Oleh: Muthia Faziha Fadhli
Suara USU, Medan. Upaya rekonstruksi motivasi dan resiliensi psikososial bagi Orang Dengan HIV/AIDS usia remaja berhasil diakomodasi melalui penguatan intervensi klinis individual berbasis residensial. Guna mengurai degradasi harapan hidup pada kelompok rentan tersebut, Muthia Faziha Fadhli, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), mengimplementasikan metode casework secara komprehensif selama tiga bulan, terhitung sejak Maret hingga Juni 2026. Aktivitas akademis Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini mengambil lokasi di Sentra Bahagia Medan, sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang beralamat di Jalan William Iskandar, Medan, Sumatera Utara.
Sebagai institusi penyedia layanan rehabilitasi sosial berbasis residensial, Sentra Bahagia Medan menyelenggarakan pelayanan pemulihan holistik yang mengintegrasikan dimensi medis, psikologis, sosial, dan spiritual. Lembaga ini mengemban program untuk mengintervensi Penyandang Permasalahan Kesejahteraan Sosial (PPKS), termasuk populasi anak dan remaja yang hidup dengan HIV/AIDS yang mengalami disorganisasi perilaku atau hambatan fungsi sosial. Guna menstimulasi kemandirian para penerima manfaat, institusi menyediakan program terstruktur, seperti pengobatan klinis rutin, Layanan Dukungan Residensial (LDR) untuk stabilitas emosional, serta program Pengembangan Skill Mandiri dan Adaptif (SMART) yang berorientasi pada kesiapan vokasional.
Subjek pendampingan dalam praktik ini, yakni klien SF, merupakan seorang remaja perempuan anak tunggal yang memegang status HIV/AIDS dan telah menjadi residen di Sentra Bahagia sejak tahun 2022. Struktur pengasuhan primernya mengalami pergeseran, di mana sejak fase kanak-kanak ia diasuh oleh nenek, paman, dan bibinya akibat keterbatasan finansial dan determinan ekonomi keluarga kandung, yang pada akhirnya mendasari rujukan ke Sentra Bahagia. Frekuensi interaksi fisik dan kunjungan dari pihak keluarga inti mengalami pembatasan akibat jarak dan biaya, paman serta bibi klien tetap memelihara komitmen kepedulian terhadap perkembangan kesehatannya.
Manifestasi problematik utama yang mengonstruksi diri SF berakar pada dimensi psikososial-spiritual. Klien mengidap trauma batin kronis dengan rendahnya kapasitas penerimaan diri serta ketidakmampuan meregulasi emosi. Kondisi tersebut memicu munculnya perasaan bersalah secara repetitif, kesedihan mendalam atas nasib di usia muda, dan disorientasi masa depan yang secara signifikan mendegradasi motivasi eksistensialnya. Di sisi lain, SF memiliki modalitas sosial yang impresif; ia memperlihatkan kapabilitas adaptasi yang baik serta relasi pertemanan yang sangat hangat dengan sesama residen sebayanya. Variabel suportif inilah yang dioptimalisasi praktikan sebagai aset strategis dalam mengakselerasi pemulihan.
Operasionalisasi praktikum ini secara ketat mengadopsi model tahapan casework yang dikembangkan oleh Zastrow. Pendekatan perorangan ini ditujukan untuk mengeskalasi kapasitas internal klien dalam menanggulangi problematik, mengadaptasi diri terhadap ekosistem sosial, serta meraih kesejahteraan emosional. Rangkaian intervensi linier tersebut diurai ke dalam beberapa fase, yaitu:
1. Engagement, Intake, dan Kontrak
Fase ini diorientasikan pada konstruksi relasi profesional yang positif dan berbasis rasa percaya (rapport) antara praktikan dan klien SF melalui pendekatan interpersonal yang persuasive dan inklusif. Ketika klien mulai mencapai stabilitas emosional, dirumuskan konsensus berupa kontrak formal yang menegaskan komitmen dualistik dengan tetap berpedoman pada kode etik pekerjaan sosial.
2. Asesmen
Melalui tahap ini, praktikkan memanfaatkan instrumen Addiction Severity Index (ASI) yang membedah tujuh domain kehidupan subjek. Hasil pemetaan mengonfirmasi bahwa SF bebas dari riwayat patologis penyalahgunaan napza maupun implikasi hukum, serta memiliki hubungan domestik keluarga yang harmonis. Fokus masalah utama teridentifikasi secara valid pada ranah psikologis dan sosial, khususnya krisis harga diri, kemerosotan dorongan hidup, serta dampak sosiologis dari stigma negatif masyarakat, sementara potensi makro berupa sistem dukungan internal dari staf lembaga dan dinamika kelompok sebaya teridentifikasi sebagai kekuatan penyeimbang.
