Home Kabar Kampus Kolaborasi Lintas Fakultas, Mahasiswa USU Raih Medali Perunggu di Jogja Essay Competition
Kabar Kampus

Kolaborasi Lintas Fakultas, Mahasiswa USU Raih Medali Perunggu di Jogja Essay Competition

Share

Reporter: Nejla Assyifa Munthe 

Suara USU, Medan. Universitas Sumatera Utara Utara (USU) kembali mencatatkan prestasi di tingkat nasional. Aziz Munawwar Nasution (Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Angkatan 2024) dan Achmad Rifqi Febriatmo (Fisika, Fakultas MIPA, Angkatan 2024) Meraih Medali Perunggu dalam ajang bergengsi Jogja Essay Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tanggal 25 – 26 Juli 2026. 

Dalam kompetisi tingkat nasional ini, keduanya mengusung gagasan esai inovatif berjudul “PAMAN (Pasien Aman): Peningkatan Perlindungan Safeguarding bagi Pasien Rawat Inap dengan Gelang Identitas Berbasis Censored-Detection Body Camera dan Aplikasi”.  

Motivasi utama keduanya mengangkat topik tersebut berawal dari rasa keprihatinan yang mendalam terhadap isu keamanan dan perlindungan (safeguarding) pasien rawat inap di rumah sakit yang kerap luput dari perhatian. Aziz, yang berbicara mewakili tim, menjelaskan bahwa esai ini berupaya menghadirkan solusi berbasis teknologi untuk menjawab persoalan tersebut.

“Melalui esai ini, saya ingin menghadirkan solusi nyata berbasis teknologi yang saya rangkum dalam inovasi PAMAN agar bisa memberikan rasa aman yang optimal bagi pasien, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi langsung memberikan jalan keluar atas permasalahan di sektor kesehatan,” jelas Aziz Munawwar Nasution.  

Dalam proses riset dan penyusunan karya secara konsisten, tim memulai langkah mereka dengan melakukan telaah literatur mendalam terkait standar perlindungan pasien rawat inap, studi kasus keamanan rumah sakit, serta studi kelayakan teknologi seperti censored-detection body camera dan integrasi aplikasi. Menjaga konsistensi di tengah kesibukan harian menjelang tenggat waktu 25 – 26 Juli 2026, mereka menerapkan manajemen waktu yang disiplin dengan menetapkan target terstruktur serta menyisihkan waktu khusus tanpa gangguan.  

Perjalanan menuju podium di Yogyakarta tidak lepas dari tantangan yang rumit. Tantangan terbesar yang membekas bagi mereka adalah bagaimana merumuskan cara kerja teknis dari inovasi PAMAN agar terdengar logis, aplikatif, dan mudah dipahami oleh dewan juri dari sudut pandang kesehatan maupun teknologi.  

“Menyelaraskan konsep censored-detection pada body camera agar menjaga privasi pasien sekaligus meningkatkan keamanan membutuhkan analisis yang cukup mendalam. Namun, proses diskusi dan revisi yang berulang-ulang justru menjadi bagian paling membekas karena menempa saya untuk berpikir jauh lebih kritis,” ungkap Aziz Munawwar Nasution.  

Terkait persaingan yang ketat dengan tim-tim hebat dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mereka menjelaskan bahwa keunggulan utama dari gagasan mereka terletak pada kebaruan dan relevansinya. 

“Nilai jual utama dari gagasan PAMAN terletak pada kebaruan (novelty) dan relevansinya yang tinggi terhadap isu perlindungan pasien modern. Alih-alih hanya berfokus pada pengobatan medis, esai ini menyoroti aspek safeguarding non-medis melalui pendekatan preventif terintegrasi, yaitu gabungan antara gelang identitas, kamera tubuh dengan Censored-Detection Body Camera dan aplikasi pemantau. Hal ini menawarkan solusi holistik yang menjawab kebutuhan nyata di rumah sakit saat ini,” tutur Aziz Munawwar Nasution. 

Saat diumumkan berhasil mempersembahkan Medali Perunggu di UGM, tentunya hal ini menjadi kebahagiaan yang mendalam. “Rasanya tentu sangat bersyukur, bangga, dan terharu karena kerja keras selama proses penulisan hingga tahap final di UGM terbayar tuntas dengan buah manis berupa medali perunggu. Hasil ini menjadi sebuah kejutan yang membahagiakan sekaligus melampaui ekspektasi awal mengingat ketatnya persaingan dari ratusan peserta hebat lainnya. Pencapaian ini memotivasi saya untuk terus mengembangkan diri kedepannya,” ungkap Aziz Munawwar Nasution.

Melalui kompetisi ini, banyak pelajaran berharga yang dipetik, mulai dari ketajaman berpikir kritis (critical thinking), kemampuan merumuskan solusi berbasis riset secara sistematis, manajemen waktu, ketahanan mental di bawah tekanan, hingga seni mempresentasikan ide yang kompleks di hadapan juri.  

“Harapan saya, prestasi ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga bisa memantik kesadaran bahwa ide-ide sederhana yang berangkat dari keresahan di sekitar kita bisa diubah menjadi inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.” ujarnya. Ia berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa untuk tidak takut memulai, tidak berkecil hati dengan keraguan, dan terus konsisten berkarya, sebab setiap langkah kecil hari ini adalah investasi bagi kesuksesan di masa depan.

Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.