Home Tulisan Menghidupkan Komunitas Satwa, Strategi, Harapan, dan Tantangan dalam Kegiatan Sosial di Medan
Tulisan

Menghidupkan Komunitas Satwa, Strategi, Harapan, dan Tantangan dalam Kegiatan Sosial di Medan

Share

Oleh: Shifa Latifah, Anggie Adella Putri, Novita Anggriani Damanik, Gokhi Tua Jonrei Sinaga, David Saputra, Dzaky Abdullah

Suara USU, Medan. Mata kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan menganalisis permasalahan komunitas secara langsung melalui interaksi lapangan. Di bawah bimbingan Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kessos selaku dosen pengampu, mahasiswa diarahkan untuk mengidentifikasi isu-isu sosial yang relevan serta menggali solusi melalui keterlibatan aktif dengan masyarakat.

Salah satu isu yang menjadi fokus adalah perlindungan satwa dan pelestarian lingkungan hidup. Di Kota Medan, terdapat berbagai komunitas yang bergerak dalam upaya ini, salah satunya adalah Komunitas Hobi Satwa Medan. Komunitas ini aktif melakukan kegiatan edukatif dan aksi nyata guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa.

Sebagai bagian dari penerapan metode PBL, kami Shifa Latifah (231301042), Anggie Adella Putri (231301199), Novita Anggriani Damanik (231301203), Gokhi Tua Jonrei Sinaga (230801051), David Saputra (230801061), dan Dzaky Abdullah (230801024) melakukan wawancara dengan Komunitas Hobi Satwa Medan pada tanggal 25 Mei 2025. Kegiatan ini bertujuan memahami lebih dalam peran, tantangan, dan strategi komunitas dalam konservasi satwa. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar langsung, tetapi juga turut mendukung upaya pelestarian melalui dokumentasi dan analisis yang dapat dijadikan referensi di bidang konservasi dan pengembangan komunitas.

Komunitas Hobi Satwa Medan merupakan bentuk alternatif dari pengorganisasian komunitas yang tidak mengikuti pola struktural baku sebagaimana umumnya dianjurkan dalam teori pengembangan komunitas. Komunitas ini secara khusus berfokus pada konservasi dan edukasi mengenai berbagai jenis satwa, terutama hewan-hewan reptil dan mamalia kecil seperti possum layang, ular sanca, burung hantu, musang, iguana, dan spesies lainnya yang sering ditemukan di lingkungan sekitar. Dibentuk pada 10 Oktober 2024 oleh 13 anggota aktif pasca pembubaran komunitas serupa yang tidak lagi beroperasi, komunitas ini hadir tanpa sistem kepengurusan yang kaku. Keanggotaan bersifat terbuka dan dinamis, sementara pembagian tugas dilaksanakan secara gotong royong berdasarkan ketersediaan waktu serta kapasitas individu. Ketidakterikatan pada struktur formal ini bertentangan dengan pendekatan konvensional dalam pembangunan komunitas seperti yang dikemukakan oleh Ross (1955) dan Kenny (2016), yang menekankan pentingnya kepemimpinan yang definitif, sistem organisasi yang jelas, serta keterlibatan anggota secara konsisten untuk mendukung efektivitas komunitas.

Dalam praktiknya, keterbatasan kehadiran anggota dan absennya struktur administratif justru tidak menjadi penghalang bagi keberlanjutan kegiatan. Salah satu kunci keberhasilan komunitas ini terletak pada pendekatan edukasi yang diadopsi, yakni berbasis pengalaman langsung (experiential learning). Kolb (1984) menjelaskan bahwa pembelajaran yang diawali dari pengalaman konkret, diikuti oleh refleksi, pemahaman konsep, dan penerapan nyata dapat menghasilkan perubahan perilaku dan pemaknaan yang lebih dalam. Model ini secara konsisten diterapkan dalam berbagai aktivitas Hobi Satwa Medan, seperti pelatihan penanganan reptil dan pengenalan spesies ular yang sering ditemukan di lingkungan pemukiman. Peserta tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi dilibatkan dalam praktik langsung yang memicu keterlibatan emosional dan kognitif.

Rangkaian kegiatan rutin yang digelar setiap Minggu sore di Lapangan Astaka Pancing, serta keterlibatan dalam edukasi formal bersama sekolah dan organisasi seperti Bodhicitta School dan Pramuka, memperlihatkan bahwa komunitas ini mampu menjangkau masyarakat secara luas. Studi oleh Hasanah dan Fitriani (2023) mendukung efektivitas pendekatan ini dengan menegaskan bahwa edukasi berbasis pengalaman memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kesadaran lingkungan dan keterlibatan aktif peserta.

Dengan tidak mengandalkan struktur hierarkis, komunitas ini menempatkan fleksibilitas sebagai prinsip utama dalam menjalankan fungsinya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep asset-based community development (ABCD) sebagaimana dijelaskan oleh Ifdil dan Zola (2015), yang mendorong pemanfaatan potensi lokal serta sumber daya individu dalam komunitas sebagai landasan penggerak perubahan. Dalam konteks ini, waktu luang, jejaring sosial, dan keterampilan praktis anggota menjadi aset utama yang menopang kegiatan, sekaligus memperkuat rasa kepemilikan bersama.

Hobi Satwa Medan memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah komunitas tidak selalu bergantung pada sistem formal yang mapan, melainkan dapat dibangun melalui strategi partisipatif yang adaptif terhadap realitas sosial anggotanya. Inisiatif yang berangkat dari kesamaan kepedulian terhadap satwa dan lingkungan ini berkembang menjadi ruang edukatif yang relevan, inklusif, dan mampu merespons kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunitas semacam ini berpotensi menjadi model alternatif pemberdayaan sosial-ekologis yang berakar pada nilai kolaboratif dan pembelajaran yang bermakna.

Dari hasil wawancara, baik ketua maupun anggota menyampaikan harapan agar komunitas ini dapat memperluas jangkauan edukasi, meningkatkan frekuensi kegiatan, serta menjalin kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah kota dan media lokal. Harapan ini mencerminkan bahwa komunitas ini tidak sekadar menjadi ruang sosial berbasis minat, tetapi berkembang menjadi aktor pemberdaya yang terhubung dengan misi sosial-ekologis.

Secara keseluruhan, Hobi Satwa Medan merupakan contoh nyata dari transformasi komunitas hobi menjadi agen sosial yang aktif dan relevan. Komunitas ini tidak hanya menjaga eksistensinya melalui aktivitas reguler, tetapi juga menyasar edukasi publik dan intervensi langsung terhadap isu yang nyata yaitu hewan liar di lingkungan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas lokal memiliki peran strategis dalam menjembatani hubungan antara warga, pengetahuan, dan tindakan sosial yang berkelanjutan.

Keberhasilan komunitas ini menjadi inspirasi bahwa pembangunan komunitas tidak harus bersifat top-down. Inisiatif kecil yang dilandasi semangat kolaboratif dan kesadaran sosial dapat menciptakan dampak luas bila dikelola secara partisipatif dan inklusif. Oleh karena itu, dukungan dari institusi pendidikan, media, dan pemangku kebijakan diperlukan untuk memperkuat kapasitas komunitas seperti ini agar tetap berdaya dalam jangka panjang.

Artikel ini merupakan publikasi tugaa Mata kuliah Community Organizing for Community Development (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kessos.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.