
Oleh: Ines Eliyana Br Ginting
Suara USU, Medan. Menjadi mahasiswa berprestasi bukanlah sekadar sebuah penyematan gelar, melainkan sebuah perjalanan panjang menghadapi jatuh bangunnya perjuangan, sesekali dihinggapi keraguan, dan bersahabat dengan kerja keras. Itulah yang tercermin dari sosok Helen, mahasiswi Program Studi (Prodi) Farmasi angkatan 2021 di Universitas Sumatera Utara (USU), yang mendapatkan sederet prestasi di tingkat nasional dan internasional, meski mengaku bukan berasal dari latar belakang siswa yang aktif semasa sekolah. Ia menyatakan realitas masa sekolahnya yang hanya fokus belajar dan tidak pernah bergabung dalam organisasi atau mencoba perlombaan tertentu.
Bagi Helen, kehidupannya berubah ketika memasuki dunia perkuliahan. Lingkungan baru dan keinginan untuk mengisi currriculum vitae (CV) kosong mendorongnya untuk mulai mencoba berbagai kegiatan. Dari yang awalnya sekadar ikut-ikutan karena merasa takut ketinggalan, lambat laun Helen mulai menemukan semangat dan motivasi yang lebih dalam melalui keinginan menambah pengalaman, mengasah kemampuan, membanggakan orang tua, sampai membangun personal branding. Adapun prestasi yang telah berhasil Helen raih yaitu, mulai dari Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Utama Tingkat Sarjana USU 2024, Awardee MBKM Riset di Kyung hee University, Seoul-Korea, Awardee Instarter Entrepreneurial Leadership Program by Paragon.corp, Penerima Pendanaan PKM-K dan PKM-KC 2023, Delegate Fully Funded Global Business Challenge Chapter Malaysia-Singapore, Rank 3 Business Pitching Fundation NAMA, Malaysia, hingga memiliki empat publikasi ilmiah terindeks Scopus.
Di balik seluruh prestasi yang ia torehkan itu, terdapat kisah yang dibumbui keraguan atas pilihan yang tidak mudah, telah terlalui. Salah satu momen paling berat baginya adalah ketika ia harus memilih antara mewakili USU ke ajang Mapres Tingkat Nasional atau menerima tawaran riset ke Korea.
Ketika ditanya soal tantangan terbesarnya dalam menjaga ritme perjalanannya, Helen menyebutkan dua hal yaitu manajemen waktu dan kesehatan mental. Kuliah di Farmasi membuatnya harus sering mengambil izin kelas dan praktek lab demi mengikuti kegiatan luar kampus. Demi tetap menyeimbangkan masa perkuliahan dan kesibukannya di luar kelas, ia membuat strategi untuk memanfaatkan jatah absen dengan bijak, meluangkan waktu khusus untuk belajar, dan tetap menjaga nilai akademik. Tidak hanya itu, bagi Helen masalah berkaitan dengan kesehatan mental juga menjadi tantangan tersendiri. Rasa malas, overthinking, dan takut gagal adalah hal yang sering datang. Konsumsi motivasinya hadir dari orang-orang terdekat, dosen di kampus, sampai konten-konten sederhana di platform digital yang menggugah semangat.
Apabila berkaca dari berbagai kegiatan yang diikutinya, Helen mengakui adanya tuntutan biaya yang menyertai. Helen menyampaikan rasa syukurnya, sebab  kebanyakan event yang ia ikuti mayoritas fully funded dan disponsori. Dalam artian, Helen selalu jeli memandang celah dan kesempatan meminimalisir pengeluaran dalam setiap kegiatan dengan mencari sponsor dari fakultas atau penyelenggara kegiatan.
Helen juga tidak luput dari kegagalan, ia pernah ditolak menjadi asisten laboratorium sebanyak tiga kali. Ia juga gagal dalam berbagai lomba karya tulis ilmiah (KTI) dan beragam beasiswa. Seperti halnya manusia dengan segala mimpi yang dituju, tentu ada kekecewaan pada penolakan yang dierima. Namun, semua hal itu justru menjadi batu loncatan yang membawa Helen menuju usaha yang lebih giat dan konsisten. Buah dari kesabaran, kerja keras, konsistensi, dan kepercayaan dirinya, saat ini ia telah menjadi asisten laboratorium di tiga tempat, menerima beasiswa dari ParagonCorp, dan aktif sebagai pembicara di lebih dari 30 acara.
Perihal menjaga keseimbangan hidup, Helen memiliki strategi pribadinya. Ia terbiasa memanfaatkan Google Calendar, menulis to-do list, hingga mencatat target dan kegiatan dalam buku tahunan. Setiap keberhasilan yang berhasil ia dapatkan, dirayakan dengan cara sederhana seperti istirahat, menyepi, atau sekadar hibernasi di kamar. Ia percaya, self-reward adalah bagian dari proses panjang membangun diri. Dalam perjalanannya, Helen mengakui bahwa dukungan orang tua, sahabat, dosen pembimbing, dan lingkungan sekitar menjadi alasan ia dapat terus bertahan dan berkembang sejauh ini.
Terlepas dari eksistensinya sebagai mahasiswa berprestasi, ada beban tersendiri yang tersisa dalam dirinya. Ia menuturkan besarnya ekspektasi dari banyak pihak seperti orang tua, teman, dosen, bahkan dirinya sendiri yang seringkali menciptakan tekanan akan keinginan menjadi lebih dan lebih lagi. Tapi Helen selalu memilih memaknai itu sebagai bentuk dukungan dan dorongan untuk terus bertumbuh.
Sebagai penutup, Helen agi setiap orang yang sedang melalui berbagai rintangan dan pertualangan untuk menghabiskan jatah gagal sejak sekarang. Berani mengambil semua kesempatan yang datang, mencari mentor yang dapat membimbing langkah yang ingin diambil, dan senantiasa mendokumentasikan setiap langkah yang sedang dilalui. Niat, aksi, dan keyakinan akan membawa kita ke tempat yang bahkan belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Helen bukan hanya representasi dari mahasiswa berprestasi secara akademik, tapi juga sosok yang mencerminkan ketangguhan mental, daya juang, dan kepekaan sosial. Ia membuktikan bahwa prestasi bukan monopoli orang dengan privillege, melainkan milik siapa saja yang berani mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment