
Reporter: Ines Eliyana Br Ginting
Suara USU, Medan. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH USU), Diego Wirawan Siregar, sukses meraih juara 3 cabang olahraga judo dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2025. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi sivitas akademika USU. Dengan semangat dan kerja kerasnya, Diego menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa tidak hanya bisa berprestasi di bidang akademik, tetapi juga di bidang olahraga.
Prestasi yang diraih Diego tidak lepas dari perjalanan panjangnya di dunia judo yang telah ia tekuni sejak kecil. Lahir di Medan pada 5 Agustus 2004, Diego mengaku kecintaannya terhadap olahraga judo tumbuh berkat pengaruh keluarganya. “Saya tertarik dengan judo karena kakek dan papa saya juga atlet judo. Jadi, sejak SD saya sudah mulai mengikuti olahraga judo sampai sekarang,” ujar Diego.
Keputusan Diego menekuni judo tidak hanya didasari oleh faktor keluarga, tetapi juga oleh keyakinan bahwa di situlah bakatnya berada. “Awalnya ikut karena orang tua, tapi lama-lama saya merasa nyaman dan menemukan bakat saya di sini. Apalagi, orang tua saya dulu juga pernah juara dua PON di tahun 90-an,” katanya.
Sejak duduk di kelas 1 SD, Diego serius menekuni olahraga judo. Ia rutin mengikuti berbagai kejuaraan daerah dan berhasil menorehkan sejumlah prestasi, termasuk juara 1 pada Kejuaraan Daerah tahun 2024. Capaian tersebut menjadi batu loncatan hingga akhirnya ia bisa berlaga di ajang nasional PON 2025.
Namun, perjalanan menuju podium tidaklah mudah. Diego mengaku hanya memiliki waktu dua bulan untuk persiapan sebelum bertanding. “Karena waktu latihan terbatas, saya harus latihan tiga kali sehari: pagi latihan fisik, siang latihan teknik, dan malam latihan teknik lagi,” jelasnya.
Meski jadwal latihannya padat, Diego tetap mampu menyeimbangkan dunia akademik dan olahraga. “Untungnya jadwal kuliah saya tidak tabrakan dengan latihan, jadi dua-duanya masih bisa saya jalankan,” katanya.
Momen paling berkesan baginya selama mengikuti PON adalah saat pertandingan berlangsung. “Momen paling berkesan menurut saya adalah saat pertandingan. Walaupun sangat tegang, justru di situlah momen yang paling berkesan,” ujarnya.
Keberhasilan Diego juga didukung oleh dukungan penuh keluarga dan orang-orang terdekat. “Yang pertama tentu dukungan dari orang tua saya. Mereka selalu mendukung apa pun yang saya lakukan. Kedua, dukungan dari pasangan saya,” ungkapnya.
Bagi Diego, prestasi di PON 2025 menjadi kebanggaan besar sekaligus motivasi untuk melangkah lebih jauh. Ia menargetkan untuk terus berprestasi di berbagai ajang ke depan.
“Saya ingin terus melanjutkan judo dan semoga bisa tampil di PON 2028, SEA Games, Asian Games, dan kalau bisa sampai Olimpiade,” ujarnya.
Selain itu, ia juga berharap dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik. Menutup wawancara, Diego menyampaikan pesan inspiratif kepada rekan-rekan mahasiswa agar tidak mudah menyerah dalam mengejar mimpi.
“Jangan pernah lelah buat terus ngejar mimpi dan prestasi, entah di kelas, di organisasi, di lapangan, atau di mana pun kalian berkembang. Kuliah bukan cuma soal nilai, tapi juga soal proses jadi versi terbaik dari diri sendiri,” pesannya.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment