
Oleh: Stevany Santana Glory, Jo Fritz Andersen Siregar, Mario Dela Agustin Sianturi, M. Zaky Naufal, Leo Ferdinand Hutabarat, Muhari Syahputra Siregar, Paulus Dachi
Suara USU, Medan. Dalam proses pembelajaran berbasis masalah (Project-Based Learning), mahasiswa ditantang untuk menggali permasalahan nyata yang ada di masyarakat melalui pendekatan interaktif dan partisipatif. Salah satu metode yang digunakan dalam tugas PBL adalah wawancara langsung dengan komunitas atau organisasi yang relevan dengan isu sosial, lingkungan, atau pemberdayaan masyarakat. Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga memperoleh wawasan praktis dari para pelaku lapangan.
Sebagai bagian dari tugas PBL dengan pendekatan Community Organization and Community Development (COCD), kami melakukan wawancara dengan Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatera Utara (KOMPAS USU). Wawancara ini dilakukan oleh mahasiswa yang berasal dari program studi Fisika, Sastra Inggris dan Kewirausahaan. Adapun mahasiswa yang terlibat dalam Project Based Learning ini adalah Stevany Santana Glory (230801023), Jo Fritz Andersen Siregar (230801062), Mario Dela Agustin Sianturi (230801055), M. Zaky Naufal (230801085), Leo Ferdinand Hutabarat (230801004), Muhari Syahputra Siregar (230504005), Paulus Dachi (220705055). Dalam kegiatan wawancara ini kami dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah Community organization and Community Development oleh Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kessos.
Wawancara ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 15 Mei 2025 di Universitas Sumatera Utara, Jl Alumni No. 2. Melalui Narasumber yang merupakan anggota aktif KOMPAS USU yakni, El Fath Devgan. Tujuan wawancara ini adalah untuk memahami bagaimana KOMPAS USU menerapkan nilai-nilai sosial dalam kegiatannya, termasuk dalam hal partisipasi masyarakat, pelibatan pemuda, kerja sama dengan komunitas lokal, dan upaya membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan. Melalui dialog yang mendalam dengan salah satu anggota KOMPAS USU, kami memperoleh berbagai insight penting yang tidak hanya memperkaya pemahaman kami tentang konsep pengorganisasian komunitas, tetapi juga memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam pembangunan sosial dan lingkungan.
Korps Mahasiswa Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup atau biasa disebut KOMPAS adalah salah satu UKM di Universitas Sumatera Utara yang didirikan pada tanggal 06 Oktober 1980. Didirikan oleh 8 orang, dimana salah satu pendirinya merupakan dosen di fakultas pertanian. Awalnya KOMPAS berasal dari perkumpulan orang–orang pecinta kegiatan alam. Yang kemudian muncul inisiatif untuk membentuk sebuah organisasi yang berasal dari hobi mereka, yang dinamakan KOMPAS. Oleh karena itu, terbentuklah KOMPAS USU sebagai ruang berkumpulnya para pecinta alam di lingkungan kampus (Syahrizal, 2021). Salah satu visi dari organisasi ini adalah untuk membentuk insan akademis yang sadar, mampu dan bertanggung jawab untuk melestarikan alam sebagai lingkungan hidup yang sehat. KOMPAS sendiri memiliki berbagai kegiatan seperti Hutan gunung, Arung Jeram, Susur Gua, Panjat Tebing, dan yang terakhir ada Diving/Selam. Banyak juga kegiatan KOMPAS yang berdampak bagi masyarakat seperti pembukaan jalur-jalur petualangan baru yang berpotensi sebagai sarana untuk membuka tempat wisata yang baru. Contoh lainnya seperti pembersihan jalur pendakian Gunung Sibayak.
Dalam KOMPAS USU, Masa Orientasi Anggota (MOA) merupakan salah satu pengkaderan di dalam organisasi tersebut. MOA memiliki fungsi sebagai pengenalan terhadap nilai, visi misi, dan aktivitas bagi calon anggota baru di KOMPAS. Dalam MOA, calon anggota akan mendapatkan materi dasar seputar organisasi seperti sejarah, struktur kepengurusan serta filosofi dasar seperti “Cinta Alam, Persaudaraan, dan Kemandirian” (Nasution, 2022).
