Reporter: Gracia Laura Elyzabeth
Suara USU, Medan. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, secara resmi mulai menjalankan tugas kedinasannya langsung dari Kepulauan Nias sejak Rabu (15/7/2026). Langkah strategis ini merupakan bentuk komitmen serta realisasi janji kampanye untuk memberikan perhatian ekstra bagi daerah yang membutuhkan intervensi khusus, sekaligus memastikan kehadiran nyata pemerintah di tengah masyarakat.
Gubernur direncanakan berkantor di Kepulauan Nias selama tiga bulan dengan sistem kerja bergantian bersama Wakil Gubernur Sumut, H. Surya. Pada pekan pertama (15-20 Juli 2026), Bobby memimpin langsung peninjauan lapangan di Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Nias Selatan, dan Nias Utara, sebelum menyerahkan fokus pelaksanaan tugas harian kepada Wagub Surya untuk periode 20-26 Juli 2026.
Sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Bobby Nasution menegaskan bahwa pemindahan kantor sementara ini adalah bentuk komitmen penuh pemerintah provinsi untuk memacu pembangunan daerah secara langsung di lapangan tanpa menghiraukan kritik yang ada.
“Saya sudah bertekad ingin membangun Nias. Kalau ada yang mencibir atau mengejek, bagi saya tidak masalah. Kami hadir atas nama pemerintah,” tegas Bobby menanggapi kritik mengenai efektivitas pemindahan kantor ini.
Sementara itu, dikutip dari Kliksumut.com, sektor infrastruktur dan logistik menjadi salah satu fokus utama dalam agenda kerja ini. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memprioritaskan rekonstruksi Jembatan Sungai Mo’awo di Jalan Yos Sudarso, Gunungsitoli, yang merupakan urat nadi penghubung menuju Nias Utara.
Selain itu, pengerjaan proyek jalan strategis sepanjang 2,3 kilometer yang menghubungkan Lolowau di Nias Selatan menuju Sirombu di Nias Barat dijadwalkan mulai berjalan pada Agustus 2026. Untuk menstabilkan harga bahan pokok yang sering melonjak akibat kendala cuaca dan transportasi laut, Pemprov Sumut merencanakan pembangunan gudang logistik regional di Gunungsitoli serta penguatan fungsi Pelabuhan Roro Gunungsitoli sebagai pusat distribusi utama.
Di bidang pendidikan dan kesehatan, Pemprov Sumut mengalokasikan anggaran untuk perbaikan fasilitas penunjang masyarakat. SMKN 1 Gido dipindahkan ke Desa Somi di atas lahan hibah seluas dua hektar untuk menghindari risiko banjir dan potensi bahaya satwa liar di muara sungai dekat lokasi lama, dengan tahap pertama pembangunan ditargetkan rampung pada November 2026. Sementara itu, SMAN Unggulan Sukma Nias mendapat alokasi anggaran sebesar Rp87 miliar untuk rekonstruksi total gedung, asrama, dan laboratorium modern yang ditargetkan selesai pada awal 2027.
Pada sektor kesehatan, status Puskesmas Mandrehe ditingkatkan menjadi puskesmas rawat inap berkapasitas 10 tempat tidur yang dilengkapi fasilitas USG 4D dan ruang persalinan modern. Langkah ini didukung strategi penguatan tenaga medis melalui rotasi dokter, penempatan dokter residen hasil kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta program beasiswa spesialis bagi putra-putri daerah.
Selain penanganan infrastruktur dasar, Pemprov Sumut merancang pemetaan zonasi wilayah berdasarkan potensi lokal. Nias Selatan diarahkan sebagai pusat destinasi wisata dan budaya melalui revitalisasi situs megalit Tetegowo dan Desa Tradisional Bawomataluo. Adapun Kabupaten Nias, Nias Utara, dan Nias Barat diproyeksikan sebagai sentra produksi hasil laut dan pertanian yang disalurkan melalui Gunungsitoli.
Menanggapi wacana pemekaran wilayah Nias menjadi provinsi tersendiri, Gubernur Bobby menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rangkaian kegiatan dinas di Kepulauan Nias tersebut juga diisi dengan agenda interaksi sosial bersama masyarakat lokal, termasuk acara nonton bareng laga final Piala Dunia 2026 di Alun-alun Kota Gunungsitoli
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment