Reporter: Siti Farhatun Nafis Azhari dan Muhassanah Nasution
Suara USU, Medan. Aksi demonstrasi bertajuk “Menuju Indonesia Gagal” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sumatera Utara (USU), Senin (15/06), ditutup dengan kegiatan mimbar bebas di persimpangan Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Petisah Tengah, Kota Medan. Dalam kegiatan tersebut, massa aksi menyampaikan orasi dan membacakan puisi sebagai ruang refleksi sekaligus komitmen untuk terus mengawal tuntutan hingga tingkat nasional.
Mimbar bebas dimulai sekitar pukul 16.40 WIB setelah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara, Erni Ariyanti Sitorus, menandatangani surat pernyataan sikap yang diajukan massa aksi di depan Gedung DPRD Sumut. Penandatanganan tersebut menjadi bentuk penerimaan atas aspirasi yang disampaikan massa.
Kegiatan dibuka dengan orasi yang disampaikan Koordinator Aksi, Muhammad Thoriq Alfatih. Selanjutnya, Suci Rohana Pane membacakan puisi Sajak Sebatang Lisong karya W.S. Rendra. Puisi tersebut menjadi kritik sosial terhadap berbagai persoalan yang dinilai masih dihadapi masyarakat, seperti tingginya angka pengangguran dan belum meratanya akses pendidikan.
Mimbar bebas kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi berjudul Menggugat Rezim Penindas karya Andreas Mario Owen. Salah satu bait yang dibacakannya berbunyi:
Jangan lagi mau diam, jangan mau ditindas!
Oleh segelintir orang yang suka menggilas
Mereka duduk nyaman di kursi empuk kekuasaan
Sambil menginjak-injak harkat dan kemanusiaan
Menurut Andreas, puisi tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap kondisi Indonesia saat ini.
“Dari puisi ini, saya memaknai bahwa negara kita sedang berada di era kegelapan, dalam artian krisis ekonomi, krisis sumber daya manusia, dan krisis lainnya. Hal ini terjadi karena pemerintah saat ini sangat tuli akan kedaulatan negara,” ujarnya.
Salah satu massa aksi dalam orasinya turut mengingatkan mahasiswa agar terus menjalankan perannya sebagai penyambung aspirasi masyarakat.
“Kita sebagai mahasiswa harus menyampaikan aspirasi yang memihak pada rakyat. Kita mengemban tugas sebagai penyambung suara dan agent of change, bukan menjadi mahasiswa yang apatis,” tegasnya.
Thoriq mengatakan bahwa kegiatan mimbar bebas dengan konsep duduk melingkar tersebut merupakan gerakan murni mahasiswa USU. Menurutnya, agenda tersebut menjadi bentuk apresiasi, ekspresi, sekaligus perayaan atas keberhasilan mahasiswa menyampaikan tuntutan dalam aksi yang telah dilaksanakan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa belum berakhir. Tuntutan yang telah disampaikan masih perlu dikawal hingga memperoleh tanggapan dan implementasi di tingkat nasional. Oleh karena itu, mimbar bebas tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk terus mengawal tuntutan yang telah diajukan.
Setelah rangkaian orasi dan pembacaan puisi selesai, massa aksi membubarkan diri sekitar pukul 17.20 WIB. Diiringi sorak-sorai semangat, mereka berjalan dengan tertib menuju titik kumpul di Taman Kebun Bunga Medan.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment