Home Opini HMJ Wadah Aspirasi atau Sekadar Formalitas
Opini

HMJ Wadah Aspirasi atau Sekadar Formalitas

Share
Ilustrator: Emmi Simatupang

Oleh: Cynthia Ma

Suara USU, Medan. Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) kerap muncul di feed Instagram saat ada acara, lengkap dengan dresscode dan dokumentasi apik. Namun di sisi lain, saat melihat ke ruang diskusi, forum aspirasi, atau sekadar grup mahasiswa—nama mereka nyaris tak terdengar. Wajar kalau kemudian muncul pertanyaan: apakah HMJ benar-benar wadah untuk memberdayakan mahasiswa, atau hanya organisasi formal yang fungsinya sekadar terlihat aktif?

Secara struktur, HMJ memang punya banyak potensi. Ia seharusnya menjadi ruang tumbuh mahasiswa: tempat berkumpul, berorganisasi, dan menyampaikan suara ke program studi. Di atas kertas, perannya sangat vital, yakni menjadi jembatan antara mahasiswa dan birokrasi kampus. Tapi pada kenyataannya, tidak semua HMJ benar-benar menjalankan peran ini. Kadang lebih sibuk mempersiapkan seremonial acara ketimbang mendengar keresahan mahasiswa.

Program kerja yang ditampilkan sering kali hanya formalitas. Kalender kegiatan disusun, namun realisasinya minim. Aspirasi jarang ditampung, apalagi ditindaklanjuti. Dalam satu periode sebelumnya, kehadiran HMJ di tengah kehidupan kampus nyaris tak terasa. Tidak ada upaya menjangkau mahasiswa, tidak ada forum terbuka, bahkan tidak ada komunikasi dua arah yang layak. Kalau bukan karena logo mereka di spanduk acara, barangkali keberadaan mereka akan terlupakan.

Sebaliknya, kepengurusan yang sekarang menunjukkan hal yang jauh berbeda. Tanpa perlu membandingkan pencapaian besar, cukup lihat seberapa sering mereka muncul dalam topik percakapan mahasiswa. Jumlah feed Instagram memang meningkat, tapi lebih penting dari itu: ada kesan bahwa mereka benar-benar bekerja. Mereka terlihat, terdengar, dan terasa keberadaannya.

Pembagian divisinya pun masih sama: kesekretariatan, kesenian, kemahasiswaan, kebendaharaan, olahraga, hingga kerohanian, yang berada di bawah kepemimpinan ketua umum, sekretaris, dan bendahara. Masing-masing punya peran yang jelas, tetapi jika tak ada semangat kolektif di balik struktur itu, maka semua akan berjalan di tempat. Tujuan utamanya tetap satu: memberdayakan mahasiswa dan memperkaya kehidupan kampus. Lantas, kenapa perbedaan kinerja dua periode bisa begitu jauh?

Menyebut HMJ sebagai “wadah aspirasi” tentu bukan sekadar slogan di spanduk. Wadah berarti tempat yang terbuka, siap menampung suara dari siapa pun, bukan hanya lingkaran dalam pengurus. Tapi coba tanya ke mahasiswa biasa, berapa banyak yang tahu harus bicara ke siapa saat ada keluhan soal sistem kuliah, pengajar, atau beasiswa? Dalam beberapa kasus, HMJ justru terasa seperti ruang tertutup, tempat yang tidak bisa diakses kecuali oleh mereka yang “terlibat”.

Masalahnya bukan hanya soal komunikasi yang buruk, tapi juga absennya sistem evaluasi. Program kerja disusun di awal periode, tapi tidak pernah ada umpan balik terbuka dari mahasiswa. Tidak ada laporan kemajuan, tidak ada ruang bagi kritik yang membangun. Akibatnya, HMJ terasa jauh dan tidak relevan. Bukan karena mahasiswa malas ikut, tapi karena memang tidak tahu harus ikut di mana dan lewat siapa.

Namun, tak bisa dinafikan kerja keras yang ditunjukkan oleh HMJ periode 2025/2026. Mereka layak diapresiasi karena berhasil menunjukkan bahwa HMJ bisa benar-benar hadir dan berfungsi. Program-program yang mereka jalankan tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga terasa manfaatnya. Bahkan, banyak di antaranya baru muncul dalam waktu kurang dari setahun, sesuatu yang tidak pernah terjadi di periode sebelumnya yang semestinya lebih siap secara waktu.

Mulai dari membuat kanal WhatsApp khusus info lomba, beasiswa, dan magang; mengadakan lari pagi bersama; membimbing mahasiswa yang maju ke Pilmapres; hingga berani menyampaikan keluhan ke pihak prodi. Semuanya menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bekerja dalam diam, tetapi juga paham kebutuhan mahasiswa hari ini. Mereka tidak sekadar menggelar acara demi konten, tapi benar-benar bergerak karena peduli.

HMJ seharusnya jadi organisasi yang hidup, yang mau mendengar, siap dikritik, dan terus memperbaiki diri. Membuka forum aspirasi, transparan terhadap capaian program, dan memberi ruang bagi partisipasi mahasiswa luar pengurus adalah langkah-langkah kecil yang bisa membuat perubahan besar. Sebab pada akhirnya, HMJ bukan soal jabatan, struktur, atau eksistensi digital, melainkan tentang keberpihakan.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.