
Reporter: Debora Gracia, Muhassanah Nasution
Suara USU, Medan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) berkolaborasi dengan Mindworks Lab dan “Kok Bisa?” menggelar acara Smart Future Talk dengan tema “Future of Consumption” pada Selasa, 30 September 2025 di Mikir Wijaya Hall. Acara ini menghadirkan Sambas Ade Kesuma SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA, selaku dosen S1 Akuntansi FEB USU dan Kepala Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik USU sebagai pemateri.
Future Talk ini sendiri merupakan program inisiasi Mindworks Lab yang dirancang sebagai ruang belajar dan diskusi untuk mendorong generasi muda berani mengambil langkah nyata menuju masa depan. Sebelumnya, program ini telah diselenggarakan secara daring dengan melibatkan sekitar 750 peserta dari berbagai kampus di Indonesia. Kemudian, Future Talk hadir dalam bentuk kolaborasi bersama BEM FEB USU melalui divisi Penelitian dan Pengembangan yang memiliki program “Smart”, sehingga melahirkan acara dengan tajuk “Smart: Future Talk”.
Tujuan pelaksanaan acara ini dengan mengangkat tema “Future of Consumption” adalah untuk menyoroti gaya konsumsi generasi muda yang saat ini cenderung berlebihan akibat fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Melalui tema tersebut, acara ini diharapkan mampu mendorong peserta menemukan solusi agar perilaku konsumsi berlebihan dapat diminimalisasi dan dikendalikan secara lebih bijak.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua BEM FEB USU, Axel Byron Sinaga, diikuti Silvia Aurelia selaku koordinator kolaborator Future Talk, serta Vensi Harefa sebagai Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan.
Dalam sambutannya, Silvia menegaskan bahwa masa depan generasi muda tengah menghadapi ancaman krisis, dan forum ini diharapkan dapat membantu mahasiswa menemukan peran masing-masing dalam menghadapi perubahan, khususnya di bidang konsumsi.
Sesi materi mengangkat realitas konsumsi modern yang kini tak hanya sebatas belanja, tetapi juga menjadi identitas dan gaya hidup. Fakta mengejutkan dipaparkan, yakni gaya hidup global saat ini menguras sumber daya setara 1,7 bumi per tahun, menurut World Economic Forum. Konsumsi berlebihan disebut meninggalkan jejak besar terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi, mulai dari limbah fast fashion, emisi logistik, hingga jebakan utang paylater.
Selain itu, pemateri menyoroti tantangan konsumsi digital seperti overconsumption, digital addiction, dan digital divide. Generasi muda, terutama Gen Z dan Alpha, juga disebut cenderung cepat bosan dan rentan FOMO, sehingga lebih memilih pola langganan ketimbang kepemilikan. Pola ini membuka peluang co-creation yang kreatif, tetapi juga memicu siklus konsumsi lebih cepat.
Mahasiswa juga diajak menjadi konsumen kritis sekaligus agent of change. Dengan kesadaran digital dan pola konsumsi yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan mampu membangun masa depan yang lebih inklusif sekaligus menjaga keberlangsungan bumi.
Setelah pemaparan materi, acara berlanjut ke sesi “Time to Talk”. Pada sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta menyampaikan pendapat mengenai kebiasaan konsumsi, gagasan konsumsi yang bijak, hingga ide bisnis yang berpotensi dikembangkan di masa depan.
Melalui wawancara, Silvia Aurelia selaku koordinator kolaborator Future Talk mengungkapkan harapannya setelah terlaksana kegiatan ini. “Harapan saya agar mahasiswa dan masyarakat umum bisa paham bahwa konsumsi di Indonesia memang besar dan perlu dibatasi, tetapi jangan karena membatasi konsumsi kita menjadi puasa. Selain itu, diharapkan juga kita sebagai mahasiswa bisa menjadi solusi untuk tantangan krisis di masa depan,” ujarnya.
Vensi Harefa selaku ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan BEM FEB USU, turut menyampaikan harapannya untuk seluruh mahasiswa yang berhadir. “Karena Smart itu sendiri adalah program pengembangan akademik, jadi kami ingin mengajak seluruh mahasiswa agar tercerahkan pemikirannya terkait konsumsi, karena konsumsi ini tentu mempengaruhi perekonomian Indonesia. Harapannya, dengan adanya materi yang mereka serap, mereka dapat menyebarkannya ke orang-orang sekitarnya serta mampu memberikan ide-ide inovasi terkait konsumsi yang baik,” jelas Vensi.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment