. Sistem sumber mencakup lembaga formal maupun informal yang memiliki potensi untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya atau menyelesaikan permasalahannya. Di lingkungan tempat tinggal F, terdapat beberapa sistem sumber yang dapat diakses dan dimanfaatkan dalam upaya penanganan kasus putus sekolah yang ia alami.

Pertama, lembaga formal yang paling relevan adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). PKBM merupakan lembaga pendidikan non-formal yang menyediakan program kesetaraan seperti Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA) bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan di jalur formal. PKBM cukup dekat secara geografis dan operasional dengan lingkungan tempat tinggal F. Pengaruh PKBM terhadap peluang F untuk kembali belajar sangat besar karena PKBM bersifat fleksibel, murah, dan dirancang untuk anak yang mengalami hambatan ekonomi atau sosial dalam pendidikan formal.

Kedua, Dinas Sosial Kota Medan merupakan lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan kebijakan dan program kesejahteraan sosial di tingkat kota. Dinas Sosial memiliki peran penting dalam menyediakan bantuan sosial tunai, program rehabilitasi sosial, serta layanan rujukan bagi anak dan remaja yang mengalami permasalahan sosial. Meskipun Dinas Sosial tergolong sebagai lembaga dengan jarak administratif (birokrasi) yang lebih jauh dari klien, pengaruhnya sangat besar karena lembaga ini dapat memberikan akses terhadap program yang lebih luas, termasuk dukungan logistik dan psikososial.

Ketiga, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Yayasan Pusaka Indonesia memiliki peran signifikan dalam mendampingi anak-anak putus sekolah di Kota Medan. LSM ini telah bekerja sama dengan PKBM dan pemerintah daerah untuk membantu kelompok rentan mendapatkan akses pendidikan dan layanan sosial dasar. Yayasan ini mungkin tidak berada tepat di lingkungan F, namun mereka memiliki jaringan relawan lokal dan program outreach yang membuat mereka cukup mudah dijangkau. Pengaruhnya besar, terutama dalam hal pendampingan, pemberdayaan, dan advokasi kebijakan.

Keempat, Puskesmas dan Posyandu Remaja di wilayah Medan Deli juga dapat menjadi sumber pendukung yang penting. Selain memberikan layanan kesehatan fisik dan mental, Puskesmas menyediakan layanan konseling remaja yang dapat membantu F dalam menghadapi tekanan sosial dan emosional akibat situasinya. Puskesmas tergolong lembaga yang dekat secara fisik dan berpengaruh sedang, terutama jika diintegrasikan dalam kerja kolaboratif dengan pekerja sosial dan lembaga pendidikan.

Kelima, tokoh masyarakat dan tokoh agama, seperti ketua lingkungan, ustaz lokal, atau pengurus masjid, sering kali memiliki pengaruh sosial yang cukup kuat di masyarakat. Mereka bisa menjadi fasilitator, pemberi motivasi, atau bahkan penghubung antara keluarga klien dan lembaga bantuan. Jaraknya sangat dekat dengan klien secara sosial dan geografis, walaupun pengaruh langsung terhadap akses pendidikan mungkin lebih kecil dibanding lembaga formal.

Keenam, keluarga klien, dalam hal ini orang tua dan saudara, merupakan sistem sumber paling dekat secara emosional dan sosial. Namun, dalam kasus F, keluarga saat ini memiliki pengaruh kecil karena keterbatasan ekonomi dan rendahnya literasi pendidikan. Oleh karena itu, pekerja sosial perlu memberdayakan keluarga untuk meningkatkan peran mereka dalam mendukung pendidikan anak.

Ketujuh, Sekolah Terbuka atau Sekolah Alternatif, yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan, bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang tidak dapat bersekolah penuh waktu. Namun, jaraknya cukup jauh secara fisik dan prosedural, dan pengaruhnya terhadap F akan kecil jika tidak ada pendampingan khusus dalam proses pendaftaran dan adaptasi.

Berdasarkan analisis tersebut, dapat disusun sebuah strategi intervensi sosial yang menempatkan lembaga-lembaga dengan kedekatan dan pengaruh tinggi sebagai mitra utama dalam proses pemulihan kondisi klien. Lembaga seperti PKBM, Dinas Sosial, dan LSM harus menjadi fokus dalam rujukan utama, sementara dukungan dari Puskesmas, keluarga, dan tokoh masyarakat dilibatkan sebagai sistem penguat yang mendorong keberhasilan intervensi secara menyeluruh. Pekerja sosial berperan penting dalam menjembatani klien dengan sistem sumber ini, dengan pendekatan empatik, berbasis kekuatan, dan kolaboratif.

Artikel ini merupakan bagian dari publikasi pemenuhan tugas mata kuliah Praktikum Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos M.Kesos.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.