Oleh: Ruth Jelita Laia
Di tengah arus lagu populer yang banyak mengangkat kisah patah hati, romansa, atau ambisi mengejar mimpi, Tulus kembali menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui lagu terbarunya berjudul Teh Hijau. Lagu yang dirilis pada 30 Juni 2026 ini bukan sekadar penanda kembalinya Tulus setelah beberapa tahun tidak merilis lagu baru, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi tentang kehampaan, penerimaan diri, dan keberanian untuk tetap melangkah ketika hidup terasa tidak utuh.
Tidak mengherankan apabila sambutan terhadap lagu ini begitu besar. Dalam waktu singkat, Teh Hijau berhasil menembus Top 5 Global Top Songs Debut Spotify, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa musik sederhana yang berisi refleksi personal tetap mampu berbicara kepada pendengar lintas negara. Lagu ini juga langsung menjadi rilisan terbaru Tulus di berbagai platform streaming musik.
Selama ini, Tulus dikenal sebagai penyanyi yang piawai mengemas emosi sederhana menjadi pengalaman yang terasa sangat personal, seperti pada lagu Monokrom yang berbicara tentang kenangan, atau dalam lagu Diri yang mengisahkan penerimaan terhadap diri sendiri, maka Teh Hijau hadir sebagai kelanjutan perjalanan tersebut. Kali ini, yang dihadapi bukan lagi luka yang harus disembuhkan, melainkan ruang kosong yang sering kali sulit dijelaskan.
Kehampaan merupakan pengalaman yang dirasakan hampir setiap orang, yakni saat seseorang tidak sedang bersedih, tetapi juga tidak benar-benar merasa bahagia. Rutinitas berjalan sebagaimana mestinya, pekerjaan selesai, target tercapai, tetapi tetap ada perasaan hampa yang sulit diberi nama. Dalam kondisi seperti itu, banyak orang justru memaksa dirinya untuk terus terlihat kuat, produktif, dan baik-baik saja.
Melalui Teh Hijau, Tulus menawarkan perspektif yang berbeda. Lagu ini tidak mengajak pendengarnya melawan kehampaan dengan tergesa-gesa, melainkan mengajak untuk menerima bahwa tidak semua ruang kosong dalam hidup harus segera diisi. Ada kalanya seseorang hanya perlu mengakui bahwa dirinya sedang berada dalam fase yang tidak baik-baik saja. Hal itu tergambar sejak awal lagu melalui penggalan lirik:
Ada yang hilang dariku belakangan
Sedang tak mudah bertemu rasa senang
Sedang kucari yang jadi pencetusnya
Mungkin hilangnya atau siklus hidupku
Lirik ini mewakili pengalaman banyak orang ketika kehilangan arah tanpa benar-benar mengetahui penyebabnya. Kehampaan ternyata tidak selalu lahir karena peristiwa besar, terkadang ia datang sebagai bagian dari siklus kehidupan yang sulit dijelaskan. Kesadaran bahwa seseorang sedang berada dalam fase tersebut membawa konsekuensi lain, yakni jatuh cinta bukan lagi menjadi prioritas.
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati tuk apa pun, siapa pun
Bukan karena kehilangan kemampuan untuk mencintai, melainkan karena hati yang belum selesai berdamai dengan diri sendiri, sehingga belum memiliki ruang yang cukup untuk menerima orang lain. Di sinilah letak kedewasaan pesan yang ingin disampaikan Tulus. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi oleh kehadiran orang lain. Ada luka yang memang harus dipulihkan secara perlahan oleh diri sendiri, bukan diserahkan kepada orang lain untuk menyembuhkannya.
Tulus seolah mengajak pendengarnya untuk menikmati proses pemulihan tanpa terburu-buru. Berteman dengan alam, menikmati secangkir teh, membaca buku, atau sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat merupakan bentuk-bentuk perayaan kecil yang sering kali terlupakan. Mungkin semua itu tidak langsung menjadi penawar luka, tetapi setidaknya mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat tumbuh dari hubungan yang sehat dengan diri sendiri.
Pesan tersebut terasa melalui penggalan lirik berikut:
Tanpa itu
Tanpanya
Apa pun yang mungkin hilang itu
Mungkin ini siklusnya
Sudah garis jalannya
Esok
Esok akan lebih elok
Penggalan lirik ini menjadi penegasan sederhana bahwa menerima keadaan bukan berarti menyerah. Sebaliknya, penerimaan merupakan langkah awal untuk bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan hidup. Ada keyakinan bahwa fase kehampaan bukanlah tempat untuk menetap, melainkan ruang singgah sebelum seseorang kembali menemukan makna.
Menariknya, judul Teh Hijau sendiri menghadirkan simbol yang relevan dengan isi lagu. Teh hijau identik dengan rasa pahit yang lembut, aroma yang menenangkan, dan proses penyeduhan yang membutuhkan kesabaran. Krakteristik tersebut seolah menjadi metafora perjalanan manusia. Tidak semua rasa pahit harus dihindari. Sebagian justru perlu dinikmati perlahan agar menghasilkan ketenangan. Begitu pula kehidupan, proses penerimaan diri tidak pernah berlangsung secara instan, melainkan melalui waktu yang cukup panjang.
Lebih lanjut, Kesederhanaan diksi yang menjadi ciri khas Tulus kembali membuktikan bahwa pesan yang mendalam tidak selalu membutuhkan kata-kata yang rumit, justru melalui bahasa yang tenang dan apa adanya. Teh Hijau berhasil menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak memberi waktu bagi dirinya untuk pulih, berdamai, dan percaya bahwa pada akhirnya, hari esok memang bisa menjadi lebih elok.
Pada akhirnya, Teh Hijau bukan sekadar lagu tentang kesepian. Lagu ini adalah pengingat bahwa manusia tidak harus selalu berada dalam kondisi terbaiknya. Ada fase ketika kita merasa kosong, kehilangan arah, bahkan mempertanyakan diri sendiri. Namun, semua itu bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan menjadi manusia yang utuh.
Barangkali, itulah alasan mengapa lagu ini begitu cepat diterima oleh banyak orang. Sebab setiap pendengar pernah berada pada titik ketika mereka hanya membutuhkan satu kalimat sederhana yang mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, mengakui kehampaan, lalu perlahan berdamai dengannya. Melalui Teh Hijau, Tulus sekali lagi menunjukkan bahwa musik bukan hanya untuk didengar, tetapi juga untuk menemani manusia memahami dirinya sendiri.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment