Home Tempat Lawang Sewu, Jejak Sejarah di Balik Seribu Pintu
Tempat

Lawang Sewu, Jejak Sejarah di Balik Seribu Pintu

Share

Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi

Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah peninggalan masa Kolonial Belanda yang terletak di jantung Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung yang dibangun pada Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907 ini, awalnya digunakan sebagai kantor pusat administrasi kereta api di masa Kolonial Belanda. Kantor pusat administrasi kereta api ini dulunya bernama Het Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta. Masyarakat lokal kemudian memberi nama bangunan tersebut “Lawang Sewu” yang memiliki arti “Seribu Pintu” dalam bahasa Jawa karena bentuk bagunan yang memiliki banyak pintu dan jendela besar. Namun, jumlah pintu dan jendela bangunan ini tidak mencapai seribu, melainkan berkisar 928.

Bangunan ini dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam dengan ciri dominan berupa elemen lengkung yang sederhana. Bangunan ini didesain dengan dua lantai dan menyerupai huruf L. Banyaknya pintu dan jendela pada bangunan ini menyesuaikan dengan kondisi iklim Semarang pada kala itu, sehingga memperlancar pertukaran ventilasi udara dan memperoleh pencahayaan alami dari matahari.

Selain berfungsi sebagai pusat administrasi, Lawang Sewu juga menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Gedung ini merupakan salah satu lokasi pertempuran dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945. Kala itu, Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) berhadapan dengan tentara Jepang untuk mempertahankan aset negara setelah proklamasi kemerdekaan.

Sebelumnya, bangunan ini juga sempat menjadi Kantor Ryuku Sakyoku (Jawatan Transportasi Jepang) oleh Jepang pada tahun 1942-1945 setelah Belanda mundur dari menjajah Indonesia. Jepang tidak hanya menggunakan Lawang Sewu sebagai kantor transportasi, tetapi juga menggunakan ruang bawah tanah yang semula digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan air untuk sistem pendingin ruangan yang diubah menjadi penjara bawah tanah bagi tahanan Kenpetai sebagai penjara untuk eksekusi mati oleh tentara militer Jepang.

Tidak hanya itu, bagian belakang gedung yang memiliki sebuah lubang pembuangan digunakan sebagai penghubung ruang bawah tanah dengan halaman belakang gedung. Lubang ini juga digunakan untuk membuang jenazah tahanan yang tewas di dalam penjara. Maka dari itu, tak heran apabila kesan angker menyertai bangunan ini. Beberapa masyarakat lokal bahkan mengaku pernah terjadi hal mistis di Lawang Sewu, seperti mendengar suara jeritan orang yang sedang disiksa dari ruangan bawah tanah serta melihat sosok noni-noni Belanda yang diyakini mendiami Lawang Sewu.

Meski demikian, kini bangunan Lawang Sewu telah direvitaliasi oleh pemerintah untuk menghapus persepsi masyarakat terkait hal-hal mistis dan untuk menarik perhatian banyak wisatawan. Proses revitalisasi Lawang Sewu melibatkan perbaikan struktur bangunan, penataan ulang interior, serta penyediaan fasilitas modern bagi pengunjung. Tidak sekadar diperbaiki, Lawang Sewu juga mengalami transformasi menjadi destinasi wisata modern yang menawarkan pengalaman unik bagi para wisatawan. 

Saat ini, Lawang Sewu dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia dan difungsikan sebagai museum yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia, seperti koleksi Alkmaar, mesin Edmonson, Mesin Hitung, Mesin Tik, Replika Lokomotif Uap, serta Surat Berharga. Gedung Lawang Sewu juga menyajikan proses pemugaran gedung yang terdiri dari foto, video, dan material restorasi. Mendekati pintu keluar, terdapat perpustakaan berisikan buku-buku terkait kereta api.

Lawang Sewu juga telah dilengkapi dengan teknologi digital seperti aplikasi pemandu wisata berbasis AR (Augmented Reality) yang memungkinkan pengunjung menjelajahi bangunan dengan cara yang interaktif. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang ingin menikmati wisata edukatif dengan cara yang lebih modern dan menyenangkan. Selain menjadi tempat wisata sejarah, Lawang Sewu juga dapat disewa untuk kegiatan pameran, ruang pertemuan, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, pentas seni, workshop, dan lainnya.

Keindahan bangunan Lawang Sewu yang memukau sangat cocok untuk menjadi latar pemotretan. Desain bangunannya yang unik dan bergaya Hindia Belanda, membuat setiap sudut Lawang Sewu tampak menawan. Revitalisasi ini juga memberikan peluang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi, seperti penjualan suvenir, kuliner, hingga jasa pemandu wisata. Hal ini menunjukkan bahwa revitalisasi Lawang Sewu tidak hanya berhasil melestarikan warisan budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.