Sebagai organisasi mahasiswa yang fokus pada lingkungan dan petualangan alam bebas, KOMPAS USU telah mencatat sejumlah prestasi membanggakan, baik di tingkat lokal maupun nasional, di antaranya pada tahun 2020, tim putri KOMPAS Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih medali dalam ajang Kejuaraan Akhir Tahun FAJI Kota Medan, sebuah kompetisi bergengsi dalam cabang olahraga arung jeram tingkat kota. Selanjutnya, pada tahun 2022, tim putri kembali menunjukkan konsistensinya dengan berhasil meraih juara III pada dua kategori lomba, yaitu Sprint Race dan Head to Head Race dalam kejuaraan Medan Rafting Champions. Di tahun yang sama, anggota KOMPAS USU juga meraih juara III dalam kegiatan Fun Kobel Part II yang diselenggarakan oleh MAPASTA UIN Sumatera Utara. Kemudian salah satu anggota tim, Trioni Narvatilova, turut mengharumkan nama KOMPAS USU di tingkat nasional dengan mengikuti ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2024 dalam cabang olahraga Arung Jeram. Dalam ajang tersebut, ia berhasil meraih total lima medali, terdiri dari dua medali emas, satu medali perak, dan dua medali perunggu, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan kemampuan dan dedikasi tinggi. (Sumber: Instagram resmi @kompas_usu)
Meski KOMPAS USU memiliki rekam jejak positif, dalam wawancara kami ditemukan bahwa permasalahan internal utama yang sedang dihadapi organisasi adalah minimnya kepekaan dan partisipasi anggota baru terhadap dinamika organisasi. “Adapun Sumber Daya Manusia (SDM), Tapi SDM-nya tidak inisiator atau tidak peka itu bagi kami tantangan juga, bahwasannya beberapa tahun belakangan ini kami sempat kekurangan SDM, tetapi di tahun ini lahir anggota baru yang banyak. Tapi anggota yang baru tidak terlalu all in ke Kompas nya, ” ujarnya dalam wawancara langsung (Wawancara El Fath Devgan, 2025). Fenomena ini menjadi refleksi bahwa tantangan organisasi modern bukan lagi pada kekurangan sumber daya, melainkan pada membangun keterhubungan emosional dan rasa memiliki terhadap komunitas. Dimana permasalahan ini berpotensi menghambat regenerasi kader dan melemahkan sistem internal organisasi, terutama dalam proses pengambilan keputusan dan keberlanjutan program.
Permasalahan dan solusi dalam KOMPAS USU dapat dianalisis melalui pendekatan Community Organization and Community Development (COCD). Partisipasi anggota bukan sekadar keterlibatan fisik, tetapi juga merupakan bentuk empowerment atau pemberdayaan yang mendorong anggota untuk menyadari peran strategisnya dalam pembangunan sosial (Ife & Tesoriero, 2006). Ketika partisipasi melemah, maka yang sebenarnya terjadi adalah hilangnya rasa memiliki terhadap komunitas itu sendiri. Menjawab tantangan tersebut, KOMPAS tidak tinggal diam. Dengan pendekatan yang adaptif dan strategis, mereka mencoba menumbuhkan kembali semangat kebersamaan dari dalam. Solusi yang diterapkan KOMPAS USU, seperti kegiatan-kegiatan, mentoring, dan pelatihan internal, merupakan bentuk konkret dari strategi pembangunan kapasitas (capacity building) dan penguatan struktur sosial internal yang sejalan dengan prinsip COCD, yaitu penguatan akar rumput (bottom-up approach).
Jika dikaji melalui teori Organizational Commitment oleh Meyer dan Allen (1991), rendahnya keaktifan anggota bisa diartikan sebagai lemahnya affective commitment, yaitu keterikatan emosional terhadap organisasi. Program pembinaan internal yang bersifat interpersonal dan berkelanjutan dapat meningkatkan keterikatan ini, karena menciptakan iklim organisasi yang suportif dan inklusif.
Di sisi lain, dari perspektif Experiential Learning Theory oleh Kolb (1984), kegiatan praktis yang berbasis pengalaman seperti ekspedisi, pelatihan lapangan, dan keterlibatan komunitas juga sangat penting dalam membentuk pemahaman, kesadaran, serta motivasi intrinsik anggota. Oleh karena itu, upaya KOMPAS USU untuk merancang kegiatan yang tidak hanya menarik secara fisik, tetapi juga mendalam secara makna, merupakan langkah teoritis dan praktis yang tepat untuk menjawab tantangan regenerasi dan memperkuat kohesi sosial dalam organisasi. Dalam wawancara ini El Fath berharap kedepannya KOMPAS dapat melakukan pendekatan yang lebih personal dan komunikatif agar dapat membangun rasa memilki di kalangan anggotanya.
KOMPAS telah menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak selalu lahir dari forum besar dan wacana akademik, melainkan bisa tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten di alam terbuka. KOMPAS USU bukan hanya sekadar organisasi pencinta alam, melainkan ruang pembelajaran sosial yang hidup, di mana nilai-nilai keberdayaan, solidaritas, dan kepedulian lingkungan ditanamkan melalui pengalaman langsung. KOMPAS USU mengajarkan kita bahwa membangun komunitas yang berdaya bukan hanya soal pencapaian fisik di alam bebas, melainkan soal bagaimana merawat semangat, nilai, dan komitmen di dalamnya. Jika organisasi adalah cerminan dari nilai-nilai anggotanya, maka KOMPAS USU adalah cermin dari generasi muda yang peduli, tangguh, dan siap membawa perubahan dari rimba ke ruang sosial.
Artikel ini merupakan publikasi tugaa Mata kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kessos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment