
Oleh: Jio M
Suara USU, Medan. Empat tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 menyerang, Kota Medan sempat dihebohkan dengan kabar peluncuran layanan transportasi umum, Trans Metro Deli. Sejak awal kemunculannya, layanan untuk transportasi umum ini dibuka dengan uji coba untuk publik secara gratis. Kemajuan Kota Medan sempat dianggap sebagai ‘Peradaban Baru Kota Medan’ menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Iswar Lubis. Walaupun sempat terdapat demonstrasi dari beberapa pihak angkutan tradisional, hal tersebut tampaknya tidak seberapa dibandingkan dengan antusiasme masyarakat yang meningkat dari hari ke hari. Pada awal peluncurannya, Trans Metro Deli dikelola oleh kementerian perhubungan dengan standar fasilitas yang mumpuni, dimulai dari AC, kebersihan, CCTV, pelayanan armada hingga jadwal keberangkatan yang terpantau dengan jelas melalui aplikasi ‘Teman Bus’.
Seiring berjalannya waktu, dengan dimulainya tarif berbayar bagi penumpang, Trans Metro Deli semakin kondusif dengan jumlah penumpang yang ditahan dan tidak dibiarkan membludak seperti ketika gratis. Mayoritas penumpang yang merupakan mahasiswa, pekerja dan anak sekolah terlihat tertib dengan peraturan yang ada walaupun berbayar. Jam-jam padat tetap terlihat padat namun masih terkontrol dengan baik. Semuanya berjalan dengan baik hingga pengumuman ‘gratis’ kembali dikumandangkan.
Tepatnya pada bulan Agustus 2024, masyarakat kembali sangat antusias dengan kabar baik ini. Namun, di balik kabar baik ini, terdapat ganjaran yang harus dibayar, apalagi kalau bukan penurunan kualitas pelayanan, tepatnya berupa pengurangan jumlah armada di beberapa koridor. Berkat hal ini, ledakan penumpang tampaknya jadi pemandangan yang amat lumrah namun mengerikan di setiap jam sibuk, di Lapangan Merdeka.
Desas desus akan berhentinya fasilitas Trans Metro Deli ini sempat menjadi buah bibir di kalangan penumpang. Banyak penumpang yang harap harap cemas dengan berita tersebut, mengingat waktu pertama kali diluncurkan secara gratis, ledakan seperti ini jelas tak terelakkan. Hingga mimpi buruk itu menjadi kenyataan, peradaban baru tersebut kembali menjadi angan-angan yang semu. Cita cita akan Kota Medan yang bebas dari kemacetan lalu lintas.
Layanan bus yang kembali gratis ini juga menjadi penanda akan pindahnya pengelola, yang sedari awal dikelola oleh kementerian perhubungan, kini dikelola oleh Pemerintah Kota Medan, “Berkat kepedulian Pak Wali Kota,” ungkap Iswar ketika dijumpai pers, Senin (19/08).
Berdasarkan pengamatan, dengan antusiasme yang luar biasa dari masyarakat Medan, pemerintah seharusnya dapat kembali menguji kebijakan ‘gratis’ yang ada. Memberikan pelayanan publik berupa transportasi umum yang ‘gratis’ merupakan hal yang jelas sangat membantu kesejahteraan masyarakat khususnya Kota Medan, tetapi mengurangi armada sebagai ‘deal’ nya merupakan negosiasi yang buruk. Bayangkan berapa banyak masyarakat yang akan beralih menggunakan transportasi umum apabila pelayanan, harga hingga jumlah armada terakomodasi dengan baik. Pemerintah kota seharusnya tidak tanggung dalam membuat kebijakan.
Tidak hanya terkait bus, halte bus yang juga merupakan bagian penting dari fasilitas transportasi umum ini, tampaknya belum dapat dimaksimalkan oleh Pemerintah Kota. Dilihat dari beberapa halte yang tampak kurang memadai seperti tidak adanya plang pemberhentian bus, ketertiban parkir di sekitar area halte, hingga ketersediaan shelter. Begitupun dengan jam operasional yang diharapkan dapat kembali dipertimbangkan untuk diperpanjang. Esensi Trans Metro Deli sebagai tulang punggung transportasi umum di Kota Medan rasanya kurang afdol apabila jam operasional masih terbatas.
Pemerintah Kota Medan saat ini tampak menggalakkan Kota Modern, ini merupakan niat yang baik, namun pemerintah tentu memiliki banyak PR untuk mencapai cita-cita seperti bebas kemacetan lalu lintas di Medan, khususnya dalam menciptakan Peradaban Baru Kota Medan.
Hingga saat ini, Kota Medan masih terus dipadatkan dengan lalu lalang Trans Metro Deli dan juga Bus listrik yang baru baru ini hanya beroperasi di dua koridor, J-City dan Amplas-Pinang Baris. Pemerataan akan fasilitas bus listrik ini diharapkan dapat segera ditindaklanjuti untuk kembali meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Medan.
Redaktur: Feby Simarmata
Leave a comment