Home Kabar SUMUT Kampanyekan Zero Waste, Refoodity YRI Sumut Ajak Pemuda Kelola Limbah Pangan
Kabar SUMUT

Kampanyekan Zero Waste, Refoodity YRI Sumut Ajak Pemuda Kelola Limbah Pangan

Share

Reporter: Alya Nayla Sahirah dan Kyra Muzzayanah

Suara USU, Medan. Youth Ranger Indonesia (YRI) Regional Sumatera Utara (Sumut) menggelar program edukasi lingkungan bertajuk “Refoodity” di Serayu Cafe and Space Medan, guna menekan tingginya angka limbah pangan (food waste) di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 Juni 2026 ini mengusung tema “Cultivating Youth Awareness for a Zero Waste Food Future” dengan judul “Rethink, Reuse, Refood”. Melalui program ini, YRI Sumut berkomitmen mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Program ini mengusung konsep blended activity yang memadukan kegiatan daring dan luring. Hari pertama dimulai melalui platform Zoom yang berfokus pada pembekalan teori mengenai pengenalan krisis limbah pangan beserta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat, serta pengenalan metode dan teknik dasar pengelolaan limbah pangan, kompos, daur ulang, hingga upcycling pangan bersama komunitas Trash Ranger. Sementara itu, puncak acara dilaksanakan secara luring pada hari kedua berupa Field Experience di lokasi acara. Peserta diajak untuk menerapkan tiga pilar utama kegiatan yaitu rethinking (mengubah perspektif terhadap bahan pangan), reusing (memanfaatkan kembali bahan layak), dan refooding (mengolah kembali menjadi produk bernilai guna).

Ketua Panitia Refoodity, Christian Bastanta Pinem, menjelaskan bahwa maraknya limbah pangan sebagai salah satu permasalahan lingkungan serius di Indonesia menjadi alasan utama diinisiasinya program ini. “Hal yang melatarbelakangi itu sebenarnya karena kami melihat bahwa berdasarkan data, Indonesia adalah salah satu penghasil limbah terbesar. “Kami berharap dengan adanya acara ini, setiap orang lebih memiliki kesadaran dan bisa menerapkan ilmu yang mereka peroleh di event ini.” ujarnya dalam wawancara dengan Suara USU (6/6/2026). 

Dalam sesi praktik luring tersebut, YRI Sumut menggandeng Mulki Vokasi Indonesia sebagai mitra fasilitator. Para peserta diajak secara langsung untuk memanfaatkan limbah pangan yang hampir kedaluwarsa atau terlalu matang (overripe) menjadi produk kuliner yang memiliki nilai jual, salah satunya adalah bolu pisang.

Bastanta menjelaskan bahwa pemilihan menu tersebut didasarkan pada kemudahan akses bahan baku di masyarakat. “Alasan menu ini dipilih memang karena pisang sangat sering ya kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya sering dibuang gitu aja kalau udah terlalu matang atau hampir membusuk. Jadi, kami menggunakan pisang sebagai bahan baku supaya mempermudah praktik pengelolaan limbah dan harapannya setelah event ini, peserta bisa coba lagi di rumah sendiri karena bahannya sangat mudah dicari,” pungkasnya.

Meskipun target awal peserta mencapai 70 orang, Bastanta mengungkapkan bahwa total peserta yang hadir di hari kedua hanya berjumlah 56 orang. Kendati demikian, antusiasme yang didominasi oleh generasi muda tetap terlihat tinggi sepanjang acara berlangsung.

Salah satu peserta dari Kelompok 3 yang merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), Elsa Dwi, menyatakan ketertarikannya mengikuti Refoodity karena jarangnya ruang edukasi yang membahas mengenai pengelolaan limbah pangan secara praktis. “Sangat menarik ya dan juga sangat seru banget tentunya, apalagi kita di sini banyak belajar, terus juga banyak diberi ilmu dari hari pertama. Harapannya, semoga ke depan makin banyak penyelenggaraan event seperti ini, tapi dengan waktu praktik yang lebih diperpanjang dan jenis olahan yang lebih bervariasi juga mungkin, biar kita bisa lebih mendalam menyerap ilmunya gitu,” ungkapnya.

Melalui program ini, penyelenggara berharap agar kesadaran generasi muda di Kota Medan dan sekitarnya dapat terus bertumbuh untuk menjaga keberlanjutan lingkungan mulai dari diri sendiri. “Harapan kami, semoga seterusnya generasi muda bisa lebih sadar untuk memanfaatkan limbah yang ada di sekitar mereka. Melalui langkah ini juga, mereka bisa ikut menjaga kelestarian lingkungan, jangan membuang limbah pangan gitu aja secara mentah-mentah,” tutup Bastanta.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.