Home Tulisan Sempat Tak Punya Tujuan, Pekerja Sosial menjadi Panggilan Hidup di Tengah Realitas Sosial
Tulisan

Sempat Tak Punya Tujuan, Pekerja Sosial menjadi Panggilan Hidup di Tengah Realitas Sosial

Share

Oleh: Muthia El Istiqomah Siregar, Jihan Marwa Alya, Fadila Rahma Batubara, Nelly Nadezda Berzanti Novna

Suara USU, Medan. Dalam UU No.14 Tahun 2019, Pekerja Sosial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi. Praktik Pekerjaan Sosial adalah penyelenggaraan pertolongan profesional yang terencana, terpadu, berkesinambungan dan tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta memulihkan dan meningkatkan keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

Kami, dari kelompok 2 yang beranggotakan Muthia El Istiqomah Siregar dengan NIM 240902033, Jihan Marwa Alya dengan NIM 240902041, Fadila Rahma Batubara dengan NIM 240902043, dan Nelly Nadezda Berzanti Novna dengan NIM 240902065, mahasiswa semester dua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, dengan dosen pengampu mata kuliah Metode-Metode Pekerjaan sosial Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., telah melaksanakan observasi dan wawancara di Yayasan Rehabilitasi NAPZA Medan Plus yang beralamat di Jl. Jamin Ginting Jl. Pasar VII No.45, Beringin, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara 2013. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2025. Salah satu tujuan kami melakukan observasi wawancara di Yayasan rehabilitasi ini adalah ingin mengetahui apa yang menjadi motivasi salah satu pekerja sosial disana memilih pekerjaan tersebut.

Pada kesempatan kali ini kami berkesempatan mewawancarai Romauli Sitanggang, salah satu alumni Kesejahteraan Sosial FISIP USU Angkatan 2007, seorang pekerja sosial profesional terakreditasi di Yayasan Rehabilitasi Napza Medan Plus, menunjukkan bahwa keterlibatannya di bidang pekerjaan sosial dimulai sejak tahun 2015. Motivasi Romauli dalam menekuni profesi pekerjaan sosial tidak muncul sejak awal masa kuliahnya. Ia memilih jurusan Kesejahteraan Sosial di Universitas Sumatera Utara sebagai pilihan ketiga. Ia masih belum memiliki gambaran tentang pekerja sosial hingga semester lima, bahkan merasa bingung karena dimasanya pekerja sosial belum terlalu dilirik tidak seperti sekarang. Kesadaran dan ketertarikan terhadap bidang ini tumbuh seiring pengalaman langsung di lapangan yang membuka matanya terhadap realitas sosial. Ia menyadari bahwa di lapangan banyak kehidupan yang tidak terpikir sehingga membuat diri sendiri menjadi lebih banyak bersyukur “ Terkadang kepala keluarga untuk mendapatkan uang 30 ribu itu sangat susah loh, kita bayangin minum chatime, kopi, dan banyak hal lainnya. Sedangkan mereka harus menghidupi keluarga, ” ujarnya. Ia menyatakan bahwa keterlibatannya membuatnya merasa lebih bersyukur dan memiliki semangat untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.

Sebelumnya, ia sempat bekerja di sektor swasta, yaitu di perusahaan ritel dan distribusi. Ia bergabung dalam formasi besar-besaran pekerja sosial profesional yang dibuka oleh Kementerian Sosial pada tahun 2015. Penempatan awalnya adalah di IPWL Binjai, namun karena penutupan lembaga tersebut, ia dipindahkan ke Panti Rehabilitasi Napza Medan Plus pada Januari 2016, tempat di mana ia telah bekerja hingga saat ini.

Dari wawancara tersebut kami mendapatkan banyak wawasan baru, bukan hanya tentang alasan kenapa Romauli Sitanggang memilih profesi tersebut, melainkan bagaimana perjalanan karir beliau juga bagaimana motivasi tersebut tumbuh seiring berjalannya waktu. Kisah kak Romauli Sitanggang mengajarkan bahwa penuh keraguan di awal dan pilihan ketiga dalam pemilihan universitas pun bisa menjadi yang paling bermakna pada akhirnya. Profesi ini bukanlah suatu profesi yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang, bukan juga profesi yang bisa dianggap remeh. Profesi pekerja sosial ini membutuhkan keterampilan profesional dan menumbuhkan begitu banyak kesadaran diri, bahwa banyak diluar sana yang membutuhkan pertolongan dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Menyadarkan kami bahwa profesi ini bukan hanya sebuah pekerjaan tapi juga merupakan panggilan hati untuk hadir dan menjadi berkat bagi sesama.

Sebagai mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU, wawancara ini menjadi titik balik yang penting. Bahwa di balik setiap profesi pekerja sosial, ada cerita yang tidak diduga dan perjuangan untuk terus hadir bagi mereka yang membutuhkan. Semoga kisah dari Kak Romauli menjadi inspirasi bagi generasi muda dan mahasiswa Kesejaheteraan Sosial untuk tidak hanya hadir secara profesional, tetapi juga secara manusiawi.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Metode-Metode Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.,

 

Redaktur: Indira Rivany

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.