Home Tulisan Kolam Retensi Ada, Banjir Tetap Datang: Mencari Solusi yang Tepat
Tulisan

Kolam Retensi Ada, Banjir Tetap Datang: Mencari Solusi yang Tepat

Share

Oleh: Abel Sri Ningrum

Suara USU, Medan. Saya Abel Sri Ningrum Pangaribuan (220302016) adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari mata kuliah Pekerja Sosial Internasional, Fakultas Pertanian, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan yang melakukan kegiatan observasi di Kolam Resistensi Universitas Sumatera Utara untuk mengetahui kondisi air di dalam kolam saat ini.

Banjir merupakan masalah klasik yang kerap melanda wilayah perkotaan, termasuk di sekitar Universitas Sumatera Utara (USU). Meskipun kolam retensi telah dibangun untuk mengurangi risiko banjir, area sekitar Jalan Dr. Mansyur masih mengalami genangan air. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kolam retensi dan Langkah-langkah lain yang diperlukan untuk mengatasi banjir secara komprehensif. Dalam artikel ini, kami, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, akan membahas hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Kolam Retensi USU serta mencari solusi lebih efektif berdasarkan teori manajemen sumber daya air.

Meskipun kolam retensi di USU telah berfungsi sejak tahun 2024, banjir tetap terjadi di sekitar Jalan Dr. Mansyur. Menurut Gibson Panjaitan, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas SDABMBK Medan, genangan air memang terjadi dengan durasi yang lebih singkat setelah adanya kolam retensi. Namun, banjir belum bisa sepenuhnya diatasi. Salah satu penyebabnya adalah proyek pembangunan jembatan di Sungai Babura yang belum selesai. Selain itu, intensitas hujan yang tinggi dan urbanisasi yang pesat memperburuk sistem drainase yang sudah tidak memadai.

Kolam retensi berfungsi sebagai area penampungan sementara untuk air hujan, yang kemudian dilepaskan secara bertahap ke saluran air utama. Namun, efektivitas kolam retensi bergantung pada berbagai faktor, termasuk kapasitas kolam, kondisi saluran drainase, dan kondisi wilayah tangkapan air (catchment area). Dalam kasus USU, faktor-faktor seperti urbanisasi yang tidak terkendali dan kurangnya infrastruktur pendukung seperti jembatan yang memadai di Sungai Babura menghambat kinerja kolam retensi.

Menurut teori Integrated Water Resources Management (IWRM), penanganan banjir memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Pengelolaan air yang berkelanjutan tidak hanya melibatkan infrastruktur fisik seperti kolam retensi, tetapi juga regulasi penggunaan lahan, pengelolaan limbah, dan program edukasi lingkungan bagi masyarakat. Dalam hal ini, kolam retensi di USU hanya salah satu bagian dari solusi yang lebih besar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir di wilayah USU. Pertama, intensitas hujan yang tinggi akibat perubahan iklim menyebabkan volume air melebihi kapasitas drainase dan kolam retensi. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di Medan meningkat sebesar 15% dalam lima tahun terakhir, yang berkontribusi terhadap peningkatan frekuensi banjir. Kedua, urbanisasi yang cepat di daerah sekitar USU telah mengurangi area resapan air. Penelitian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan bahwa 40% wilayah resapan di Medan telah berubah fungsi menjadi area terbangun, sehingga air hujan tidak dapat terserap optimal ke dalam tanah.

Untuk mengatasi masalah banjir ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pertama, pemerintah harus menyelesaikan proyek infrastruktur yang tertunda, seperti pembangunan jembatan di Sungai Babura, yang dapat membantu melancarkan aliran air dari kolam retensi ke sungai. Selain itu, kapasitas kolam retensi juga perlu dievaluasi dan mungkin ditingkatkan agar bisa menampung lebih banyak air.

Kedua, sistem drainase harus diperbaiki dan diperluas untuk mengakomodasi peningkatan curah hujan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbesar ukuran saluran drainase dan membersihkan saluran air secara rutin untuk mencegah penyumbatan. Pemerintah perlu bekerja sama dengan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat saluran air.

Ketiga, diperlukan usaha kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menerapkan IWRM. Pemerintah harus mengawasi implementasi kebijakan lingkungan dengan lebih ketat, terutama dalam hal tata ruang dan pengelolaan air. Sementara itu, masyarakat harus didorong untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengikuti program-program edukasi tentang pengelolaan air.

Kolam retensi yang ada di USU memang membantu mengurangi durasi banjir, tetapi belum cukup untuk mengatasi masalah banjir secara menyeluruh. Penyelesaian masalah ini memerlukan tindakan yang lebih menyeluruh, termasuk penyelesaian proyek infrastruktur, peningkatan kapasitas kolam retensi, perbaikan sistem drainase, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dalam perspektif manajemen sumber daya perairan, solusi yang efektif harus melibatkan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, di mana peran pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus berjalan seiring. Jika langkah-langkah ini tidak dilaksanakan dengan baik, banjir akan terus menjadi masalah berulang di sekitar USU.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.