3. Perencanaan
Memasuki tahapan perencanaan (planning), praktikan bersama klien mendiskusikan rancangan intervensi yang presisi dengan menyandarkan pisau analisis pada Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Fokus intervensi dititikberatkan pada aspek aktualisasi dan penghargaan diri (esteem needs) guna merestrukturisasi konsep diri yang positif, menumbuhkan optimisme, dan merangsang penerimaan realitas klinis secara ikhlas. Rencana aksi ini diturunkan ke dalam empat sesi aktivitas kreatif-rekreatif yang diselaraskan dengan minat personal SF, yang meliputi kelas ekspresi musik, pembuatan gantungan kunci berbahan kawat bulu, serta perakitan gelang manik-manik.
4. Intervensi

Implementasi program pertolongan di lapangan berjalan selaras dengan draf perencanaan yang telah disepakati. Sesi pertama berupa pelatihan musik diimplementasikan sebagai artikulasi emosional untuk mentransformasikan tekanan psikis ke dalam bentuk ekspresi musikal dalam atmosfer kelompok yang suportif. Sesi kedua, yaitu kerajinan kawat bulu, diarahkan untuk mengasih aspek kognitif, motorik halus, dan kreativitas tangan, yang secara tidak langsung melatih fokus serta mereduksi kecemasan (anxiety). Sesi ketiga ditutup dengan perakitan gelang manik-manik yang memberikan ruang otonomi kreatif luas bagi SF, sehingga keberhasilan menghasilkan produk estetik tersebut secara simbolis mampu menstimulasi rasa bangga dan mengukuhkan perasaan berharga dalam dirinya.
5. Monitoring dan Evaluasi
Prosedur pengawasan dan penilaian pencapaian mengeksplorasi kemajuan klien melalui tahap monitoring dan evaluasi menggunakan skema model CIPP (Context, Input, Process, Product). Berdasarkan evaluasi konteks, relevansi program dinilai sangat tinggi karena berhasil menyasar akar masalah utama berupa degradasi motivasi akibat distorsi psikis. Dari segi input, ketersediaan material intervensi dan dukungan staf terbukti sangat adaptif terhadap minat subjek. Evaluasi proses menunjukkan terjadinya akselerasi keterlibatan aktif di mana klien bertransisi menjadi sangat partisipatif. Akhirnya, pada aspek produk, hasil evaluasi mengonfirmasi perubahan perilaku yang signifikan, dibuktikan dengan tumbuhnya penerimaan diri terhadap status ODHIV, komitmen menyelesaikan rehabilitasi, dan kemampuan artikulasi rencana masa depan secara konkret.
6. Terminasi
Seiring dengan tuntasnya masa bakti PKL praktikan di Sentra Bahagia Medan. Pemutusan hubungan profesional direalisasikan setelah seluruh indikator keberhasilan dalam kontrak awal terpenuhi secara empiris. Proses penutupan ini dipersiapkan secara matang guna mencegah munculnya dependensi psikologis klien, dilengkapi dengan pemberian afirmasi positif, penguatan mental, serta rekomendasi konstruktif untuk menjaga keberlanjutan resiliensi SF di masa depan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos selaku supervisor sekolah sekaligus dosen pengampu, yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan masukan berharga selama proses praktik maupun dalam penyusunan laporan ini. Kehadiran beliau sebagai pembimbing akademis memberikan landasan yang kuat bagi penulis dalam menjalankan setiap tahapan praktik secara profesional. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Endah Murni Wijayanti selaku supervisor lembaga atas dukungan dan pendampingan yang diberikan, serta kepada seluruh pimpinan, staf, dan pengelola Kemensos Sentra Bahagia Medan atas sambutan yang hangat, dukungan yang tulus, serta kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjalankan kegiatan praktik di lembaga tersebut. Keterbukaan lembaga dalam menerima praktikan menjadi faktor penting yang memungkinkan terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan PKL secara bermakna.
Penulis juga menyampaikan apresiasi kepada rekan praktikan, serta keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi dari awal pelaksanaan PKL hingga selesainya penyusunan laporan. Pengalaman berharga yang diperoleh selama praktikum ini menjadi bekal yang tidak ternilai dalam perjalanan penulis sebagai calon pekerja sosial profesional. Secara keseluruhan, pelaksanaan PKL di Sentra Bahagia Medan memberikan pembelajaran yang sangat berharga tentang penerapan pendekatan pekerjaan sosial berbasis casework dalam konteks rehabilitasi sosial bagi PPKS dengan riwayat HIV. Pengalaman mendampingi klien S memperkuat keyakinan penulis bahwa intervensi yang didasarkan pada minat, kebutuhan, dan potensi klien, yang dilaksanakan dalam lingkungan yang suportif dan terstruktur, memiliki dampak yang signifikan dalam mendorong perubahan positif dan pemulihan yang berkelanjutan.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Praktikum Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Dosen Pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment