
Oleh: Hafizah Ramadhani, Innez Sholati, Fadila Rahma Batubara, Miranda Lumierta Trinity Siregar, Chelsea Yulia Amanda, Rifa Silfana, Intan Avrillia Permata Sari Simbolon, dan Zahra Syifana Mardotillah.
Suara USU, Medan. Krisis energi yang melanda Indonesia belakangan ini memunculkan efek domino yang luas. Kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) Shell sejak Agustus 2025 tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi masyarakat, tetapi juga mengguncang stabilitas dunia kerja. Di sejumlah SPBU Shell, khususnya di kawasan Jakarta Selatan, kelangkaan stok membuat operasional terhenti hingga berbulan-bulan. Akibatnya, puluhan pekerja kehilangan pekerjaan karena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Bagi karyawan yang sudah bertahun-tahun mengabdi, kehilangan penghasilan utama menjadi pukulan berat. Banyak yang masih harus membayar cicilan rumah, kendaraan, hingga biaya pendidikan anak. Tidak sedikit pula yang merasa kecewa karena pesangon yang diterima tidak sepadan dengan masa kerja mereka. Situasi ini menimbulkan keresahan, bukan hanya bagi para pekerja, tetapi juga masyarakat luas yang khawatir dengan lemahnya pengelolaan energi di dalam negeri.
Di tengah kondisi sulit tersebut, kehadiran pekerja sosial menjadi sangat penting. Pekerja sosial berperan bukan hanya sebagai pendamping emosional, tetapi juga sebagai educator yang membantu masyarakat terdampak menemukan jalan keluar. Edukasi yang diberikan tidak sekadar teori, melainkan juga berupa pelatihan keterampilan baru, penyuluhan manajemen keuangan, hingga pendampingan untuk memulai usaha mandiri. Peran ini sangat relevan karena pengangguran akibat PHK tidak bisa hanya diselesaikan melalui kebijakan makro pemerintah. Butuh intervensi langsung di tingkat individu dan komunitas. Melalui pelatihan keterampilan (reskilling dan upskilling), korban PHK bisa beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah. Misalnya, pelatihan barista, servis elektronik, hingga digital marketing kini banyak diminati karena bisa langsung diterapkan dalam usaha mandiri. Salah satu contoh nyata datang dari program Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM), yang memberikan pelatihan sekaligus pendampingan usaha bagi korban PHK. Program ini membuktikan bahwa dengan pendekatan edukatif, para pekerja yang awalnya kehilangan arah justru bisa bangkit sebagai pelaku usaha mandiri yang produktif.
Krisis energi ini memberi pelajaran bahwa ketahanan sosial-ekonomi masyarakat sangat bergantung pada kolaborasi. Pekerja sosial hadir sebagai garda terdepan, memastikan korban PHK tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bangkit dan mandiri. Dengan strategi yang tepat, pengangguran akibat PHK bisa ditekan, sementara ketahanan masyarakat di tengah krisis dapat terus diperkuat. Situasi ini sebenarnya dapat menjadi tamparan keras bagi kita semua, terutama pemerintah dan perusahaan energi. Selama ini kita terlalu bergantung pada bahan bakar fosil, padahal kenyataannya rapuh sekali – sekali pasokan terganggu, jutaan orang ikut merasakan dampaknya. Karena itu, sudah waktunya serius mencari jalan lain: mulai dari mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan, memastikan distribusi BBM lebih merata, sampai mengelola cadangan energi dengan cara yang jujur dan terbuka. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi menjadi korban utama setiap kali krisis energi datang.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Mata Kuliah Etika Pekerjaan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.Sp
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment