Oleh: Deswina Listiani Matondang
Suara USU, Medan. Coba hitung, sudah berapa kali ibu jari kita menggeser layar ponsel sejak bangun tidur pagi ini? Sepuluh kali? Lima puluh kali? Atau justru kita sudah kehilangan hitungan karena gerakan itu telah berubah menjadi refleks, bukan lagi pilihan sadar. Fenomena inilah yang belakangan ramai disebut sebagai kemunculan “generasi scroll”. Sebuah generasi yang tumbuh dengan kebiasaan menyerap informasi dalam hitungan detik, berpindah dari satu topik ke topik lain secepat gerakan jari di layar kaca. Berita duka, meme lucu, iklan produk kecantikan, dan analisis politik bisa muncul berurutan dalam satu linimasa yang sama, dan kita mengonsumsinya secara sekilas, dangkal, lalu berlalu.
Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah derasnya arus digital, kita perlu jujur mengakui bahwa kebiasaan ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan gejala sosial yang patut dicermati. Cara kita menerima informasi hari ini sedang membentuk cara kita berpikir, bersikap, bahkan bernegara di masa depan.
Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet nasional telah mencapai 81,72%, setara dengan 235 juta jiwa dari total populasi 287 juta penduduk. Kelompok Generasi Z dan Milenial menjadi penyumbang penetrasi tertinggi, masing-masing di atas 89%. Menariknya, aktivitas yang paling banyak dilakukan saat mengakses internet bukanlah mencari informasi mendalam, melainkan bermedia sosial dan berkomunikasi, disusul hiburan digital, baru kemudian pencarian berita.
Laporan Digital 2026 dari We Are Social memperkuat gambaran ini. Rata-rata warga Indonesia menghabiskan waktu sekitar tiga jam tujuh menit setiap hari khusus untuk bermedia sosial, jauh di atas rata-rata global yang hanya sekitar dua jam tiga puluh sembilan menit. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-16 dunia untuk durasi bermedia sosial terlama, dengan TikTok sebagai platform yang paling banyak menyita waktu penggunanya.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana durasi panjang itu justru diisi dengan konsumsi yang semakin singkat dan terpecah. Data industri dari Buffer pada 2025 menunjukkan rentang perhatian (attention span) pengguna pada platform berbasis linimasa hanya bertahan sekitar delapan detik. Bahkan pada konten video pendek, angka tersebut menyusut menjadi sekitar tiga detik saja sebelum pengguna beralih ke konten berikutnya. Dengan kata lain, kita menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di dunia digital, tetapi masing-masing potongan informasi yang kita serap hanya mendapat perhatian selama hitungan detik. Ironi inilah yang menjadi inti persoalan dari “generasi scroll”, durasi konsumsi memanjang, tetapi kedalaman pemahaman justru menipis.
Jika kebiasaan menggeser layar dengan cepat adalah gejala di permukaan, maka akar persoalan yang lebih dalam terletak pada cara kerja algoritma media sosial itu sendiri. Setiap kali kita berhenti sejenak pada sebuah unggahan, memberi tanda suka (like), atau bahkan hanya menatap layar sedikit lebih lama dari biasanya, sistem akan merekam preferensi tersebut. Data ini kemudian digunakan untuk menentukan konten apa yang akan kita lihat berikutnya. Tujuannya sederhana, yaitu membuat kita betah berlama-lama di dalam aplikasi. Namun, konsekuensinya jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan durasi waktu layar (screen time).
Kajian literatur mengenai polarisasi opini di media sosial Indonesia menemukan bahwa algoritma digital berperan signifikan dalam mempersempit paparan informasi pengguna, memperkuat bias konfirmasi, dan pada akhirnya mendorong penguatan polarisasi opini di ruang publik digital. Studi lain yang berfokus pada mahasiswa turut menunjukkan hal serupa, pola konsumsi informasi mahasiswa cenderung terjebak pada konten yang sudah sesuai dengan pandangan awal mereka. Akibatnya, ruang untuk berhadapan dengan perspektif yang berbeda menjadi semakin sempit.
Konten yang memicu emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau kegembiraan berlebihan cenderung lebih diprioritaskan oleh algoritma karena menghasilkan interaksi (engagement) yang lebih tinggi, bukan karena kontennya lebih benar atau lebih penting untuk diketahui. Dampak dari mekanisme ini bukan sekadar teoretis. Ia mengikis salah satu kemampuan paling mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, yakni kesediaan untuk memahami, atau setidaknya mendengarkan, sudut pandang yang tidak sejalan dengan diri kita.
Lama-kelamaan, ruang digital yang seharusnya menjadi tempat bertemunya beragam gagasan justru berubah menjadi kumpulan gelembung-gelembung terpisah (echo chambers). Di sinilah setiap kelompok merasa paling benar karena mereka tidak pernah benar-benar berhadapan dengan argumen tandingan yang setara kualitasnya.
Persoalan ini menjadi lebih serius ketika dihadapkan dengan kondisi literasi digital masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya siap. Skor Indeks Literasi Digital Nasional yang diukur oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika berada pada kisaran 3,6 dari skala 5, sebuah angka yang menunjukkan kondisi menengah dan belum sampai pada level yang bisa disebut baik. Sementara itu, survei Katadata Insight Center yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat bahwa proporsi masyarakat Indonesia yang pernah terpapar hoaks di dunia maya berkisar antara 3 hingga 6 dari 10 orang.
Penting untuk digarisbawahi bahwa persoalan ini tidak bisa direduksi menjadi sekadar kesalahan pribadi karena “kurang sabar membaca” atau “terlalu sering main gawai”. Desain algoritma platform memang dirancang secara sengaja untuk memaksimalkan waktu dan interaksi pengguna, bukan untuk memaksimalkan pemahaman atau keberagaman perspektif. Dalam logika bisnis platform digital, konten yang membuat kita betah dan emosional jauh lebih menguntungkan dibandingkan konten yang membuat kita berpikir panjang dan mempertimbangkan berbagai sisi.
Namun demikian, kesadaran akan mekanisme ini seharusnya menjadi titik awal, bukan alasan untuk pasrah. Sebagian peneliti menyarankan agar platform digital mulai mempertimbangkan penyesuaian algoritma yang lebih mendorong keragaman informasi, bukan semata mengutamakan kesamaan preferensi. Di sisi lain, tanggung jawab juga ada pada kita sebagai pengguna, khususnya sebagai mahasiswa yang mengklaim diri sebagai kaum terdidik dan agen perubahan.
Generasi scroll bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Kecepatan memang telah menjadi ciri zaman ini, tetapi kecepatan tidak harus berarti kedangkalan. Pertanyaannya kini kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita akan terus menjadi penumpang pasif dari algoritma yang menyodorkan apa yang ingin kita dengar, atau mulai mengambil kendali untuk secara sadar mencari kebenaran dan perspektif yang lebih utuh sekalipun itu berarti harus berhenti sejenak dan menyudahi geseran layar?
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment