
Oleh: Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Suara USU, Medan. Indonesia memiliki berbagai macam peninggalan sejarah dari Sabang sampai Merauke, baik dalam bentuk prasasti, properti kerajaan, maupun harta benda lainnya. Salah satu peninggalan sejarah yang paling menarik adalah alat pemutar musik instrumen bernama Komet. Alat pemutar musik ini hanya ada dua di dunia, dan salah satunya berada di Istana Asserayah Al-Hasyimiah, atau dikenal juga dengan Istana Siak, yang berlokasi di Kabupaten Siak, Riau.
Konon, alat musik bersejarah ini dibawa oleh Sultan Siak ke XI, Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil atau Sultan Syarif Hasyim, dari Jerman pada tahun 1896. Sultan Syarif Hasyim berkunjung ke Eropa dan membawa alat pemutar musik ini menggunakan kapal laut Wihelmina, karena pada masa itu belum tersedia jalur transportasi alternatif lainnya. Alat musik ini telah berusia sekitar 129 tahun dan memiliki bentuk menyerupai gramofon raksasa dengan badan kayu yang kokoh.
Komet bekerja dengan piringan baja berlubang yang menyimpan kode musik instrumen. Instrumen yang diputar pada alat musik ini merupakan karya-karya klasik dari komponis terkenal seperti Beethoven, Mozart, dan Strauss. Saat piringan baja tersebut diputar, akan terdengar nada-nada klasik dari alat musik tersebut. Di Siak, kode seri alat pemutar musik ini adalah 95132, sedangkan yang berada di Jerman memiliki kode seri 95131.
“Komet menggunakan kekuatan per untuk mengeluarkan suara musik. Piringan musiknya terbuat dari baja. Tidak menggunakan listrik atau baterai,” ujar H. Zaunuddin, pemegang kunci alat pemutar musik Komet saat ini. Diperkirakan, berat piringan baja tersebut mencapai 5 kg, dengan tinggi alat sekitar 3 meter dan lebar 90 cm, berbentuk menyerupai gramofon raksasa.
Meskipun alat pemutar musik ini telah berusia lebih dari 100 tahun, hanya orang-orang tertentu yang dapat mengoperasikannya, yaitu mereka yang memegang kunci Komet tersebut. Biasanya, pemegang kunci dipilih berdasarkan mandat yang ditetapkan melalui musyawarah.
Alat musik ini memang hanya ada dua di dunia, namun saat ini hanya satu yang masih berfungsi, yaitu Komet yang berada di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Siak Sri Indrapura, Riau. Kabarnya, Komet yang ada di Jerman telah rusak, sehingga menjadikan Komet di Siak sebagai satu-satunya yang masih aktif di dunia.
Walaupun Komet hanya diputar pada acara atau kepentingan tertentu, alat pemutar musik ini menjadi ikon dan bukti kejayaan peradaban Kerajaan Siak pada masa lampau. Komet juga menunjukkan bagaimana kerajaan Melayu tersebut memiliki hubungan dengan dunia luar.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment