Oleh: Kesia Niurapina Br Perangin-angin (240502222), Lulu Ilfa Afiqa (240502194), Sonya Gabriella (240502203), Wispliria Tambunan (240502176), Avrilla Christeen Br. Ginting (240502050)
Ketika membicarakan organisasi mahasiswa, prestasi sering kali menjadi hal pertama yang terlihat. Piala, sertifikat, dan berbagai kemenangan menjadi simbol keberhasilan yang tampak di permukaan. Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang yang tidak selalu diketahui banyak orang. Hal inilah yang mendorong kelompok kami memilih UKM Badminton Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai objek observasi dalam mata kuliah Community Organization and Community Development (COCD).
UKM Badminton USU dikenal sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang aktif menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, UKM ini berhasil meraih medali perunggu pada IMT-GT Varsity Carnival ke-22 di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dan kembali memperoleh medali perunggu pada IMT-GT Varsity Carnival ke-23 di Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang. Selain itu, atlet UKM Badminton USU juga meraih Juara 3 tingkat nasional pada Piala Rektor UNDIP Open 2025.
Namun, hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa prestasi tersebut tidak hanya dibangun melalui kemampuan bermain badminton. Di balik setiap pencapaian terdapat solidaritas anggota, kepemimpinan organisasi, serta proses pengembangan potensi komunitas yang berlangsung secara konsisten.
Ketua Umum UKM Badminton USU, Agil Armansyah, mahasiswa Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya, menjelaskan bahwa organisasi ini tidak hanya berfokus pada latihan dan pertandingan, tetapi juga membangun rasa kekeluargaan antaranggota. Budaya tersebut terlihat dari kebiasaan senior membantu anggota baru, komunikasi yang tetap terjaga di luar jadwal latihan, hingga kerja sama dalam berbagai kegiatan organisasi.
Temuan ini sejalan dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh John P. Kretzmann dan John L. McKnight. Pendekatan ini menekankan bahwa sebuah komunitas berkembang melalui aset dan potensi yang dimilikinya, bukan semata-mata berfokus pada kekurangan atau masalah yang dihadapi.
Dalam konteks UKM Badminton USU, aset terbesar organisasi bukan hanya fasilitas atau sarana latihan, melainkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Kemampuan anggota, pengalaman para senior, solidaritas komunitas, dan semangat berlatih menjadi modal utama dalam mempertahankan keberlangsungan organisasi sekaligus menjaga prestasi yang telah diraih.
Salah satu hal menarik yang kami temukan adalah bagaimana setiap anggota memiliki peran yang berbeda-beda. Pengurus berupaya mengembangkan potensi tersebut melalui latihan rutin, pertandingan internal, serta dukungan yang diberikan antaranggota. Kehadiran senior juga membantu anggota baru beradaptasi dengan lingkungan organisasi dan budaya yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Selain itu, hasil observasi juga menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga dinamika organisasi. Menurut teori kepemimpinan yang dikemukakan Peter G. Northouse, kepemimpinan merupakan proses memengaruhi dan mengarahkan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan berperan dalam menjaga koordinasi, komunikasi, motivasi, dan keberlangsungan komunitas.
Hal tersebut terlihat dalam pola kerja pengurus UKM Badminton USU. Setiap divisi saling membantu ketika menghadapi kendala dalam menjalankan program kerja. Pengurus juga berusaha menjaga semangat anggota melalui komunikasi yang aktif dan berbagai kegiatan internal yang mempererat hubungan antaranggota.
Kemampuan organisasi dalam bertahan juga terlihat ketika mereka sempat menghadapi kendala tempat latihan akibat renovasi gedung kampus. Meski menghadapi keterbatasan, aktivitas organisasi tetap berjalan. Situasi ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya ditentukan oleh fasilitas yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan anggotanya untuk bekerja sama dan beradaptasi menghadapi tantangan.
Hasil observasi ini juga memiliki kesamaan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa solidaritas komunitas dan kepemimpinan organisasi menjadi faktor penting dalam mempertahankan keberlangsungan organisasi mahasiswa. Komunitas yang mampu memanfaatkan potensi anggotanya cenderung lebih aktif dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan organisasi
Menurut kelompok kami, salah satu hal yang paling menarik dari UKM Badminton USU adalah bagaimana organisasi ini membangun hubungan sosial yang cukup kuat di antara anggotanya. Prestasi yang terlihat di luar ternyata dibangun melalui proses internal yang tidak sederhana. Di balik latihan dan pertandingan, terdapat kerja sama, komunikasi, disiplin, dan rasa tanggung jawab yang terus dibangun di dalam organisasi.
UKM Badminton USU menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya bergantung pada kemampuan individu atau dukungan fasilitas. Kekuatan terbesar justru lahir dari hubungan sosial yang solid, pengembangan potensi anggota secara berkelanjutan, dan kepemimpinan yang mampu menjaga semangat komunitas. Karena itu, ketika banyak orang hanya melihat pialanya, sesungguhnya ada proses panjang yang menjadi fondasi dari setiap prestasi yang berhasil diraih.
Daftar Pustaka
Kretzmann, J. P., & McKnight, J. L. (1993). Building Communities from the Inside Out: A Path Toward Finding and Mobilizing a Community’s Assets. Evanston, IL: Institute for Policy Research.
Northouse, P. G. (2019). Leadership: Theory and Practice (8th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Artikel ini disusun sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD) dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Siti Farhatun Nafis Azhari
Leave a comment