Oleh: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Musisi asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Raim Laode, kembali hadir lewat single terbaru berjudul “Iqro”. Setelah namanya melejit lewat “Komang” yang viral secara global, kali ini Raim menunjukkan sisi lain dari dirinya. “Iqro” jauh lebih tenang, lebih ke dalam, dan sarat renungan spiritual yang lembut. Bukan sekadar lagu, tapi semacam undangan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan berdialog dengan Tuhan tentang makna hidup.
Pemilihan judul saja sudah menyimpan makna yang dalam. “Iqro” berarti “bacalah”, kata pertama yang turun dalam wahyu, sebuah perintah untuk membaca, memahami, dan merenungi. Dari judul itu saja, Raim seolah memberi sinyal bahwa lagu ini bukan tentang bercerita ke orang lain, melainkan ajakan untuk membaca diri sendiri lebih dulu, sebelum membaca dunia di luar sana.
Sejak detik pertama, aransemen minimalis lagu ini sudah memikat. Piano halus bertemu gitar akustik, menciptakan nada yang terasa hangat sekaligus sunyi. Vokal Raim yang rendah membuat lagu ini semakin indah dan nyaman didengarkan. Tidak ada usaha untuk terdengar megah atau dramatis, semua terasa dijaga sesederhana mungkin, seolah Raim sengaja tidak ingin instrumen mengalihkan perhatian dari pesan yang ingin disampaikan.
Di verse pembuka, Raim menggambarkan kekaguman pada ciptaan Tuhan.
Bintang bintang dan pepohonan
Kedua bersujud pada-Nya
Masih kukagum tentang langit
Kokoh nan tinggi tak bertiang
Lewat gambaran bintang, pepohonan, dan langit yang menjulang tanpa penyangga, Raim mengajak pendengar melihat lagi hal-hal yang sering dianggap biasa, padahal itu semua tanda kebesaran Tuhan yang mudah terlewat begitu saja dalam keseharian. Mengajak kita untuk melihat lagi ciptaan yang maha kuasa, yang begitu indah dan luar biasa, tapi seringkali kita lupa untuk sekadar menengadah dan bersyukur.
Lalu Raim memberikan sebuah penggalan yang berisi tamparan pernyataan status di dunia, bagaimana pandangan Tuhan pada manusia yang hilang arah.
Siapakah aku sebenarnya
Hanya atom yang kecil besar sombongnya
Di sini Raim seperti menyindir dirinya sendiri, dan mungkin juga kita semua. Ego manusia sering membuat seseorang merasa paling hebat, sampai lupa bahwa serapuh apa pun pencapaiannya, ia tetap makhluk kecil di tengah semesta yang luas. Tidak ada alasan untuk sombong, karena semua yang dimiliki toh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya juga.
Selain merenung ke dalam diri, “Iqro” juga bicara soal pencarian makna hidup yang tak kunjung usai.
Sampai di masa ini
ku masih mencari
tentang arti dunia
yang ramai nan sunyi
Apa sebenarnya arti dunia? Bahagia, kaya, lalu mati? Atau justru sesederhana menikmati kopi sore hari, punya pekerjaan yang nyaman, keluarga yang baik? Tidak ada ukuran pasti untuk kebahagiaan, dan hampir semua orang mencarinya dengan cara masing-masing, kadang sampai kehilangan arah karena tak tahu lagi seperti apa rupa bahagia itu. Baris ini menangkap kegelisahan akan pencarian yang terus berjalan, tanpa kepastian kapan akan selesai.
Bantu aku berjalan menuju cahaya
Lalu aku berjanji menjadi yang baik
Semacam doa yang dibaluti keyakinan bahwa langkah yang tak pasti ini tetap dijaga oleh Tuhan. Dan di titik inilah pesan paling emosional, juga paling inti, dari “Iqro” muncul.
Baru aku mengerti
ternyata bahagia
bukan perkara nanti tetapi sekarang
Yang membuat “Iqro” terasa menyentuh adalah caranya bercerita. Raim tidak menggurui, ia lebih terdengar seperti sedang bicara pada dirinya sendiri. Dan tanpa sadar, kata-katanya jadi mewakili perasaan banyak orang yang pernah merasa lelah, kehilangan arah, atau sekadar bertanya-tanya soal tujuan hidup.
Ini juga yang membedakan “Iqro” dari “Komang”. Kalau “Komang” berhasil karena melodinya yang catchy dan cerita cintanya yang sederhana, “Iqro” justru berjalan ke arah sebaliknya, lebih sunyi, lebih personal, dan tidak berusaha menggaet pendengar lewat hook yang mudah diingat. Ini semacam pertaruhan bagi Raim, membuktikan bahwa dirinya bukan hanya bisa membuat lagu yang viral, tapi juga lagu yang bertahan lama karena kedalaman maknanya.
Di tengah lautan lagu yang bicara soal cinta dan ambisi duniawi, “Iqro” hadir seperti ruang teduh. Mengajak pendengarnya kembali mengingat Tuhan, dan menerima hidup dengan lebih tenang. Pesannya adalah kebahagiaan sejati bukan soal mimpi yang akhirnya tercapai, tapi soal kemampuan menghargai setiap hal yang sudah terjadi, dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan yang sudah diizinkan Tuhan.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment