
Reporter: Sadrina Nasution
Suara USU, Medan. Tim Gloreen (Glow and Green) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih Juara 3 dalam ajang International Business Plan Competition (IESCO III) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Ibn Khaldun Bogor. Mereka mengusung ide bisnis inovatif berjudul “SADION: Smart Air Detection Application.”
Tim ini beranggotakan lima mahasiswa Program Studi Manajemen, yaitu Syakira Salsabila Herza (ketua), Adam Haikal Ardhy, Ahmad Syukri Siregar, Naila Maharani Damanik, dan Pangeran Hidayat Rambe. Aplikasi SADION dirancang untuk mendeteksi kualitas udara secara real-time, memungkinkan pengguna memantau kondisi udara kapan saja, serta menentukan waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar ruangan.
Model bisnis SADION menggunakan sistem freemium, dengan fitur dasar gratis dan fitur premium berbayar, seperti riwayat data, rekomendasi kesehatan, serta integrasi dengan perangkat IoT. Keunikan utama aplikasi ini adalah kemampuannya tidak hanya menyajikan data, tetapi juga memberikan solusi praktis dan bermanfaat bagi penggunanya.
Syakira menjelaskan, ide tersebut lahir dari keprihatinan terhadap polusi udara perkotaan yang semakin mengkhawatirkan. “Banyak masyarakat tidak menyadari bahaya kualitas udara buruk terhadap kesehatan. SADION hadir sebagai aplikasi berbasis teknologi hijau yang dirancang untuk mendeteksi kualitas udara secara real-time,” ujarnya.
Proses persiapan menuju kompetisi tidaklah mudah. Tim harus melakukan riset mendalam, menganalisis pasar, menyusun strategi, dan merancang proyeksi keuangan, semuanya di tengah kesibukan kuliah. “Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyederhanakan ide teknis kami agar mudah dipahami para juri. Kami juga harus pandai membagi waktu,” ungkap Syakira.
Tantangan lain adalah rasa gugup saat presentasi secara daring. Namun, dengan kekompakan dan dukungan tim, kendala tersebut berhasil diatasi. “Kami saling mendukung, sehingga semua berjalan lancar,” tambah Syakira.
Bagi tim Gloreen, gelar juara hanyalah bonus. Pengalaman kerja sama, kemampuan komunikasi, dan keberanian tampil di depan umum menjadi pembelajaran berharga. “Kami belajar bahwa ide yang bagus saja tidak cukup, cara menyampaikannya juga sangat menentukan. Kami juga jadi lebih terbuka dengan kritik dan saran yang justru mematangkan ide kami,” tutur Syakira.
Saat ini, SADION masih dalam tahap perencanaan dan pengembangan prototipe, namun tim bertekad mewujudkan aplikasi tersebut. “Harapannya, SADION bisa menjadi aplikasi yang berguna bagi masyarakat,” ujarnya.
Tim Gloreen juga berpesan agar mahasiswa lain berani mencoba dan berkompetisi. “Jangan merasa ide kita belum sempurna. Justru lewat kompetisi, kita bisa belajar dan berkembang. Menang itu bonus, yang terpenting adalah proses, pengalaman, dan relasi yang kita dapatkan,” tutup Syakira.
Prestasi ini menegaskan bahwa mahasiswa USU tidak hanya unggul di bidang akademis, tetapi juga mampu berinovasi dan bersaing di ranah bisnis, sekaligus memberi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berani berkarya.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment