
Oleh: Mutiara
Di balik sebuah prestasi, sering kali tersimpan kisah tentang disiplin, pengorbanan, dan perjuangan melawan diri sendiri. Hal ini tercermin dalam perjalanan Jesselyn Kaonedy, seorang mahasiswi Program Studi Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara (USU) yang kini memasuki semester ketujuh dan merupakan Mahasiswa Berprestasi Harapan II. Meski demikian, ia enggan melabeli dirinya sebagai sosok yang luar biasa. Baginya, semua pencapaian adalah buah dari keinginan untuk terus berproses.
Bagi Jesselyn, menjadi mahasiswa bukan sekadar untuk mencari ilmu dan koneksi, ia memandang status mahasiswa sebagai sebuah privilege yang harus dimaksimalkan. “UKT itu mahal dan menurutku kuliah itu bukan hanya untuk cari ilmu dan cari koneksi, tapi juga memaksimalkan privilege selagi aku masih menyandang status mahasiswa karena setelah aku lulus, akan banyak banget yang gabisa aku ikutin lagi karena hal-hal itu cuma bisa diikuti orang yang berstatus mahasiswa,” ujar Jesselyn.
Ia pernah meraih prestasi gemilang dengan meraih medali emas pada ajang Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) 2024 di Surabaya. Potensi Jesselyn dalam debat dan public speaking tidak diasah dalam semalam. Ia mengaku terjun ke dunia debat sejak SMA dan lebih banyak menemui kegagalan daripada keberhasilan. Namun, karakternya yang gemar bersuara dan berdiskusi membuatnya menemukan wadah yang ideal dalam dunia debat. “Aku udah terjun ke dunia debat dari SMA dan kayaknya lebih banyak kegagalan yang aku dapat daripada keberhasilan. Aku orang yang ribut dan suka bersuara, aku suka didengarkan dan debat memberikan aku platform itu,” tutur Jesselyn.
Bertanding di KDMI 2024 adalah salah satu momen paling berkesan bagi Jesselyn. Meski dihadapkan dengan lawan-lawan dari berbagai kampus ternama se-Indonesia yang telah mencetak prestasi hingga level internasional, Jesselyn tetap percaya diri. Ia memiliki cara unik untuk menaklukkan rasa takutnya. “Ketika aku takut pada orang lain, aku akan berhenti membandingkan diri sama orang lain atau lawanku. Aku akan bandingin diriku dengan diriku yang lama. Kira-kira Jesselyn yang 5 tahun lalu bisa gak ya berada di ruangan ini? Melawan orang-orang yang dari dulu hanya bisa dia tonton dari youtube? Maka aku akan mencoba yang terbaik bukan untuk mengalahkan orang, tapi mengalahkan ketakutan aku sendiri,” ungkapnya.
Tidak berhenti sampai diperolehan medali emas KDMI 2024, perjalanan prestasi Jesselyn Kaonedy terus berlanjut. Kepercayaan demi kepercayaan mulai datang, salah satunya dari berbagai institusi di Sumatera Utara. Pengalaman yang juga berkesan baginya adalah saat dipercaya menjadi juri undangan dalam ajang Debat HABITAT yang diselenggarakan oleh Kementerian PUPR. “Senang sekali rasanya, karena aku mulai dipercaya oleh beberapa institusi di Provinsi Sumatera Utara untuk menjadi seorang juri yang membantu seleksi pendebat terbaik dalam mewakili provinsi ke tingkat nasional,” ujarnya.
Selain aktif di dunia debat, Jesselyn juga membuktikan kapasitasnya di bidang lain. Baru-baru ini, ia berhasil memperoleh gelar Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Harapan II tingkat Universitas Sumatera Utara. Topik yang diusung Jesselyn tergolong unik, yaitu sebuah aplikasi animal rescue bernama PELPS (Pet Helps). Seleksi Mapres ini berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Jesselyn hanya memiliki waktu tiga hari untuk menyiapkan seluruh kebutuhan seleksi, mulai dari proposal setebal 20 halaman, poster, presentasi, kumpulan capaian unggulan, hingga prototype aplikasinya.
