Home Tulisan Fenomena Hustle Culture dan Dampaknya terhadap Keseimbangan Kehidupan Mahasiswa
Tulisan

Fenomena Hustle Culture dan Dampaknya terhadap Keseimbangan Kehidupan Mahasiswa

Share
Sumber Foto: Rukita

Oleh: Fadilatun Nisa, Nicholas Lombing Siboro, Alisyah Najla Butar Butar, Nazua Suwita, Rosani Margaretha Samosir, Manju Alfiasuri, Adelia Panggabean, dan Niky Oktory Samosir

Suara USU, Medan.  Akhir-akhir ini, hustle culture menjadi istilah yang populer di kalangan remaja dan mahasiswa. Hal ini diakibatkan oleh beberapa orang di media sosial yang memberikan motivasi sukses melalui gaya hidup ini, dan itu terkadang dianggap sebagai suatu hal yang keren dan patut ditiru. Hustle culture sendiri adalah fenomena di mana banyak orang merasa bekerja adalah suatu hal yang sangat amat penting, yang terkadang bahkan membuat seseorang menjadi terobsesi untuk bekerja. Ada banyak masyarakat yang mengatakan bahwa hustle culture adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kepribadian workaholism atau gila kerja. Bagi mereka, pekerjaan adalah hal yang lebih penting di atas segalanya. Banyak orang berpendapat bahwa makna dari fenomena ini adalah di mana seseorang bekerja terlalu keras hingga melewati batas yang ada demi meraih tujuannya, kemudian menjadikannya suatu kebiasaan atau gaya hidup. Hal ini umumnya biasa terjadi pada mahasiswa, khususnya yang sedan gada di fase mencari jati diri.

Banyak dari kalangan mahasiswa yang mulai menerapkan gaya hidup seperti ini, yang kadang malah membawa dampak buruk pada pendidikan, kesehatan fisik dan mental, serta relasi sosioal mereka. Itu karena, ketika seorang mahasiswa menerapkan gaya hidup seperti ini, mereka terkadang malah membuat pekerjaan menjadi prioritas ketimbang pendidikan. Juga faktor banyaknya dan padatnya pekerjaan yang bisa membuat fisik tidak kuat serta mental yang rentan terganggu karena stress bahkan depresi. Relasi sosial mereka juga akan menurun karena kesibukan dalam bekerja sehingga tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Lalu mengapa hustle culture ini bisa sangat berpengaruh pada kehidupan mahasiswa? Hal ini diakibatkan oleh media sosial, faktor ekonomi, ketakutan akan masa depan juga rasa takut tertinggal dan ingin memulai lebih dulu biasanya menjadi penyebab utama bagi mahasiswa untuk memiliki gaya hidup seperti ini, khususnya pada mahasiswa laki-laki.

Seperti yang diketahui, setiap fenomena pasti menimbulkan dampak, baik itu dampak yang positif maupun negatif. Tanpa dipungkiri, fenomena hustle culture ini juga memiliki dampak positif bila aktivitasnya dilakukan dengan tidak melewati batas yang sehat. Beberapa dampak positif yang dapat dilihat adalah semakin produktivitasnya mahasiswa dan potensi keberhasilan karir di masa depan. Namun, di antara beberapa dampak positif itu, terdapat juga beberapa dampak negatif. Beberapa dampak negatif tersebut antara lain, hal ini dapat menggagu kesehatan mental yang dapat memicu stress, kecemasan dan depresi, serta fisik yang diakibatkan pola hidup yang salah dan tidak teratur, dan dapat menganggu keseimbangan antara dunia akademis dan dunia pribadi mahasiswa karena kesulitan membagi waktu dan berkurangnya perhatian mahasiswa terhadap dunia akademisnya.

Berdasarkan pada survei dan penelitian yang kami lakukan melalui metode wawancara dan pengisian kuesioner pada kurang lebih 30 mahasiswa, kami mendapatkan beberapa informasi atau data yang relevan dengan maraknya fenomena hustle culture ini di kalangan mahasiswa. Berdasarkan hasil survey, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa adalah freelance, pekerja paruh waktu atau penuh waktu, dan beberapa juga mempunyai usaha sendiri. Yang menjadi alasan atau motivasi utama mereka bekerja sambil kuliah adalah karena kebutuhan finansial, menambah pengalaman, mengisi waktu luang dan ada juga yang karena hobi. Ketika diberikan pertanyaan tentang seberapa sering mereka merasa kewalahan dalam membagi waktu kuliah dan bekerja, jawaban mereka ada pada level jarang sampai sering. Lalu, ketika ditanyakan tentang yang mana yang lebih mereka prioritaskan di antara keduanya, sebagian menjawab mereka lebih memprioritaskan kuliah dan sebagian lagi memilih untuk sama-sama memprioritaskan keduanya.

Sebagian dari mereka merasa mampu mengendalikan rasa stress akibat kuliah sambil kerja, namun tidak dipungkiri juga mereka merasa kelelahan baik secara fisik maupun mental sebagai akibat dari multitasking kuliah dan bekerja. Banyak dari mereka yang setuju bahwa dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman terdekat sangat membantu dalam menjaga kesehatan mental dan mereka merasa pengalaman kerja yang mereka lakukan saat ini akan sangat mendukung perkembangan karir mereka di masa yang akan datang. Cara mereka menjaga kesehatan mental dalam kondisi multitasking seperti itu adalah dengan komunikasi ke keluarga dan teman dekat, melakukan hobi, me time, dan lain sebagainya.

Sila yang relevan dengan fenomena ini adalah sila kedua, karena sesuai dengan sila tersebut mahasiswa harus memperlakukan dirinya secara manusiawi. Disebabkan oleh kerja yang berlebihan, sehingga harus ada kesadaran bahwa manusia membutuhkan istirahat yang cukup. Fenomena ini juga relevan dengan sila kelima, karena banyak mahasiswa yang bekerja karena faktor ekonomi. sila ini menekankan pada perlunya keadilan dalam kesetaraan ekonomi dan akses pendidikan serta kesempatan untuk hidup yang layak, sehingga mahasiswa tidak harus mengorbankan kesehatan demi mengejar kebutuhan finansial.

Hustle culture menggambarkan semangat produktivitas generasi muda, tapi jika tidak diimbangi dengan kesadaran diri justru akan mampu menjerumuskan mahasiswa dalam kelelahan fisik dan mental. Karena kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa sibuk orang tersebut, melainkan dari kemampuan menata hidup dengan seimbang dan mampu melanjutkannya. Mahasiswa perlu mengingat bahwa jeda bukanlah suatu kemunduran, melainkan merupakan bagian penting dari proses pertumbuhan.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany

 

 

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.