Oleh : Ghefira Mannawa Salwa
Suara USU, Medan. Pernah tidak, saat kita ingin mencoba sesuatu tetapi kalimat pertama yang muncul justru, “Kayaknya aku enggak bisa deh.” Bukan karena sudah mencoba lalu gagal, melainkan karena rasa takut sudah lebih dulu menguasai diri. Takut tidak cukup pintar, takut kalah dari orang lain, atau takut hasilnya tidak sesuai harapan. Padahal, sering kali batas terbesar yang menghalangi langkah seseorang bukan berasal dari orang lain, melainkan dari pikirannya sendiri.
Pesan inilah yang terasa begitu dekat ketika mendengarkan lagu Never Say Never milik Justin Bieber. Lagu ini pertama kali dirilis pada 8 Juni 2010 sebagai theme song film The Karate Kid versi 2010 yang dibintangi Jaden Smith, sebelum akhirnya dirilis ulang sebagai single pada Januari 2011. Meski sudah berusia lebih dari satu dekade, lagu ini kembali ramai diperbincangkan setelah potongan audionya viral di TikTok. Banyak kreator menggunakan lagu ini sebagai latar video yang memperlihatkan perjalanan mereka, mulai dari latihan olahraga, mengejar impian, proses belajar, hingga momen ketika akhirnya berhasil mencapai sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebuah lagu tidak mengenal usia. Media sosial, khususnya TikTok, menjadi ruang yang mampu menghidupkan kembali lagu-lagu lama dan memperkenalkannya kepada generasi baru. Tidak sedikit lagu yang kembali masuk ke daftar putar anak muda setelah bertahun-tahun sejak pertama kali dirilis. Menariknya, Never Say Never tidak viral hanya karena melodinya yang mudah diingat, tetapi juga karena pesan yang dibawanya masih terasa relevan hingga sekarang.
Dari segi musik, Never Say Never hadir dengan nuansa pop yang dipadukan dengan sentuhan hip-hop melalui kolaborasi Justin Bieber dan Jaden Smith. Irama lagunya terdengar energik, penuh semangat, dan perlahan membangun emosi pendengar hingga mencapai bagian reff yang terasa begitu kuat. Pembawaan lagu ini seolah mengajak siapa pun yang mendengarnya untuk bangkit setiap kali merasa ragu terhadap dirinya sendiri.
And there’s just no turning back (back)
When your heart’s under attack (attack)
Gonna give everything I have
It’s my destiny
Pada bagian lirik ini, menggambarkan seseorang yang sedang menghadapi berbagai tantangan dalam mengejar apa yang diinginkannya. Kalimat “there’s just no turning back” menunjukkan tekad untuk terus melangkah tanpa kembali mundur, meskipun keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika hati sedang “diserang” oleh rasa takut, keraguan, atau kegagalan, pilihan yang diambil bukanlah menyerah, melainkan memberikan seluruh usaha yang dimiliki.
Bagian yang paling menarik terdapat pada kalimat “It’s my destiny.” Kata destiny sering dimaknai sebagai takdir atau tujuan hidup yang ingin dicapai. Namun, dalam konteks lagu ini, takdir bukanlah sesuatu yang datang begitu saja tanpa usaha. Sebaliknya, takdir digambarkan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dengan kerja keras, keberanian, dan keyakinan terhadap diri sendiri. Lagu ini seolah mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang ingin diraih, tetapi tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai jika seseorang memilih berhenti sebelum benar-benar berusaha.
I will never say never (I will fight)
I will fight ’til forever (to make it right)
Whenever you knock me down
I will not stay on the ground
Selanjutnya, pada bagian yang paling kuat tentu terletak pada kalimat “I will never say never.” Frasa ini bukan sekadar ajakan untuk pantang menyerah, tetapi juga mengingatkan agar kita tidak terlalu cepat berkata “tidak bisa”, “tidak mampu”, atau “mustahil” terhadap sesuatu yang sebenarnya ingin kita capai. Sering kali, rasa takut dan minder membuat seseorang menyerah bahkan sebelum mencoba. Padahal, keberhasilan bukan hanya dimiliki oleh mereka yang paling berbakat, tetapi juga oleh mereka yang berani mengambil kesempatan dan terus berusaha.
Rasa minder memang manusiawi, tetapi jika terus dipelihara, hal itu justru menjadi penghambat terbesar dalam proses berkembang. Pada akhirnya, seseorang tidak gagal karena kurang mampu, melainkan karena tidak pernah memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk mencoba.
Pesan inilah yang membuat Never Say Never tetap relevan meski telah dirilis bertahun-tahun lalu. Lagu ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Tidak semua orang langsung hebat pada percobaan pertama, dan tidak semua proses berjalan mulus. Akan selalu ada kegagalan, penolakan, bahkan rasa ingin menyerah. Namun, selama seseorang masih mau belajar dan terus melangkah, selalu ada kemungkinan untuk berkembang menjadi lebih baik.
Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk
Leave a comment