Meski berasal dari latar belakang Sastra Inggris yang jauh dari dunia teknologi, Jesselyn tak ragu untuk melangkah ke bidang baru. “Hal ini juga menarik karena sebagai anak sastra, aku ga punya dasar apa apa, namun aku akhirnya beraniin diri untuk melangkah ke dunia baru yang aku ga pernah sentuh sebelumnya dan akhirnya aku berhasil mendapatkan gelar lain yang cukup memuaskan yaitu Mahasiswa Berprestasi Harapan II di tingkat universitas,” tuturnya.
Di sela-sela persiapan seleksi Mapres, Jesselyn juga menyempatkan diri mengikuti lomba debat daring yang diadakan Universitas Negeri Malang. Hampir setahun vakum dari kompetisi debat, ia berhasil meraih posisi Pembicara Terbaik ke-7. Prestasi ini bagi Jesselyn cukup membanggakan, mengingat kompetisi diikuti puluhan peserta dari berbagai universitas di Indonesia, sementara dirinya sedang disibukkan dengan berbagai agenda pilmapres.
Tidak hanya unggul di dunia organisasi dan perlombaan, Jesselyn tetap memastikan dirinya aktif di bidang akademik. Selama semester lima dan enam, ia telah berhasil mempublikasikan tiga artikel ilmiah yang terindeks SINTA 3, 4, dan 6. Jesselyn berharap, ke depan jumlah publikasi ini dapat terus bertambah seiring dengan semangatnya untuk terus belajar dan berkembang.
Filosofi inilah yang menjadi pegangannya, semakin takut maka semakin ingin cepat selesai. “Semakin aku takut akan sesuatu, maka semakin besar keinginanku untuk menyelesaikannya. Ini adalah mindsetku selama kuliah, kalau aku pengen lomba, aku akan ukur ketakutanku, semakin besar takutku, berarti semakin harus aku ikut lombanya karena setelah aku ikut, aku udah melangkah maju melewati rasa takut yang besar,” jelasnya.
Di balik karir akademiknya, Jesselyn mengakui peran besar lingkungan yang suportif. Ia aktif di dua organisasi, debat dan keagamaan, yang membantunya menemukan keseimbangan antara minat, spiritualitas, dan dukungan moral. “Aku ketemu orang-orang yang suportif makanya aku bisa sampai di titik ini sekarang, tapi meskipun tidak semua positif, aku jadi tahu bahwa banyak hal atau orang di dunia ini yang tidak bisa kita kontrol, jadi lebih baik kita hidup dengan apa yang bisa kita kontrol saja,” jelasnya.
Ia juga membagi tips tentang pentingnya manajemen waktu, meskipun dia akui terkadang mood menjadi kendala. Namun, kesadaran sebagai individu yang bertanggung jawab membuatnya tetap menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. “Mungkin naif ya kalau aku bilang aku gak malas, tapi belajar dan santai itu harus balance, kamu gaboleh santai kalau kamu rasa kamu gak bisa ngejar akademik kamu. Maka kamu harus kenali dulu kemampuan kamu, kalau kurang, ya tambah. Intinya niat saja sih, satu kalimat dalam esai kamu juga progres kok,” ungkapnya.
Jesselyn Kaonedy kini menjadi salah satu sosok inspiratif di Universitas Sumatera Utara. Ia membuktikan bahwa ketekunan, keberanian menghadapi rasa takut, serta semangat untuk terus belajar adalah kunci menuju berbagai capaian besar di masa muda. Prestasi yang paling membanggakan bagi Jesselyn bukan sekadar medali emas, melainkan keberhasilan dirinya melawan ketakutan dan menghindari penyesalan.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment