Oleh: Deswina Listiani Matondang
Di tengah kemajuan sains dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, cara berpikir manusia seharusnya semakin berlandaskan pada rasionalitas dan bukti ilmiah. Namun, nyatanya masih terdapat fenomena yang justru berjalan berlawanan arah, yaitu kepercayaan terhadap hal-hal tersembunyi, mistis, supranatural yang kerap dianggap melibatkan ilmu sihir dan ritual spiritual. Fenomena kepercayaan tersebut dikenal sebagai okultisme .
Okultisme tidak surut ditelan kemajuan zaman. Ia merayap masuk ke ruang-ruang modern dengan wajah yang lebih halus dan lebih mudah diterima. Bukan lagi sekadar ritual tersembunyi di sudut gelap kampung, tetapi telah masuk sebagai sajian tontonan publik lewat konten tarot yang viral di TikTok, ritual ‘manifestasi’ yang dibagikan di Instagram, hingga jasa konsultasi paranormal yang kini bisa dipesan melalui aplikasi dengan antarmuka yang bersih dan profesional. Fenomena ini bukan sekadar tren hiburan. Ini adalah gejala dari sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah pergeseran diam-diam dalam cara masyarakat modern memandang kebenaran, kausalitas, dan kendali atas hidupnya sendiri.
Kepercayaan terhadap hal-hal di luar nalar sebenarnya bukan sesuatu yang baru lahir. Dikutip dari kajian antropologi budaya, hampir setiap peradaban manusia sepanjang sejarah memiliki sistem kepercayaan terhadap kekuatan gaib sebagai respons psikologis terhadap ketidakpastian dan ancaman yang tidak bisa dijelaskan. Oleh karena itu, yang berubah bukan keberadaannya, melainkan cara ia dikemas, disebarkan, dan dinormalisasi secara massal di tengah masyarakat yang seharusnya sudah melek terhadap rasionalitas dan bukti ilmiah.
Masalah sesungguhnya bukan pada individu yang mencari ketenangan melalui simbol, ritual, atau kepercayaan tertentu. Spiritualitas adalah hak personal yang tidak perlu dipersoalkan. Namun, permasalahannya terletak ketika kepercayaan irasional mulai masuk ke ranah pengambilan keputusan yang seharusnya berbasis logika dan fakta. Ketika seseorang menunda pengobatan medis karena menunggu pertanda baik dari mimpi semalam, ketika keputusan bisnis ditentukan oleh posisi bintang di langit, atau ketika seseorang merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli jimat yang dijanjikan mengubah nasib, di situlah batas antara keyakinan pribadi dan kerugian nyata mulai dilampaui.
Berdasarkan kacamata studi psikologi kognitif, manusia secara alami rentan terhadap magical thinking, yakni kecenderungan bawaan untuk melihat pola, makna, dan hubungan sebab-akibat di tempat yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali. Otak manusia dirancang untuk mencari keteraturan di tengah kekacauan. Okultisme modern mengeksploitasi kecenderungan ini dengan sangat cerdas, menawarkan narasi yang terasa personal, jawaban yang terasa pas, dan ilusi bahwa semesta sedang berbicara langsung kepada kita.
Ironisnya, semakin besar tekanan hidup yang dirasakan seseorang, semakin subur lahan bagi praktik-praktik ini untuk tumbuh. Generasi muda yang hidup di tengah ketidakpastian karier, tekanan ekonomi yang kian berat, relasi sosial yang rumit, dan kecemasan kolektif yang belum sepenuhnya pulih pasca pandemi, berpeluang menemukan kenyamanan semu dalam ilusi kendali yang ditawarkan kartu tarot, horoskop harian, atau ritual-ritual kecil yang terasa memberi pegangan. Ketika sistem sosial gagal memberikan rasa aman, manusia akan mencarinya di tempat lain, salah satunya melalui okultisme selalu siap memberikan rasa aman tersebut.
Platform digital membuat kondisi ini berkembang jauh lebih cepat. Algoritma media sosial pada dasarnya bukan dibuat untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, melainkan untuk menjaga pengguna tetap bertahan menonton dan berinteraksi. Karena itu, konten bertema okultisme yang dibalut visual menarik, cerita emosional, serta testimoni yang terdengar meyakinkan sering kali lebih mudah muncul di beranda banyak orang. Satu video tarot yang terasa relate dapat menjadi pintu masuk menuju rangkaian konten serupa yang terus muncul, hingga perlahan membentuk keyakinan bahwa hal tersebut benar-benar nyata dan memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi mereka.
Lebih mengkhawatirkannya lagi, bukan hanya satu individu yang mulai terpengaruh, tetapi hal ini dapat menyebar ke masyarakat luas hingga perlahan menjadi sesuatu yang dianggap wajar secara bersama-sama. Ketika kepercayaan irasional mulai hadir dalam obrolan sehari-hari, ketika fase bulan atau posisi bintang dijadikan alasan untuk menjelaskan masalah komunikasi, atau saat ramalan zodiak diperlakukan seolah setara dengan analisis psikologi, maka tanpa disadari masyarakat sedang mengalami penurunan dalam cara berpikir kritis. Prosesnya tidak terjadi secara besar-besaran atau mencolok, melainkan bergerak perlahan lewat konsumsi konten sehari-hari yang tampak biasa saja dan terasa tidak berbahaya.
Pendidikan kritis menjadi jawaban yang paling mendasar dalam menghadapi permasalahan ini. Kemampuan untuk membedakan klaim yang dapat diuji dari klaim yang hanya terasa benar, memahami bias konfirmasi, dan mengenali cara kerja manipulasi psikologis adalah kecakapan dasar yang seharusnya dimiliki setiap orang. Sayangnya, literasi berpikir kritis masih jauh dari merata.
Manusia memang makhluk yang membutuhkan makna dan pencarian makna adalah sesuatu yang mulia. Namun, yang perlu dipertanyakan adalah ketika masyarakat modern, dengan segala kemudahan akses terhadap informasi dan pendidikan yang sudah sangat berkembang, justru membiarkan nalarnya terkikis perlahan tanpa perlawanan, dibalut estetika yang tampak tidak berbahaya di layar kaca. Normalisasi yang sunyi itulah yang sesungguhnya berbahaya. Pada akhirnya, yang perlu dikritisi bukan sekedar keberadaan praktik-praktik spiritualitas itu saja, tetapi juga bagaimana manusia memahami dan mengartikannya dengan kehidupan mereka.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment