
Oleh: Siti Aisyah
Suara USU, Medan. Di tengah gempuran film Indonesia yang ramai dengan romansa remaja, horor komersial, dan aksi penuh gaya, Turah (2016) hadir seperti jeda yang sunyi, serta mengajak kita menoleh ke pinggiran, ke kehidupan yang sering kali tidak tampak dalam layar lebar. Film ini adalah debut penyutradaraan Wicaksono Wisnu Legowo, yang berani mengambil pendekatan berbeda, yaitu menggunakan bahasa Jawa ngoko sepenuhnya dan menghadirkan kisah dari Kampung Tirang, Tegal, yaitu sebuah kampung kumuh yang tak hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga secara pilihan dan ruang hidup.
Turah tidak mengandalkan dramatisasi konflik atau kejutan plot. Sebaliknya, film ini mengajak penonton menyelami diam, pasrah, dan ketakutan yang mengakar. Alurnya sederhana namun menggugah, membawa kita pada kehidupan dua tokoh sentral: Turah dan Jadag. Turah adalah pria pendiam yang menerima keadaan tanpa banyak bertanya, sementara Jadag lebih gelisah, keras kepala, dan mulai mempertanyakan sistem yang membelenggu mereka. Keduanya tinggal di bawah kekuasaan tak langsung seorang pengusaha kecil bernama Darso, sosok yang menyediakan rumah dan pekerjaan bagi warga, tetapi juga memastikan mereka tetap bergantung dan tidak benar-benar mandiri.
Hal yang membuat film ini menonjol adalah keberaniannya menyampaikan bahwa kemiskinan bukan sekadar hasil dari ketidaksanggupan, melainkan sesuatu yang bisa dibentuk dan dijaga oleh sistem kekuasaan. Rasa takut yang ditanamkan perlahan menjelma menjadi ketundukan kolektif. Film ini menampilkan kekuasaan yang tidak perlu marah-marah, cukup dengan membuat rakyat takut kehilangan apa yang sedikit mereka punya. Dalam dialog yang sederhana namun menghantam, Darso berkata:
“Koe isih nduwe omah, isih mangan. Iki jenenge rejeki. Yen kok lawan, kabeh iso ilang.”
(“Kamu masih punya rumah, masih makan. Itu namanya rezeki. Kalau kamu melawan, semuanya bisa hilang.”)
Kalimat ini mencerminkan bagaimana sistem bekerja secara halus tapi menekan, membuat warga kampung percaya bahwa diam adalah cara paling aman untuk hidup. Namun Turah tidak hanya kuat dalam cerita dan gagasan. Secara sinematografis, film ini memilih pendekatan yang sangat minimalis namun tajam. Tidak ada musik latar yang mengarahkan emosi, kamera lebih banyak diam mengamati dengan sudut-sudut statis, dan pencahayaan alami digunakan untuk menjaga kesan otentik. Semua ini menciptakan atmosfer yang sangat dekat dengan kenyataan. Penonton tidak merasa sedang menonton film, tetapi seolah menyaksikan potongan hidup yang betul-betul sedang terjadi di depan mata.
Akting para pemeran yang sebagian besar adalah aktor non-profesional, semakin menambah kekuatan film ini. Justru karena mereka bukan bintang layar, emosi yang tersampaikan terasa mentah dan tulus. Tatapan kosong, diam yang panjang, atau kalimat yang lirih, semuanya tidak dibuat-buat. Mereka bukan sedang berakting, mereka seperti benar-benar menjadi bagian dari dunia itu. Hal tersebut membuat Turah terasa seperti dokumenter kehidupan yang sepi, namun penuh luka dan makna.
Selain itu, hal lain yang patut diapresiasi adalah keberanian Turah untuk tidak menyerahkan “penyelesaian” kepada penonton. Film ini tidak menyediakan pahlawan yang berhasil menggulingkan penguasa, tidak ada klimaks revolusioner. Ia lebih memilih menutup cerita dengan kenyataan bahwa kesadaran sosial adalah proses yang panjang, menyakitkan, dan sering kali hanya bisa dimulai tanpa tahu akan berakhir di mana. Dalam hal ini, Turah bukanlah tontonan yang memberi harapan instan. Tapi justru karena itu, ia menjadi penting—karena ia jujur.
Sayangnya, film ini tidak mendapat perhatian luas dari publik. Ia hanya beredar di festival-festival film independen, seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Singapore International Film Festival. Padahal, isu yang dibawanya sangat relevan, yaitu tentang ketimpangan sosial, pembangunan yang tidak merata, dan bagaimana kemiskinan bisa diwariskan secara sistemik. Di Indonesia yang masih bergulat dengan ketidakadilan struktural, Turah adalah film yang berbicara pelan namun menampar keras.
Lebih dari sekadar cerita tentang warga miskin, Turah adalah refleksi bahwa menjadi miskin bisa berarti tidak diberi pilihan. Warga Tirang bukan tidak bisa bermimpi, tapi mereka telah diyakinkan bahwa bermimpi pun berbahaya. Mereka tidak melawan bukan karena bodoh, tetapi karena takut. Dan ketakutan itu diajarkan, dipelihara, lalu diwariskan sebagai warisan sosial.
Turah, dalam film ini, bukan sekadar nama tokoh, tapi metafora dari banyak orang di negeri ini—mereka yang hidup sebagai sisa dari kemajuan yang tidak merata. Film ini tidak sekadar layak ditonton, tapi juga penting untuk dibicarakan dan direnungkan. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan sosial tidak selalu datang lewat revolusi besar. Terkadang, cukup dari satu kesadaran kecil, satu percakapan jujur, atau satu keberanian untuk keluar dari diam.
Untuk itu, Sobat SU yang haus akan tontonan bermakna, Turah adalah pilihan yang tak boleh dilewatkan. Ini bukan sekadar film, melainkan cermin sosial yang jujur, sunyi, dan menggugah nurani. Luangkan waktu untuk menyelami kehidupan yang tersembunyi di balik pembangunan, dan temukan bagaimana satu film sederhana bisa menimbulkan resonansi yang dalam. Saksikan Turah dan izinkan keheningannya berbicara kepada kesadaran kita masing-masing.
Redaktur: Yulia Tarigan
Leave a comment